KELISTRIKAN DAN KESELAMATAN LIFT

  1. PENDAHULUAN

Listrik adalah satu bentuk sumber daya atau energi potensialyang dapat memberikan banyak manfaat untuk menunjang aktifitas di berbagai sektor kegiatan.  Daya listrik dapat dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak mekanik, pemanas, pencahayaan dan lain sebagainya.  Disisi lain listrik dapat menimbulkan bahaya atau bahkan bencana yang merugikan, apabila perancangan, pemasangan, pemanfaatan system tenaga listrik tidak mengikuti kaidah-kaidah teknik kelistrikan  Setiap peralatan dan pesawat yang digerakkan dengan tenaga listrik, diperlukan pengamanan yang memadai guna melindungi Instalasinya atau peralatan itu sendiri dan pengamanan terhadap operatornya.  Petiratau halilintar adalah phenomena muatan listrik yang terjadi dari alamiah. Sampai saat sekarang, petir walaupun memiliki tegangan dan arus yang sangat besar belum dapat dimanfaatkan energinya.  Arus dan tegangan petir yang sangat besar itu sangat berbahaya.  Sehingga peran dari K3 dibidang listrik,meliputi pengamanan terhadap tiga aspek yaitu sumber listrik sampai kepemakaian termasuk kontrollift, dan instalasi penyalur petir, mulai dari tahapperancangan, pemasangan dan dalam pemanfaatannya sesuai dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundangan dan standar yang berlaku.

 

  1. Instalasi listrikadalah jaringan yang tersusun secara terkoordinasi mulai dari sumber pembangkit atau titik sambungan suplai daya listrik sampai titik beban akhir sesuai maksud dan tujuan penggunaannya.PLN yang ditunjuk oleh pemerintah selaku pemegang kuasa usahapenye-lenggara dan pemasuk tenaga listrik kepada masyarakat luas.  Gambar 1menunjukkan system jaringan tenaga listrik, mulai dari pembangkitan sampai pemakaian.

 

  1. Perlengkapan listrikadalah sarana yang diperlukan dalam rangkaian instalasi listrik, misalnya pengendali, fiting, sakelar dan sejenisnya.
  2. Peralatan listrikadalah semua jenis alat, pesawat, mesin dan sejenisnya yang digerakkan dengan tenaga listrik.  Contoh: lift, escalator, mesinlas, lemari es, seterika dan sejenisnya adalah termasuk peralatan listrik.
  3. Besaran listrikadalah besaran-besaran listrik yang harus dipahamiantara lain: Tegangan (Volt), arus (Ampere), frequensi (Hertz), daya (Watt), resistansi (Ohm).
  4. System klasifikasi tegangan :
  • Tegangan Ekstra Tinggi (TET)>
  • Tegangan tinggi (TT)    > 35 kV
  • Tegangan Menengah (TM)> 1 kV -35 kV
  • Tegangan Rendah (TR)          < 1000 Volt – 50 Volt
  • Tegangan ekstra rendah         < 50 Volt
  1. Tegangan domestikadalah tegangan suplai kepada pelanggan 220/380 Volt, yang artinya nilai tegangan antara phasadengan netral 220 Volt dan antara phasa dengan phasa 380 Volt.

R-S   = 380 V;                     R-T    = 380 V;         S-T    = 380 V

R-N   = 220 V,                     S-N   = 220 V;         T-N    = 220 V

GB 2

Gambar 1 Sistem jaringan 4 kawat dan 5 kawat

  1. Bahaya sentuhan listrikadalah sentuhan yang dapat membahayakan manusia.  Nilai tegangan dan arus listrik yang dapat mengakibatkan kematian adalah sebagai berikut :

 

t (detik)           1,0       0,8       0,6       0,4       0,3       0,2

E (Volt)           90        100     110     125     140     200

I (mA)              180     200     250     280     330     400

  1. Bahaya sentuh langsungadalah menyentuh pada bagian konduktif yang secara normal bertegangan
  2. Bahaya sentuh tidak langsungadalah menyentuh pada bagian konduktif yang secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan karena adanya kebocoran isolasi;

 

  1. DASAR HUKUM

Listrik, lift maupun petir adalah merupakan bentuk dari sumber bahaya yang perlu dikendalikan sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 1 th 1970

Ruang lingkup obyek pengawasan K3 listrik

  1. Ruang lingkup obyek pengawasan K3 listrik tersirat dalam Bab II Pasal 2 ayat (2) huruf q UU 1/70, yaitu tertulis: disetiap tempat dimana dibangkitkan, diubah, dikumpulkan disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik, gas, minyak atau air.

