KESELAMATAN PESAWAT UAP DAN BEJANA DENGAN BAHAYA PELEDAKAN

A. Latar Belakang Pesawat Uap dan Bejana Tekan

Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure).

Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.

Objek pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
1. Pesawat Uap
– Ketel Uap
– Ketel Air Panas
– Ketel Vapour
– Pemanas Air
– Pengering Uap
– Penguap
– Bejana Uap
– Ketel Cairan Panas
2. Bejana Tekan
– Bejana Transport
– Bejana Penyimpan Gas
– Bejana Penimbun
– Pesawat/Instalasi Pendingin
– Botol Baja
– Pesawat Pembangkit Gas Asetilin
3. Instalasi Pipa
– Instalasi Pipa Gas
– Instalasi Pipa Uap
– Instalasi Pipa Air
– Instalasi Pipa Cairan
4. Operator Pesawat Uap, Juru Las dan Perusahaan Jasa Teknik

B. Dasar Hukum Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan

  1. Yang menjadi dasar hokum pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan, adalah;
    1. Undang-Undang Uap Tahun 1930
    2. Peraturan Uap Tahun 1930
    3. Undang-Undang No.1 Tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja.
    4. Permen No. 01/Men/1982 tentang Bejana Tekan
    5. Permen No.01/Men/1982 Tentang Klasifikasi Juru Las
    6. Permen No.01/Men/1988 tentang Klasifikasi dan Syarat-syarat Operator Pesawat Uap.
  2. Ruang Lingkup Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
    Meliputi kegiatan perencanaan, pembuatan, pemasangan atau perakitan, modifikasi atau reparasi dan pemeliharaan.
    Lingkup pengawasan meliputi;
    1. Pertimbangan-Pertimbangan Desain, mencakup prinsip-prinsip desain termasuk gambar konstruksi, data ukuran-ukuran, gambar teknik, pelaksanaan pembuatan dan pengujian
    2. Spesifikasi Bahan, yaitu bahan yang digunakan harus memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku serta standard penggunaan bahan serta mempunyai sertifikat bahan.
    3. Metode Konstruksi, yaitu pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan metode pengelasan dan pengelingan.
    4. Penempatan Ketel Uap,yaitu; bahwa ketel uap harus ditempatkan dalam suatu ruangan atau bangunan tersendiri yang terpisah dari ruangan kerja . Jarak ruangan operator ketel uap harus aman sesuai ketentuan.
    Penggolongan Ketel Uap;
    1. Menurut tempat penggunaannya;
    – Ketel uap darat tetap
    – Ketel uap darat berpindah
    – Ketel uap kapal
    2. Menurut bangunan letak sumbu silinder ketel
    – Ketel uap tegak
    – Ketel uap datar
    3. Menurut tipe dan bentuk konstruksi serta aliran panas
    – Ketel uap tangki
    – Ketel uap pakai boiler
    – Ketel uap dengan lorong api
    Penggolongan bejana uap;
    1. Menurut fungsinya
    – Bejana uap
    – Pengering uap
    – Penguap
    – Pemanas air
    2. Menurut Operasinya
    – Bejana tertutup, misal; Autoclaves, Digester, Distilling apparatus
    – Bejana terbuka, misal; Open Steam Jacketed kettles, Open evaporating pans.
    Perbedaan antara ketel uap dan bejana uap adalah pada fungsi dari pada operasinya, ketel uap adalah sebagai pengahil uap sedangkan bejana uap adalah penampung uap yang dihasilkan.
    Perawatan Ketel Uap, adalah merupakan suatu usaha untuk mempertahankan kinerja ketel uap sesuai dengan peruntukkanya. Kita menyadari bahwa ketel uap dapat menimbulkan peledakan, korban manusia dan harta benda yang tidak kita inginkan. Usaha-usaha yang perlu dilakukan adalah;
    1. Melakukan pembersihan sisi luar
    2. Melakukan pembersihan sisi dalam
    3. Pengolahan air pengisi ketel uap;
    – Pengolahan diluar ketel
    – Pengolahan didalam ketel
    4. Reparasi Ketel Uap, yaitu melakukan penggantian spare part/bagian untuk mempertahankan kinerja ketel.
    Sedangkan dalam hal pengoperasian pesawat uap, harus dilakukan pendidikan dan pelatihan terhadap operator dan pendidikan lainnya yang terkait.

