METODE PENGOLAHAN SAMPAH DAN PEMILIHAN LOKASI TPA SAMPAH DI KOTA ENREKANG

 

Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah adalah upaya  yang sering dilakukan  dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional.  Menurut Madelan (1997), terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah, sebagai berikut;

  1. Timbulan Sampah (Waste Generation)
  2. Pewadahan (Onside Storange)
  3. pengumpulan (Collection)
  4. Pemindahan dan Pengangkutan (Transfer dan Transport)
  5. Pemanfaatan Kembali (Procesing dan Recovery)
  6. Pembuangan Sampah (Disposal)

 

  1. Pengolahan  TPA Sampah

Menurut Ryadi (1986), cara pembuangan akhir sampah merupakan salah satu aspek  strategis  dalam sistem pengolahan sampah. Beberapa  metode pengolahan sampah  dalam penerapannya adalah sebagai berikut;

  1. Open Dumping atau pembuangan terbuka;  merupakan cara pembuangan sederhana di mana sampah hanya dibuang pada suatu lokasi, dibiarkan terbuka tanpa pengaman dan ditinggalkan setelah lokasi penuh.
  2. Controlled Landfill: Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk menghindari potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan.  Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA.
  3. Sanitary Landfill: metode ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan kemudian ditutup dengan tanah, yang dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pekerjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi.
  4. Inceneration; cara ini dilakukan dengan cara membakar sampah.
  5. Composting: cara pengolahan  sampah untuk  kebutuhan  pupuk tanaman.
  6. Individual Inceneration; setiap orang atau rumah tangga  membakar sendiri sampahnya.
  7. Recycling: cara ini memanfaatkan dan mengolah kembali  sebagian sampah, seperti kaleng, kertas, plastik, kaca/botol dan lain-lain.
  8. Hog Feeding: cara pengolahan dengan sengaja mengumpulkan jenis sampah basah (gerbage) untuk digunakan  sebagai makanan ternak.

Sejalan dengan itu, Wardhana (1995)  menjelaskan bahwa walaupun sudah disediakan TPA,  namun karena sampah yang dihasilkan terus bertambah,  sehingga TPA ikut semakin meluas. Oleh karena itu, perlu dipikirkan lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat (sampah) sampai ke TPA dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut melalui daur ulang dan sistem pengomposan. 

  1. Pemilihan Lokasi TPA Sampah

Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 125/KPTS/1991 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Pembuangan Akhir Sampah, dijelaskan kriteria pemilihan lokasi TPA sebagai berikut;

  1. Kriteria Regional, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan zona layak-tidaknya  penempatan TPA, sbb;
    1. Kondisi geologi; yaitu tidak berlokasi pada daerah besar yang aktif dan bukan pada zona bahaya geologi.
    2. Kondisi hidrogeologi; yaitu tidak memiliki muka air tanah kurang dari 3 meter, tidak boleh kandungan tanah lebih 10-6 cm/det,  jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dari 100 meter dari hilir aliran.
    3. Kemiringan zona harus kurang dari 20 %.
    4. Jarak dari bandara harus lebih besar dari 3.000 mtr.
    5. Tidak pada daerah lindung dan daerah banjir periodik ( 25 thn).
    6. Kriteria penyisih yaitu kriteria untuk memilih lokasi terbaik yaitu dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut;
      1. Iklim yang meliputi: intensitas hujan kecil. arah angin dominan tidak menuju kepermukiman.
      2. Utilitas, tersedia lebih lengkap.
      3. Lingkungan biologis meliputi: daya dukung kurang menunjang flora dan fauna, habitat kurang bervariasi.
      4. Kondisi tanah meliputi: produktifitas tanah rendah, kapasitas besar, tersedia tanah penutup yang cukup, status tanah tidak bervariasi.
      5. Kepadatan penduduk rendah.
      6. Masih dalam wilayah administrasi Kabupaten berangkutan.
      7. Memiliki zona penyangga yang cukup, untuk bau dan kebisingan.
      8. Estetika lingkungan (tidak terlihat dari keramaian dan jalan umum).
      9. Biaya pengelolaan dan pengolahan yang murah.

Sejalan dengan itu, berdasarkan pedoman penyusunan tata ruang wilayah dan kota Tahun 1997,  faktor pertimbangan penentuan lokasi TPA sebagai berikut;

  1. Di luar kawasan lindung (cagar alam, tangkapan air, hutan lindung);
  2. Jauh dari sumber air  bersih dan daerah rawan bencana;
  3. Di luar aktifitas perkotaan, tetapi  memiliki akses pencapaian yang baik;
  4. Mempertimbangkan kecenderungan perkembangan  kota;
  5. Berlokasi pada lahan-lahan non produktif;
  6. Berorientasi pada pemanfaatan jangka panjang;
  7. Tidak harus dibatasi oleh wilayah administrasi.