Dari ketentuan tersebut dapat digambarkan ruang lingkup K3 listrik, yaitu mulai dari pembangkitan, jaringan transmisi Tegangan Ekstra Tinggi (TET), Tegangan Tinggi (TT), Tegangan Menengah (TM) dan jaringan distribusi Tegangan Rendah (TR) sampai dengan setiap tempat pemanfaatannya, khususnya tempat kerja.

 

GB 3
gambar 2. Alur Jaringan Instalasi Listrik

  1. Memperhatikan Pasal 3 ayat (1) huruf q UU 1/70 tertulis : Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat K3 untuk mencegah terkena aliran listrik berbahaya.  Menurut ketentuan PUIL 2000 listrik yang berbahaya adalah listrik yang memiliki tegangan lebih dari 50 Volt ditempat yang normal.

 

  1. POTENSI BAHAYA LISTRIK

Arus listrik antara 15 – 30 mA sudah dapat mengakibatkan kematian, karena sudah tidak mungkin lagi untuk melepaskan pegangan yang teraliri arus listrik.  Pengaruh-pengaruh lain dari arus listrik yang mengalir melalui tubuh manusia ialah panas yang ditimbulkan dalam tubuh, dan pengaruh elektrokimia.  Tegangan yang dapat dianggap aman juga ada kaitannya dengan tahanan kulit manusia.  Untuk kulit yang kering tahanan ini berkisar antara 100 – 500 kilo Ohm.

Tetapi kulit yang basah, misalnya karena keringat dapat memiliki tahanan sampai serendah 1 Kohm.Juga luas permukaan kulit yang menyentuh ikut mempengaruhi.  Akibat sentuh langsung maupun sentuh tidak langsung dapat mengakibatkan kecelakaan serta kerugian.

Kecelakaan akibat listrik dapat mengakibatkan :

  1. Kecelakaan pada manusiabisamengakibatkan cedra atau kematian.

b.Kerusakan instalasi serta perlengkapannyadapat mengakibatkan kabel terbakar, panel terbakar, kerusakan isolasi dan kerusakan peralatan.

  1. Terjadinya kebakaran bangunan beserta isinya

SISTEM PROTEKSI BAHAYA LISTRIK

Pada dasarnya bahaya listrik yang dapat menimpa manusia disebabkan oleh :

  1. Bahaya Sentuh Langsung

Yang disebut dengan sentuh langsung adalah sentuh langsung pada bagian aktif perlengkapan atau instalasi listrik.  Bagian aktif perlengkapan atau instalasi listrik adalah bagian konduktif yang merupakan bagian dari sirkit listriknya yang dalam keadaan pelayanan normal, umumnya bertegangan dan atau dialiri arus listrik.

Bahaya sentuh langsung dapat diatasi dengan cara

  1. Proteksi dengan isolasi bagian aktif
  2. Proteksi dengan penghalang atau selungkup
  3. Proteksi dengan penempatan di luar jangkauan
  4. Proteksi tambahan dengan Gawai Pengaman Arus Sisa
  5. Bahaya Sentuh Tidak Langsung

Yang dimaksud dengan sentuh tidak langsung adalah sentuh pada BKT perlengkapan atau instalasi listrik yang menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi.  BKT perlengkapan atau instalsi listrik adalah bagian konduktif yang tidak merupakan bagian dari sirkit listriknya yang dalam pelayanan normal tidak bertegangan, tetapi dapat menjadi bertegangan.

Proteksi dari sentuh tidak langsung (dalam kondisi gangguan) dapat dengan cara :

  1. Proteksi dengan pemutusan suplai secara otomatis.
  2. Proteksi dengan penggunaan perlengkapan kelas II atau dengan isolasi ekivalen.
  3. Proteksi dengan lokasi tidak konduktif.
  4. Proteksi dengan ikatan penyama potensial local bebas bumi.
  5. Proteksi dengan separasi listrik.

Kerugian akibat kecelakaan listrik dapat berupa :

  1. Karugian materi (dalam rupiah) akibat rusaknya instalasi, bengunan beserta isinya.
  2. Terhentinya proses produksi.
  3. Mengurangi kenyamanan, misalnya lampu padam, AC mati, suplai air terganggu dan lain-lain.