C. Alat pengaman Pesawat Uap dan Bejana Tekan

  1. Mencakup beberapa hal, yaitu;
    1. Peralatan-peralatan Bantu Ketel Uap
    a. Tingkap pengaman
    b. Pedoman tekanan
    c. Gelas pedoman air
    d. Alat tanda bahaya
    e. Kran penutup uap induk
    f. Kran penutup air pengisi
    g. Kran penguras
    h. Pelat nama
    2. Fungsi
    a. Alat pengaman pesawat uap ialah setiap alat yang dipasang pada pesawat dan berfunsi agar pesawat dapat dipakai secara aman.
    b. Tingkap pengaman berfungsi untuk melepaskan tekanan dan tingkap pengaman harus mudah digerakkan bibir-bibir pengantar klepnya dengan tangan, jenisnya yaitu antara lain;
    – Tingkap pengaman dengan pegas
    – Tingkap pengaman dengan beban
    c. Pedoman tekanan (Manometer) adalah suatu alat pengukur tekanan dari suatu medium berbeda dalam satu ruangan.
    d. Gelas pedoman air berfungsi untuk mengetahui tinggi kolom air yang ada dalam ketel uap.
    e. Alat pengontrol otomatis berfungsi untuk mengetahui kondisi air dalam ketel uap
    f. Tanda batas air terendah berfungsi untuk mengetahui ketinggian air dalam ketel
    g. Kerangan atau katup berfungsi untuk memasukkan atau mengeluarkan air pada ketel uap
    h. Lubang pemeriksaan berfungsi untuk akses pemeriksaan dalam ketel uap
    i. Pelat nama dipasang pada ketel uap dan berisi, antara lain; identitas nama, pabrik pembuat, atau spesifikasi teknis lainnya.
    Pada tingkap pengamanan, syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah;
    a. Pada saat bekerja dengan kecepatan maksimum saat tekanan tertinggi tekanan kerja, tidak akan meningkat lebih 10 % dari tekanan kerja yang diperbolehkan
    b. Harus mudah digerakkan dan dicapai oleh tangan terkait dengan pengoperasinnya.
    Secara umum, pada pesawat uap dan bejana tekan terdapat pedoman tekanan, yaitu;
    a. Harus mempunyai harga tekana yang sesuai dengan tekanan kerja pesawatnya. Batas terendah tidak kurang dari ¼ tekanan kerja dan tidak lebih dari 2X tekana kerjanya
    b. Harus mempunyai angka-angka yang jelas dan mudah dibaca dengan tanda maximum yang diperbolehkan.

