Jurnal DESAIN DAN ANALYSIS OF DYNAMIC VIBRATION ABSORBER (DVA) UNTUK MENGURANGI GETARAN DI REL KERETA API

April 2013. Vol. 3, No. 1                                                                                                                                   ISSN 2305-8269

DESAIN DAN ANALYSIS OF DYNAMIC VIBRATION ABSORBER

(DVA) UNTUK MENGURANGI GETARAN DI REL KERETA API

S.Naresh kumar1 , S.Gunasekharan2

Department of Mechanical Engineering, SNS College of Technology, Coimbatore

nareshmech1990@gmail.com, guna03gm@gmail.com

 

ABSTRAK

Getaran yang disebabkan oleh kereta api adalah masalah yang tumbuh terhadap kepedulian lingkungan. Pesatnya perkembangan transportasi menyebabkan peningkatan kecepatan kendaraan dan kendaraan berat telah menghasilkan getaran yang lebih tinggi. Efek ini menyebabkan kerusakan pada bangunan di dekatnya dan gelombang suara dianggap gangguan. Didalam masalah ini perlu untuk ditemukan cara alternatif untuk mengurangi getaran tersebut.  Metode perhitungan seperti mengubah garis konstruksi dan menempatkan bantalan di bawah pemberat yang adalah proses yang sering dilakukan dan membosankan. Pada pengenalan proyek Dynamic Vibration Absorber (DVA)  memiliki properti yang tinggi untuk menyerap getaran dibandingkan dengan yang lainnya. Pekerjaan itu meliputi teknik penjepitan sederhana dengan rel sepanjang garis. Dengan menggunakan teknik ini, seseorang dapat mengetahui pengurangan getaran dengan cara yang lebih mudah dan ekonomis. Keuntungan dalam proyek ini adalah perubahan dapat dilakukan dengan mudah jika terjadi kegagalan. Dalam proyek ini EPDM yang digunakan memiliki peran penting dalam keprihatinan ekonomis penyebabnya.

Kata kunci: Getaran, Ballast, Ethylene Propylene Diene Monomer (EPDM), Dynamic Vibration Absorber (DVA)

 

  1. PENDAHULUAN

Di kereta api India, jenis pengaturan ballast  sangat ekonomis dan efektif. Tapi penemuan ini masih terdapat kegagalan terutama saat kecepatan dan beban kereta api yang jauh meningkat. khususnya di jembatan kereta api tidak terdapat ballast ini dapat mempengaruhi bagian konstruksi oleh kegagalan lelah. Dalam hal ini getaran waktu yang ditoleransi dari dulu hingga  sekarang dianggap menjadi gangguan. Banyak sekali solusi telah diusulkan untuk memecahkan ini masalah. Tapi umumnya hanya bertindak pada bagian tertentu saja dari sifat dinamis pada rel kereta api tersebut.

gb1

Gambar 1. Getaran pada rel mempengaruhi bagian konstruksi

Jalur kereta api yang dibentuk menggunakan struktur fisik yang dapat mendukung serta mengimbangi kereta api. Penggunaan struktur jalur kereta api berdasarkan  pembebanan dinamis, yang dapat memberikan sistem interaksi antara getaran kereta api dengan rel. Sifat getaran pada struktur jalur kereta api berkisar antara frekuensi rendah hingga tinggi  yang dapat berfungsi sebagai indikator kinerja struktur rel sehubungan dengan sensitivitas getaran pada roda dengan rel . Aspek utama perpindahan getaran karena perilaku dinamis dari rel.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

J.Maes, H.Sol [11] menyajikan solusi yang mungkin untuk mengurangi getaran dengan menyediakan Dynamic Vibration Absorber (DVA)  . bantalan rel adalah bagian standar dari rel, sub-ballast adalah fitur berada di bawah-tidur tikar yang digunakan pada ballast kurang jalur. Namun, semua langkah-langkah ini hanya mempengaruhi perilaku dinamis dari rel saat kereta api mentransmisikan getaran melalui tidur itu. Didalam kertas penempatan damper juga diberikan. Model peredam dan perilakunya juga disajikan.