 

POTENSI BAHAYA PETIR

Ruang lingkup obyek pengawasan system proteksi petir sesuai Permanaker No Per-02/Men/1989 adalah:  Dipasang disetiap tempat kerja, hanya untuk konvensional dan system elektro staticdapatdiatur.  Sambaran langsung seperti ilustrasi gambar 5 adalah pelepasan listrik dari awan kebumi melalui obyek yang tertinggi. Obyek yang dilalui arus petir tadi adalah tersambar petir secara langsung selanjutnya akan menyebar kebumi kesegala arah hingga netral. Obyek yang tersambar dan dialiri arus dan tegangan petir akan merasakan pengaruh secara langsung yaitu suhu yang sangat panas mencapai 30.000⁰ C, tegangan dan kuat arus yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan secara fisik.

Penyebaran arus dan tegangan petir didalam bumi akan menyebar ke berbagai penjuru. Kemungkinan dari itu dapat dirasakan oleh grounding instalasi listrik pada bangunan itu sehingga penghantar bumi bertegangan petir yang akibatnya terjadi beda potensial pada jaringan instalasi listrik R,S,T bertegangan 220 V sedangkan Penghantar pengaman dan penghantar Netral bertegangan petir.  Ini yang disebut dengan sambaran tidak langsung yang dapat merusak peralatan listrik dan peralatan elektronik yang ada di dalam bangunan itu. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No Per02/Men/1989 tidak mengatur syarat-syarat system proteksi sambaran petir tidak langsung.

Petir adalah pelepasan muatan listrik dari awan ke awan atau dari awan ke bumi,

GB 4

gambar 3.  Proses pelepasan muatan listrik alam

 

Sasaran sambaran petir adalah obyek yang paling tinggi. Obyek yang tersambar petir akan merasakan adanya arus petir sebesar 5.000 – 10.000 Ampere dan panas mencapai 30.000 °C.  Sehingga dampak yang terjadi pada obyek yang tersambar petir akan terjadi kerusakan mekanis, terbakar, atau kerusakan karena fluktuasi arus dan tegangan petir.

SISTEM PROTEKSI BAHAYA PETIR

System proteksi eksternal adalah system proteksi terhadap sambaran langsung dengan caramemasang konduktor dibagian atas obyek yang dilindungi disebut dengan instalasi penyalur petir. Instalasi Penyalur Petir Permenaker PER-02 MEN 1989

  1. Elektroda penerima harus dibuat runcing, dengan ketinggian dan jarak tertentu sehingga masing-masing elektroda penerima melindungi bangunan dengan sudut perlindungan 112⁰
  2. Hantaran penurunan dan elektroda pembumian minimal 2 buah pada setiap bangunan dan harus dipasang sejauh mungkin dari pintu bangunan.
  3. Resistans pembumian minimal 5 Ohm. Apabiladari hasil pengukuran resistan pembumian tidak memenuhi syarat akan dapat mengundang bahaya, yang disebut tegangan langkah seperti diuraikan di atas.

System instalasi proteksi petir dapat memanfaatkan kolom-kolom gedung bertingkat tinggi.Sedangkan pembumiannya menggunakan tiang pancang pada kolom-kolom tersebut. Tentu saja sambungan-sambungan antar kolom besi betonnya harus berhubungan secara elektrik.

 

b). Penanggulangan kebakaran akibat instalasi listrik dan petir

  • Buat instalasi listrik sesuai dengan peraturan yang berlaku antara lain PUIL-2000 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik-2000)
  • Gunakan sekering/MCB sesuai dengan ukuran yang diperlukan.
  • Gunakan kabel yang berstandar keamanan baik (LMK/SPLN)
  • Ganti kabel yang telah usang atau cacat pada instalasi atau peralatan listrik lainnya
  • Hindari percabangan sambungan antar rumah
  • Hindari penggunaan percabangan pada stop kontak
  • Lakukan pengukuran kontinuitas penghantar, tahanan isolasi, dan tahanan pentanahan secara berkala
  • Gunakan instalasi penyalur petir sesuai dengan standar

c). Penanggulangan Kecelakaan di dalam Lift

  • Pasang rambu-rambu & petunjuk yang mudah dibaca oleh pengguna jika terjadi keadaan darurat (listrik ter-putus atau padam, kebakaran, gempa).
  • Jangan memberi muatan lift melebihi kapasitas-nya
  • Jangan membawa sumber api terbuka di dalam lift
  • Jangan merokok dan membuang puntung rokok di dalam lift
  • Jika terjadi pemutusan aliran listrik, maka lift akan berhenti di lantai terdekat dan pintu lift segera terbuka sesaat setelah berhenti. Segera keluarlah dari lift dengan hati-hati.