    D. Pemeriksaan dan Pengujian Pesawat Uap dan Bejana Tekan
    1. Jenis pemeriksaan dan pengujian berdasarkan peraturan perundang-undangan.
    2. Pemeriksaan dan pengujian dalam proses pembuatan
    – Pemeriksaan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pembuatan
    – Pemeriksaan bahan baku/material yang akan digunakan untuk pembuatan unit atau komponen (pemeriksaan awal)
    – Pemeriksaan pada saat dan atau pada akhir pekerjaan pembuatan unit atau komponen
    – Pengujian
    – Pembuatan data teknik pembuatan dan laporan pengawasan pembuatan unit atau komponen.
    3. Pemeriksaan dan pengujian pertama
    – Pemeriksaan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pemasangan dana atau pemeriksaan
    – Pemeriksaan unit atau komponen
    – Pemeriksaan teknis menyeluruh saat perakitan dan akhir perakitan
    – Pengujian-pengujian
    – Pencatatan pada Buku Akte Ijin Pemakaian
    4. Pemeriksaan dan pengujian berkala
    – Pengecekan dokumen teknik terkait syarat pemakaian
    – Pemeriksaan kondisi fisik serta perlengkapannya
    – Pembuatan laporan pemeriksaan dan atau pengujian berkala atau pemeriksaan khusus
    – Pencacatan pada buku Akte Ijin Pemakaian
    5. Pemeriksaan khusus (modifikasi/reparasi)
    a. Pemeriksaan kondisi fisik pesawat uap yang akan dilakukan reparasi/modifikasi
    b. Pemeriksaan dokumen teknik terkait dengan syarat pekerjaan
    c. Pemeriksaan pada saat dan akhir pekerjaan
    d. Pengujian seperlunya
    e. Pembuatan laporan pemeriksaan dan pengujian
    f. Pencatatan pada buku akte
    Selain itu terdapat pula pemeriksaan dan pengujian pada saat terjadi pekerjaan relokasi/rekondisi pesawat uap. Dan seluruh tahapan kegiatan pekerjaan yang terkait dengan pesawat uap harus mendapatkan ijin dan pengesahan dari pihak yang terkait, misal; ijin pemakaian (baru) dan Mutasi ijin pemakaian karena penjualan atau jenis pesawat uap berpindah.
    Seluruh kegiatan terkait dengan pemeriksaan dan pengujian kemudian diatur dalam suatu prosedur standar mulai dari tahap awal hingga akhir, yaitu;
    a. Prosedur pemeriksaan dan pengujian pada tahap pembuatan
    b. Prosedur pemeriksaan dan pengujian pada tahap perakitan atau pemasangan
    c. Prosedur pada tahapan pemakaian (pemeriksaan berkala atau khusus)
    d. Prosedur pemeriksaan dan pengujian berkaitan dengan reparasi dan modifikasi
    e. Prosedur pemeriksaan dan pengujian berkaitan dengan perakitan pemasangan karena pemindah pesawat uap

    E. Prosedur penerbitan ijin pemakaian pesawat uap baik baru atau mutasi
    Kegiatan pemeriksaan dan pengujian mencakup beberapa tahap, yaitu;
    a. Pemeriksaan data
    b. Pemeriksaan visual dengan menggunakan checklist terhadap seluruh komponen dan dimention check / ketebalan
    c. Pemeriksaan tidak merusak terhadap sambungan las
    d. Hydrostatis test dan steam test
    1. Persyaratan Keselamatan Kerja dan Ketentuan Teknis Pelaksana Kegiatan Pemeriksaan dan Pengujian serta Penerbitan Ijin Pemakaian Pesawat Uap
    a. Persyaratan keselamatan Kerja terkait dengan pesawat uap harus mematuhi perundang-undangan, yaitu; Undang-undang No.1 Tahun 1970, Undang-undang Uap 1930, Peraturan Uap 1930, Peraturan Menteri No.02/Men/1982/1982 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta standar teknis pendukungnya.
    b. Ketentuan-ketentuan tersebut, meliputi;
    – Kualitas konstruksi, pemipaan, sarana penunjang
    – Kualitas dan kuantitas alat perlengkapan/alat pengaman
    – Kualifikasi perusahaan pembuat, perakit/pemasang, reparator, perawatan, dan operator pesawat uap
    – Ketentuan pemeriksaan dan pengujian
    – Ketentuan teknis pesawat uap yang tidak perlu ijin
    – Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis pesawat uap, pemipaan, sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan perijinan
    2. Persyaratan Keselamatan Kerja dan Ketentuan Teknis Pelaksana Kegiatan Pemeriksaan dan Pengujian serta Penerbitan Ijin Pemakaian Bejana Tekan
    a. Persyaratan Keselamatan Kerja terkait dengan bejana tekan, harus mematuhi peraturan, yaitu; Undang-undang No.1 Tahun 1970, Peraturan Menteri No. Per.01/Menn/1982 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta standar teknis pendukungnya.
    b. Ketentuan-ketentuan yang dimaksud tersebut diatas, meliputi;
    – Ketentuan tentang kualitas konstruksi bejana tekan, pemipaan dan sarana penunjangnya
    – Ketentuan tentang kualitas dan kuantitas alat perlengkapan / alat pengaman
    – Ketentuan tentang kualifikasi perusahaan pembuat, perakit, pemasang, reparator, perawatan dan operator bejana tekan
    – Ketentuan teknis pemeriksaan dan pengujian
    – Ketentuan teknis bejana tekan yang tidak perlu pengesahan pemakaian
    – Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis bejana tekan, pemipaan, sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan pengesahan pemakaian.