International Journal of Steel Structures adalah jurnal resmi dari Korean Society of Steel Construction (KSSC). Jurnal ini memberikan informasi yang diperlukan tentang penggunaan bahan baja yang diperlukan.

Improvement of Damping Performance of Electric Railway Pole with Viscoelastic Damper Aboshi, Mitsuo; Tsunemoto, Mizuki; Sunakoda, Katsuaki; Matsuoka, Taichi; Ikahata, Naobumi; Shibata, Kazuhiko Journal of System Design and Dynamics, Volume 4, Issue 6, pp. 928-940 (2010).Improvement of Damping Performance of Electric Railway Pole with Viscoelastic Damper.

3.DESIGN

Desain kami telah mengusulkan untuk memberikan kepercayaan di bagian analisis yang menunjukkan bahwa getaran akan sangat berkurang. Berikut adalah hasil desain diberikan di bawah ini,

gb2

Gambar 2. Rel dan dimensi

Mengukur luas jalur kereta api sebesar 52 kg dipilihnya karena umumnya banyak digunakan di seluruh India. Dimana ukuran tersebut merupakan dimensi yang standar kereta api sesuai dengan standar di India.

gb3

Gambar 3. Dimensi Blok karet (DVA)

gb4

Gambar 4. Dimensi Baut

gb5

Gambar 5. 3D Model (Project Idea) – DVA tetap pada satu jalur

 

  1. ANALISA HARMONIK

Pengujian untuk proyek yang dirancang dilakukan untuk mencari pembenaran dan untuk hasil akhir. Ini dilakukan dengan bantuan ANSYS 11 analisis software di mana analisis Harmonik dilakukan untuk seluruh model. Terutama, jalur tanpa Dynamic Vibration Absorber (DVA) dianalisis untuk mengetahui bagaimana banyak getaran yang tidak diinginkan yang mempengaruhi dan menyebabkan kegagalan kelelahan dengan bagian konstruksi di trek. Frekuensi alami dari material rel ditemukan beban yang harus diberikan untuk menghindari kegagalan material. Frekuensi alami yang ditemukan adalah

Tabel 1. Rentang Frekuensi

tab 1


gb6

Gambar 6. Mesh Pandangan Atas

gb7

Gambar 7.Mesh pandangan Bawah

 

Ketika  beban 5000N diberikan yang di bawah frekuensi alami. Total deformasi dari jalur tanpa DVA untuk beban yang diberikan menghasilkan frekuensi 2.340 Hz. Sedangkan hasil desain menggunakan DVA pada beban yang sama menghasilkan frekuensi 840 Hz. Perbedaan itu adalah 1500 Hz yang merupakan penurunan drastis. Sehingga sejumlah besar frekuensi berkurang yang akan pasti diserap oleh DVA tanpa mengirimkannya ke lingkungan. Sehingga dapat  mengurangi kegagalan kelelahan pada cara yang lebih mudah.

 

  1. SIFAT EPDM

EPDM – karet Ethylene Propylene Diene Monomer menunjukkan kompatibilitas memuaskan dengan cairan hidrolik tahan api, keton, panas dan air dingin, dan basa, dan tidak mengandung minyak, bensin, hidrokarbon aromatik dan alifatik, terhalogenasi pelarut, dan asam terkonsentrasi. Sifat-sifat utama dari EPDM adalah tahan panas yang luar biasa, tahan ozon dan tahan cuaca. Ketahanan terhadap zat polar dan uap juga baik. EPDM memiliki sifat isolator listrik yang baik. Sifat khas dari EPDM vulkanisasi diberikan di bawah ini. EPDM dapat diperparah dengan memenuhi sifat khusus untuk batas tergantung pertama pada polimer EPDM tersedia. EPDM tersedia dalam berbagai molekul bobot (ditunjukkan dalam hal viskositas Mooney ML (1 + 4) pada 125 ° C), berbagai tingkat etilena, monomer ketiga dan kandungan minyak.