 

POTENSI BAHAYA LIFT

Sistem pengawasan lift diatur dalam Permen 03/99 karena lift digunakan untuk mengangkut orang dan barang.  Lift adalah sarana transfortasi vertical, dengan tenaga penggerak motor  listrik dan dikendalikan secara otomatik melalui system control elektrik.  Sangkar lift menggantung pada tali baja, disisi sebelahnya menggantung bobot imbang (counter wight) agar motor (M) bekerja ringan. Sangkar dan bobot imbang bergerak naik- turun mengikuti rel Lift dilengkapi beberapa alat pengaman (safety device) yang bekerja otomatik.

GB 8

Gambar 4 Konstruksi Lift

 

Pengaturan system kerja lift antara lainPintu sangkar lift akan membuka atau menutup otomatik bersama pintu pada lantai pemberhentian.  Pintu hanya akan membuka setelah sangkar berhenti sempurna, dan sangkar akan mulai bergerak naik/turun setelah pintu menutup sempurna.  Apabila sangkar berjalan melampaui kecepatan tertentu, rem pengaman akan bekerja otomatik.

Jenis-jenis bahaya yang mungkin dapat terjadi antara lain:

  1. Apabila ada gangguan suplai daya listrik, lift akan berhenti dan penumpang lift tidak dapat keluar tanpa dibantu dari luar ;
  2. Apabila terjadi kegagalan pada system kontrolnya;
  3. Apabila tali baja putus dan rem tidak berfungsi; dll

 

 

  1. PENGENDALIAN K3 LIFT

Setelah pesawat lift selesai dipasang dan telah memiliki surat ijin pemakaian lewat serangkaian riksa uji, maka pesawat lift tersebut layak untuk digunakan. berikut ini hal-hal yang perlu dilaksanakan agar pengoperasian pesawat lift dapat berjalan dengan baik dan aman (setiap saat).

  • Pengoperasian dikelola dan diawasi oleh teknisi yang kompeten dan memiliki SIO sebagai penyelia pengawas operasi lift.
  • Dipergunakan dan dioperasikan dengan benar
  • Dirawat dan diperbaiki secara benar oleh teknisi yang kompeten dan memiliki SIO perawatan dan perbaikan
  • Memiliki manajemen kondisi darurat

GB 9

Dasar Pertimbangan teknis penetapan Peraturan K3 Lift (Menteri Tenaga Kerja No Per 03/Men/1999) adalah bahwa Pesawat Lift dinilai mempunyai potensi bahaya tinggi.  Pasal 25.  Pengurus yang membuat, memasang, memakai pesawat lift dan perubahan teknis maupun administrasi harus mendapat ijin dari Menteri atau pejabat yang ditunjuknya.

Pasal 24 Ayat (1).  Pembuatan dan atau pemasangan lift harus sesuai dengan gambar rencana yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk.  Pasal 24 Ayat (2).  Dokumen perencanaan:

  1. Gambar konstruksi lengkap
  2. Perhitungan kontruksi
  3. Spesifikasi dan sertifikasi material

Pasal 24 Ayat (3).  Proses pembuatannya harus memenuhi SNI atau Standar internasional yang diakui.Sedangkan pasal 24 Ayat (4).  Ijin pemasangan lift:

  1. Gambar rencana pemasangan lift terdiri :
  2. Denah ruang mesin dan peralatannya
  3. Konstruksi mesin dan penguatannya
  4. Diagram instalasi listrik
  5. Diagram pengendali
  6. Rem pengaman
  7. Bangunan ruang luncur dan pintu-pintunya
  8. Rel pemandu dan penguatannya
  9. Konstruksi kereta
  10. Governor dan peralatannya
  11. Kapasitas angkut, kecepatan, tinggi vertical
  12. Perhitungan tali baja

Pasal 30 Ayat (1).  Pemeriksaan dan Pengujian Lift, setiap lift sebelum dipakai harus diperiksa dan diuji sesuai standar uji yang ditentukan

 

Sumber: http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/listrik-electro/1494-penerapan-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-listrik-bagi-peserta-guru-guru-sekolah-menengah-kejuruan-di-vedc-malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s