    F. Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
    Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure).
    Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.
    Objek pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
    1. Pesawat Uap
    – Ketel Uap
    – Ketel Air Panas
    – Ketel Vapour
    – Pemanas Air
    – Pengering Uap
    – Penguap
    – Bejana Uap
    – Ketel Cairan Panas
    2. Bejana Tekan
    – Bejana Transport
    – Bejana Penyimpan Gas
    – Bejana Penimbun
    – Pesawat/Instalasi Pendingin
    – Botol Baja
    – Pesawat Pembangkit Gas Asetilin
    3. Instalasi Pipa
    – Instalasi Pipa Gas
    – Instalasi Pipa Uap
    – Instalasi Pipa Air
    – Instalasi Pipa Cairan
    4. Operator Pesawat Uap, Juru Las dan Perusahaan Jasa Teknik

 

Pengawasan tidak hanya pada produk namun diawali dari proses produksi atau pembuatan pesawat uap dan bejana tekan yang banyak dilakukan proses pengelasan, pengujiaan produk hingga penerbitan ijin pemakaian pesawat uap dan bejana tekan.Suatu ketel harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Harus hemat dalam pemakaian bahan bakar. Hal ini dinyatakan dalam rendemen atau daya guna ketel.
  2. Berat ketel dan pemakaian ruangan pada suatu hasil uap tertentu harus kecil.
  3. Paling sedikit harus memenuhi syarat-syarat dari Direktorat Bina Norma Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.

Sumber bahaya pada pesawat uap terutama akibat dari pada :

  1. Bila manometer tidak berfungsi dengan baik, atau bila tidak dikalibrasi dapat menimbulkan peledakan karena si operator tidak mengetahui tekanan yang sebenarnya dalam boiler dan alat lain tidak berfungsi.
  2. Bila safety valve tidak berfungsi dengan baik karena karat atau sifat pegasnya menurun.
  3. Bila gelas duga tidak berfungsi dengan baik yang mana nosel-noselnya atau pipa-pipanya tersumbat oleh karat sehingga jumlah air tidak dapat terkontrol lagi.
  4. Bila air pengisi ketel tidak memenuhi syarat
  5. Bila boiler tidak dilakukan blow down dapat menimbulkan scall atau tidak sering dikunci.
  6. Terjadi pemanasan lebih karena kebutuhan produksi uap
  7. Tidak berfungsinya pompa air pengisi ketel
  8. Karena perubahan tak sempurna atau rouster, nozel fuel tidal berfungsi dengan baik.
  9. Karena umur boiler sudah tua sehingga material telah mengalami degradasi kualitas.

Dalam proses pembuatannya perlu dilakukan pemilihan material yang tahan korosi bila terlalu mahal atau tidak ada di pasaran maka dapat dipilih material dengan laju korosi yang paling lambat namun perlu dilakukan inspeksi secara berkala untuk menghindari terjadinya kebocoran atau ledakan.

SUMBER :

http://ilhamnurfajar13.blogspot.com/2015/06/keselamatan-pesawat-uap-dan-bejana.html

http://hseindonesia.info/2014/11/26/pengawasan-k3-pesawat-uap-dan-bejana-tekan/

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s