 

5.1 SIFAT MEKANIS

Kekerasan, Shore A                            4090 unit

Kegagalan tegangan tarik                   25MPa

Kepadatan Bisa diperparah dari         0.92.00 g / cm3

 

5.2. SIFAT TERMAL

Koefisien termal ekspansi, linear        160 µM / Mk

Suhu Maksimal                                   150oC

Suhu Minimal                                      50oC

suhu kaca                                            54oC

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut angka dan grafik menunjukkan Total deformasi dengan nilai minimal.

gb8

Gambar 8. Tanpa DVA

gb9

Gambar 9. Grafik Frekuensi

 

Tabel 2. Analisa getaran tanpa DVA

tab 2

 

gb10

Gambar 10. Menggunakan DVA

gb11

Gambar 11. Grafik Frekuensi berkurang

 

Tabel 3 Analisa getaran menggunakan DVA

tab 3

Sesuai analisis harmonik Getaran yang dihasilkan tanpa DVA = 2340 Hz, Getaran yang dihasilkan dengan DVA = 840 Hz. Jadi pengurangan getaran dapat dicapai menggunakan desain.

 

  1. KESIMPULAN

Karet yang dipilih memiliki sifat yang tinggi untuk menahan panas tinggi hilang akibat gesekan dan tahan air yang tinggi. Hal ini juga berkaitan dengan kelelahan pengujian yang akan dianalisis oleh perangkat lunak. Getaran absorber dinamis dirancang sedemikian rupa agar mengurangi getaran yang relatif lebih tinggi yang dikumpulkan berdasarkan rincian. Rincian terdiri dari berbagai sifat parameter dari bahan yang digunakan dalam proyek ini disimpulkan dari survei literatur. Tinggi getaran frekuensi dikurangi menjadi maksimal sampai terjadi di bawah tingkat kebisingan yang jelas ditunjukkan dalam grafik.

 

  1. REFERENSI

 

  1. J.E. Brock, (1946) ‘A note on the damped vibration absorber’ , Journal of AppliedMechanics 68 A-284.
  2. Coenraad Esveld, Amy de man ‘use of railway track vibration behaviour for design and Maintenance.
  3. J.P. Den Hartog, (1940).‘Mechanical Vibrations’ , 2nd ed., McGraw-Hill, New York.
  4. J. Engng ZndE. E. Ungar,(1979). ‘In Noise and Vibration Control’. McGraw-Hill, NewYork
  5. S.L. Grassie, R.W. Gregory, D. Harrison, K.L. Johnson, (1982) ‘The dynamic response of railway track to high frequency vertical excitation ’ Journal of Mechanical Engineering Science 24 (2) 77–90.
  6. Prof Dr.Ir. Hugo sol (2006) the reduction of railway vibration in railway track through Non

linear modeling.

  1. S.G. Kelly, (2000). ‘Fundamentals of Mechanical Vibrations’, 2nd ed., McGraw-Hill, Boston.
  2. B.G. Korenev, L.M. Reznikov , (1993) ‘Dynamic Vibration Absorbers’ Wiley,Chichester.
  3. J.Maes, H.Sol (2003) a double tuned rail damper –increasing damping at the two first Pinned- pinned frequencies
  4. D. Thompson, (1997) ‘Wheel–rail noise generation’. Parts I to V, Journal of Sound and Vibration 161 (3) 387–482.
  5. D. Thompson, (1997) ‘Experimental analysis of wave propagation in railway tracks’, Journal of Sound and Vibration 203 (5) 867–888.
  6. Tso-Liang Tengt, Cho-Chung Liangs and Ching-Cho Liaos (1995) ‘Optimal design of a

dynamic absorber using Polymer-laminated steel sheets’.