Tinjauan Lokasi TPA terhadap Tata Ruang Kota

Arah perkembangan Kota Enrekang dihambat oleh keadaan alam berupa gunung yang ada di sekelilingnya. Pengembangan ruang fisik secara ekstensif di Kota Enrekang tidak memungkinkan lagi, sehingga harus mempertimbangkan alternatif lahan-lahan kosong pada daerah sekitarnya yang potensi untuk kegiatan perkotaan.

Secara alamiah kecenderungan perkembangan fisik kota saat ini adalah mengikuti jalur jalan poros ke selatan Kota Enrekang dan sebagian kecil berkembang ke arah timur.

Perkembangan fisik kota saat ini menunjukan fenomena penggunaan ruang yang tidak mempertimbangkan pelestarian lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa permukiman masyarakat yang telah merambah sampai ke kawasan lindung yang terdapat di arah timur dan utara kota ini.

  1. Kebijakan Penataan Ruang Kota

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Enrekang Tahun 2001-2010 sebagai salah satu instrumen yang berkekuatan hukum dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Enrekang, telah mengarahkan penggunaan ruang Kabupaten Enrekang sedemikian rupa sebagai pengejawantahan dari visi Kabupaten Enrekang. Salah satu arahan pengembangan fisik Kota Enrekang menurut RTRW tersebut adalah wilayah Kecamatan Maiwa, dimana arahan fungsi pengikat wilayah Kecamatan Maiwa tersebut adalah industri dan perkebunan, sedangkan fungsi penunjang adalah permukiman dan fasilitas pendukung lainnya. Sementara itu, lokasi TPA yang ada saat ini juga terdapat di Kecamatan Maiwa.

  1. Aksesibilitas

Secara umum  sistem transportasi darat di Kabupaten Enrekang sangat dipengaruhi pola persebaran permukiman dan kondisi geografis wilayahnya. Pola permukiman yang terpencar serta kondisi geografi relatif bergelombang/pegunungan, menjadi kendala dalam pengembangan ruang Kabupaten Enrekang termasuk pengelolaan persampahan.

Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Enrekang belum menunjukan hasil yang optimal baik ditinjau dari aspek pewadahan/ pengumpulan maupun dari aspek pengangkutan ke TPA. Jarak Kota Enrekang ke lokasi TPA yang relatif jauh yaitu sekitar 23 km serta sistem pewadahan/pengumpulan yang masih didominasi oleh metoda individual merupakan kendala yang dalam rangka teknik operasional pengelolaan sampah di Kabupaten Enrekang. Tingkat pencapaian armada angkutan sampah ke TPA ditempuh selama  6 jam tiap kali pengangkutan. Sehingga tiap kendaraan masing-masing hanya bisa mengangkut sampah 2 kali / hari. Jumlah armada angkutan sampah yang dioperasikan tiap hari sebanyak 2 unit dengan kapasitas 6 m3/unit, sehingga jumlah rata rata pengangkutan setiap hari sebanyak empat kali kendaraan atau sebanyak 24 m3, sementara volume produksi sampah tiap hari di Kota Enrekang adalah kurang lebih 34,77 m3/hari.

Oleh karena itu, dipertimbangkan  alternatif lokasi baru TPA Kota Enrekang yang mudah dijangkau, namun tetap mempertimbangkan aspek lingkungan hidup.

  1. Aspirasi Masyarakat

Hasil wawancara dengan 60 responden di Kota Enrekang yang terdiri masyarakat sekitar TPA (15 responden) dan masyarakat Kota Enrekang (40 responden) serta Pemda Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Enrekang (5 responden), secara umum menjawab pertanyaan bahwa tidak sepakat penempatan lokasi TPA di Desa batu Mila, dengan pertimbangan;

–          Lokasi TPA sampah relatif jauh dari Kota Enrekang.

–          Tingkat pencapaian yang relatif sulit ke lokasi TPA.

–          Mencemari lingkungan sekitarnya terutama Sungai Bila dan permukiman sekitarnya.

–          Bergabung dengan kawasan permukiman dan lokasi bumi perkemahan pramuka.

–          Menciptakan pembiayaan operasional yang tinggi.

Tinjauan TPA Terhadap Kualitas Air Lingkungan

Untuk menilai air yang bersih, tidak hanya ditetapkan pada kemurnian saja, tetapi juga didasarkan pada keadaan normalnya. Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan normal berarti air tersebut telah mengalami pencemaran. Keadaan normal tersebut tergantung dari kegunaan & asal sumber air.

Dalam penilaian kualitas air di kawasan TPA sampah dan sekitarnya di Kabupaten Enrekang ini, beberapa indikator air lingkungan yang diamati perubahan-perubahannya meliputi; (i) Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD5) dan (ii) Kandungan Bakteri E. Coli. Dalam pengamatan tersebut, diambil 24 sampel pada titik-titik sampel yang dianggap sebagai tempat-tempat rembesan air lindi dengan pertimbangan kondisi topografi, geologi dan jarak. Lebih jelasnya titik-titik pengambilan sampel

 

http://syahriartato.wordpress.com/2009/12/24/studi-tempat-pembuangan-akhir-tpa-sampah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s