Materi Dasar MATLAB, AUTOCAD, dan SOLIDWORKS

 

 MATERI DASAR MATLAB

MATLAB adalah sebuah bahasa dengan kinerja tinggi untuk komputasi masalah teknik. MATLAB mengintegrasikan komputasi, visualisasi, dan pemrograman dalam suatu model yang sangat mudah untuk pakai dimana masalah-masalah dan penyelesaiannya diekspresikan dalam notasi matematika yang familiar. Penggunaan Matlab meliputi:

  • Matematika dan komputasi
    • Pembentukan algoritma
    • Akusisi data
    • Pemodelan, simulasi, dan pembuatan prototype
    • Analisa data, explorasi, dan visualisasi
    • Grafik keilmuan dan bidang rekayasa

Nama MATLAB merupakan singkatan dari matrix laboratory. Dalam lingkungan perguruan tinggi teknik, Matlab merupakan perangkat standar untuk memperkenalkan dan mengembangkan penyajian materi matematika, rekayasa dan kelimuan. Di industri, MATLAB merupakan perangkat pilihan untuk penelitian dengan produktifitas yang tingi, pengembangan dan analisanya. Fitur-fitur MATLAB sudah banyak dikembangkan, dan lebih kita kenal dengan namatoolbox. Sangat penting bagi seorang pengguna MATLAB, toolbox mana yang mandukung untuk learn dan apply technology yang sedang dipelajarinya. Toolbox ini merupakankumpulan dari fungsi-fungsi MATLAB (M-files) yang telah dikembangkan ke suatu lingkungan kerja MATLAB untuk memecahkan masalah dalam kelas particular. Area-area yang sudah bisa dipecahkan dengan toolbox saat ini meliputi pengolahan sinyal, system kontrol, neural networks, fuzzy logic, wavelets, dan lain-lain.

 

Sebagai sebuah system, MATLAB tersusun dari 5 bagian utama:

  1. Development Environment,merupakan sekumpulan perangkat dan fasilitas yang membantu kita untuk menggunakan fungsi-fungsi dan file-file MATLAB. Beberapa perangkat ini merupakan sebuah Graphical User Interfaces (GUI). Termasuk didalamnya adalah MATLAB desktop dan Command Window, Command History, sebuah editor dan debugger, dan browsers untuk melihat helpworkspace, files, dan search path.
  2. MATLAB Mathematical Function Library,merupakan sekumpulan algoritma komputasi mulai dari fungsi-fungsi dasar sepertri: sum, sin, cos, dan complex arithmetic, sampai dengan fungsi-fungsi yang lebih kompek seperti matrix inversematrix eigenvalues, Bessel functions, dan fast Fourier transforms.
  3. MATLAB Language, merupakan suatu high-level matrix/array languagedengan control flow statements, functions, data structures, input/output, dan fitur-fitur object-oriented programming. Ini memungkinkan bagi kita untuk melakukan kedua hal baik “pemrograman dalam lingkup sederhana ” untuk mendapatkan hasil yang cepat, dan “pemrograman dalam lingkup yang lebih besar” untuk memperoleh hasil-hasil dan aplikasi yang komplek.
  4. Graphics, MATLAB memiliki fasilitas untuk menampilkan vector dan matrices sebagai suatu grafik. Didalamnya melibatkan high-level functions(fungsi-fungsi level tinggi) untuk visualisasi data dua dikensi dan data tiga dimensi, image processing, animation, dan presentation graphics. Ini juga melibatkan fungsi level rendah yang memungkinkan bagi kita untuk membiasakan diri untuk memunculkan grafik mulai dari benutk yang sederhana sampai dengan tingkatan graphical user interfaces pada aplikasi MATLAB.
  5. MATLAB Application Program Interface (API), merupakan suatulibrary yang memungkinkan program yang telah kita tulis dalam bahasa C dan Fortran mampu berinterakasi dengan MATLAB. Ini melibatkan fasilitas untuk pemanggilan routines dari MATLAB (dynamic linking), pemanggilan MATLAB sebagai sebuahcomputational engine, dan untuk membaca dan menuliskan MAT-files.

Matlab menyediakan beberapa fasilitas, diantaranya :

  1. Manipulasi mudah untuk membentuk matriks.
  2. Sejumlah rutin yang yang biasa diakses dan dimodifikasi dengan mudah.
  3. Fasilitas canggih untuk mendapatkan gambar berdimensi dua atau tuga.
  4. Kemudahan untuk menulis program yang singkat, sederhana, yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.
    1. Jendela perintah (Command Window)

Pada command window, semua perintah matlab dituliskan dan diekskusi. Kita dapat menuliskan perintah perhitungan sederhana, memanggil fungsi, mencari informasi tentang sebuah fungsi dengan aturan penulisannya (help), demo program, dan sebagainya. Setiap penulisan perintah selalu diawali dengan prompt ‘>>’. Misal, mencari nilai sin 750, maka pada command window kita dapat mengetikkan:

>> sin(75)

ans =

-0.38778

 

  1. Jendela ruang kerja (Workspace)

Jendela ini berisi informasi pemakaian variabel di dalam memori matlab. Misalkan kita akan menjumlahkan dua buah bilangan, maka pada command window kita dapat mengetikkan:

 

>> bilangan1 = 10

bilangan1=10

>> bilangan2 = 5

bilangan1=10

>> hasil= bilangan1 + bilangan2

hasil=15

 

Untuk melihat variabel yang aktif saat ini, kita dapat menggunakan perintah who.

 

>> who

Your variables are:

bilangan1 bilangan2 hasil

 

  1. Jendela histori (Command History)

Jendela ini berisi informasi tentang perintah yang pernah dituliskan sebelumnya. Kita dapat mengambil kembali perintah dengan menekan tombol panah ke atas atau mengklik perintah pada jendela histori, kemudian melakukan copy-paste ke command window.

 

  1. Variabel

Seperti bahasa pemrograman lainnya, matlab pun memiliki variabel, tetapi dalam penulisannya, variabel di dalam matlab tidak perlu dideklarasikan, karena matlab mampu mengenali tipe data dari variable dari isi variabel tersebut. Aturan penulisan variabel pada matlab sama dengan aturan pada bahasa pemrograman lainnya, yaitu bersifa case sensitive, diawali dengan huruf dan selanjutanya boleh menggunakan gabungan huruf-angka atau tanda garis bawah. Matlab mampu mengenali sampai 31 karakter pertama, selanjutnya diabaikan.

Contoh:

>> var1=6.7

var1 =

6.7

>> var_2=[2 3 4]

Var_2 =

2 3 4

 

Semua tipe data di matlab memiliki bentuk yang sama, yaitu array. Array minimal berukuran 0x0 dan dapat bertambah menjadi array n x m dimensi dengan sebarang ukuran. Matlab mempunyai beberapa tipe data dasar (atau class), yaitu: logical, char, numeric, cell, structure, java classes, function handles.

 

Himpunan persamaan linier

Semula MATLAB diciptakan untuk menyederhanakan komputasi matriks dan aljabar linier yang terdapat berbagai aplikasi. Salah satu masalah yang paling umum dalam aljabar linier  adalah menemukan penyelesaian dari sekumpulan permasalahan linier.

Contoh :

Sebagai kumpulan persamaan linier : A . x = b

Dengan symbol persamaan matematis (.) diartikan dalam konteks matriks, tidak dalam konteks array. Dalam MATLAB perkalian matriks dilambangkan dengan asrteriks (*). Persamaan diatas berarti perkalian matriks antara matriks A dengan vektor x sama dengan vektor b. ada atau tidaknya solusi bagi persamaan diatas adalah masalah aljabar linier. Jika terdapat suatu penyelesaian, maka juga terdapat beberapa metode untuk menemukan penyelesaian itu, seperti elimunasi Gauss, faktorisasi LU, atau penggunaan langsung dari A-¹.

secara analisis, penyelesaian ditulis sebagai x =  A-¹ .b

Fungsi – fungsi pada MATLAB

  1. Fungsi – fungsi pada Skalar :

exp      log       abs       round   sqrt

  1. Fungsi – fungsi pada vector :

Max     min      sum      prod     sort      median                        mean                std

  1. Fungsi – fungsi Matriks :

Selain fungsi – fungsi untukmenyelesaikan himpunan persamaan linier, MATLAB juga banyak menyediakan fingsi Matriks tang berguna untuk menyelesaikan masalah – masalah numeric aljabar linier. Untuk informasi lebih lanjut dapan digunakan on–line help atau referensi on–lineMATLAB.

inv                   : invers

lu                     : faktorisasi LU

qr                     : faktorisasi QR

exmp               : eksponsial matriks

sqrtm               : akar matriks

det                   : determinan

size                  : ukuran matriks

eig                   : eigenvalue dan eigen vector

cdf2rdf                        : bentuk kompleks diagonal ke bentuk real diagonal

chol (A)           : faktorisasi cholesky

cond (A)          : bilangan kondisi matriks

det (A)             : determinan

inv (A)             : invers matriks

  1. Fungsi Trigonometri

ain                   : sinus

sinh                  : sinus hiperbolik

asin                  : invers sinus

cos                   : cosines

acos                 : invers cosines

tan                   : tangen

atan                 : invers tangent5.      Save and Load

Biasanya diinginkan untuk menyimpan hasil – hasil dari operasi MATLAB ke dalam media yang lebih permanan, misalnya harddisk atau flashdisk. Digunakan perintah dengan singkatan di bawah ini :

>> save name_file.mat

Jika diinputkan kata save, maka semua variable kerja yang aktif akan disimpan dalan ekstensi .mat. sesudah tersimpan dalam memori sekunder, nilai data yang tersimpan dalam file tersebut dapat dipanggil kembali ke memori dengan perintah load berikut :

>> load name_file.mat

  1. Variabel dalam MATLAB

Seperti compiler lain, MATLAB memiliki aturan dalam menamakan variable. Variable harus terdiri dari satu kata tidak terpisah atau tidak mengandung spasi. Panjang suatu variable maksimal 32 karakter. Variable harus dimulai dengan huruf, angka atau kombinasi dari padanya. Variable tidak boleh diberi nama sama dengan variable khusus yang sudah tercantum dalam MATLAB, missal : ans, pi, ops, flops, inf.

  1. LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN

Ketikkan pada command window perintah berikut :

  • Membuat matriks

>> a = [ 1 2 3; 4 5 6; 7 8 0];

  • Perintah untuk mencari invers matriks

>>  inv(a)

  • Menjumlahkan variable a = 7 b = 8

>> a=7;

>> b=8;

>> c=a+b;

Ketikkan pada Command window perintah berikut, kemudian amati dan beri penjelasan

>> a=[1 2 3 ; 4 5 6; 7 8 0]

>> b=[3 6 6 ; 8 0 4; 3 5 1]

>> det(a)

>> inv(a)*b

>> a/b

>> a*b

>> a+b

Ketikkan pada Command window perintah berikut, kemudian amati dan beri penjelasan.

>> x=-1:0.01:2;

>> y=1./((x-0.5).^3+0.1)+1./((x-0.7).^3+0.002)-8;

>> figure(1);

>> plot(x,y);

>> title(‘Contoh membuat Grafik’),xlabel(‘x’),ylabel(‘y’);

>> grid;

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

         Membuat perintahpada Command Window

Membuat matriks

Setelah mengetik perintah Tersebut maka hasilnya akan seperti berikut:

>> a = [ 1 2 3; 4 5 6; 7 8 0];

a =

1   2   3

4   5   6

7   8   0

Perintah diatas digunakan untik membuat matriks 3×3.

  • Perintah untuk mencari invers matriks

>>inv(a)

Setelahmengetikperintah di atasmakahasilnyaakansepertiberikut:

>>inv(a)

ans =

-1.7778    0.8889   -0.1111

1.5556   -0.7778    0.2222

-0.1111    0.2222   -0.1111

  • Menjumlahkan variable a = 7 danb = 8

>> a=7;

>> b=8;

>> c=a+b;

Setelah mengetik perintah di atas maka hasilnya akan seperti berikut:

>> a=7;

>> b=8;

>> c=a+b;

>>c

c =

15

Perintah tersebut untuk menjumlahkan variabel yaitu a dengan nilai 7 dan b dengan nilai 8.

                Membuat perintah pada Command Window.

  1. Setelah membuat perintah>> a=[1 2 3 ; 4 5 6; 7 8 0]  ,maka hasilnya seperti berikut :

>> a=[1 2 3 ; 4 5 6; 7 8 0]

a =

1   2   3

4   5   6

7   8   0

Perintah diatas digunakan untuk membuat matriks A dengan ukuran3×3.

  1. Setelah membuat perintah>> b=[3 6 6 ; 8 0 4; 3 5 1]  ,maka hasilnya seperti berikut :

>> b=[3 6 6 ; 8 0 4; 3 5 1]

b =

3   6  6

8   0   4

3   5   1

Perintah diatas digunakan untuk membuat matriks A dengan ukuran 3×3.

Setelah membuat perintah>>det(a),maka hasilnya seperti berikut :

ans =

27

Perintah :>>det(a)digunakan untuk mencari nilai determinan suatu matriks.

Setelah membuat perintah >> inv(a)*b, maka hasilnya seperti berikut :

>>inv(a) *b

ans =

1.4444  -11.2222   -7.2222

-0.8889   10.4444    6.4444

1.1111   -1.2222    0.1111

Perintah :perintah>>inv(a)*b digunakan untuk mencari nilai invers dua buah matriks atau lebih,

  1. Setelah membuat perintah>>a/b   ,maka hasilnya seperti berikut :

>>a/b

ans =

0.5294    0.0147   -0.2353

0.8824    0.1912   -0.0588

-0.5294    0.2353    2.2353

Perintah :>>a/b  digunakan untuk pembagian dua buah matrik satau Lebih.

  1. Setelah membuat perintah>>a*b   ,maka hasilnya seperti berikut :

>>a*b

ans =

28    21    17

70    54    50

85    42    74

Perintah :>>a/b  digunakan untuk perkalian dua buah matriks atau lebih.

Setelah membuat perintah>>a+b,maka hasilnya seperti berikut :

>>a+b

ans =

4     8     9

12     5    10

10    13     1

Membuattampilangambarpada output window

    Ketiklah perintah berikut :

>> x=-1:0.01:2;

>> y=1./((x-0.5).^3+0.1)+1./((x-0.7).^3+0.002)-8;

>>figure(1);>> plot(x,y);

>>title(‘ContohmembuatGrafik’),xlabel(‘x’),ylabel(‘y’);

>>grid;

Setelah di debug maka perintah perintah tersebut akan memunculkan tampilan berikut ini :

Gambar 1.tampilan figure 1

https://fastabikulkhairatngaly.wordpress.com/2012/11/05/pengenalan-matlab/

http://rahman011.blogspot.co.id/2012/05/pengenalan-matlab-1.html

 

AUTOCAD

AutoCAD adalah software atau perangkat lunak komputer yang digunakan untuk menggambar, baik itu 2 Dimensi ataupun 3 Dimensi. CAD sendiri memiliki arti Computer Aided Design. Program ini di kembangkan oleh Autodesk,Inc, sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Mill Valley, California.

AutoCAD paling sering digunakan untuk menggambar sipil, bangunan, mesin, design interior, pemetaan, piping diagram dan masih banyak lagi. Secara garis besar, AutoCAD sering digunakan oleh arsitek, engineer, maupun para designer lainnya. Interface yang ringan dengan  pengoperasian yang mudah menjadikan AutoCAD sebagai software CAD paling terkenal dan paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Layar Auto CAD terdiri dari:

  1. Layar Gambar

Bagian layar gambar ini adalah tempat untuk menggarnbar dan Auto CAD menampilkan cursor. Di daerah ini, cursor dapat digerak-gerakkan lewat pointing device  atau mouse.

  1. Command Line/ Prompt

Command line  promp yaitu tempat untuk memasukkan perintah-pcrintah lewat keyboard. Kemudian Auto CAD menampilkan prompt untuk dipilih dan keterangan-keterangan lainnya. Command line berada di sebelah bawah-kiri layar Auto CAD.

  1. Status Line

Status lineletaknya di sebelah atas layar gambar. Bagian ini dapat menampilkan keterangan-keterangan tentang nama layar, koordinat dan keberadaan cursor dan lain-lain.

  1. Pull-Down Menu

Bagian ini berada di sebelah atas layar gambar. Jika kita ingin menggambar sualu objek, maka kita meng-klik Pull – Down Menu kemudian pilih salah satu objek yang hendak digambar (misalnya menggambar garis, maka klik line)

  1. Cursor Menu

Menu ini akan tampil di layar gambar ( di mana saja dan layar gambar) bila kita klik tombol mouse sebelah kanar.

Toolbar Dimensi :
Fungsi dari toolbar dimensi pada AutoCAD secara khusus digunakan untuk memberi dimensi atau ukuran pada gambar, macamnya sendiri ada Linear Dimension, Angular Dimension, Radius Dimension, Aligned Dimension, dan fungsi-fungsi dimensi lainnya.

Toolbar Draw :

Fungsi Draw Toolbar pada AutoCAD ini digunakan sebagai command / perintah untuk membuat suatu gambar objek, seperti perintah membuat garis, lingkaran, kotak, polygon, ellipse, text, tabel dan lainnya.

Object Snap / Drafting Tools :

Fungsi dari toolbar object snap pada AutoCAD, digunakan sebagai alat bantu saat kita menggambar nanti. Fungsinya adalah mengunci kursor di titik tertentu pada objek, agar hasil gambar kita nantinya akurat dan sempurna.

Modify Toolbar:

Fungsinya adalah untuk memodifikasi gambar / garis yang sudah kita buat, contoh beberapa perintahnya antara lain erase, trim, extend, copy, move, mirror, array, offset, dan lain sebagainya.

Styles Toolbar / Dimension Style :

Fungsinya adalah untuk menentukan style dari suatu dimensi, digunakan untuk menentukan besaran huruf dimensi, font yang dipakai, warna dimensi, toleransi, skala dimensi dan lainnya.

Layers Toolbar:

Digunakan untuk membuat layer atau lapisan saat menggambar, tools ini wajib digunakan karena akan sangat membantu kita saat menggambar. Memudahkan kita saat editing gambar atau selecting gambar nantinya. Disamping itu layer juga bisa kita tentukan warna, jenis garis, serta tebal garisnya. Biasanya saat hasilnya nanti kita print / plot akan terlihat, tebal tipis garisnya.

Properties :

Digunakan untuk menentukan tebal garis, jenis garisnya serta warna garisnya. Pada dasarnya tools ini jarang digunakan, dan saya lebih merekomendasikan untuk menggunakan layer daripada tools ini.

Pointer :

Fungsi dari pointer di AutoCAD untuk selecting tool, atau bisa juga untuk pick tools, yaitu untuk memilih suatu objek atau untuk seleksi objek. Gambar disebelah kiri adalah pointer default saat kita tidak memberika perintah. Dan yang di sebelah kanan pointer berubah menjadi select tool saat ada perintah seleksi objek.

Command Line :

Fungsi dari command line adalah catatan, ataupun panduan saat kita memberikan perintah / command.

Memberikan Perintah pada Auto CAD

Ada beberapa cara unluk memberikan penintah padaAuto CAD:

  1. Mengetikkan perintah di command line (di sebelah kiri-bawah layar)

Command :  line <enter>

  1. Units

Perintah units dgunakan untuk mengatur tipe dan text ukuran, baik ukuran dalam arah panjang maupun ukuran dalam bentuk sudut, juga menentukan banyak angka di belakang koma (desmial) dan memilih satuan yang digunakan (apakah mm, cm dan yang lainnya)

ü  Command : Units (enter) muncul kotak dialog Drawing Units (tentukan pilihan)

  1. Limits

Limits digunakan untuk menentukan batas—batas menggambar di layar (ukuran kertas)

ü  Command: Limits(enter)

  1. Grid, Snap Grid, Ortho
  2. Grid (F7)

Perintah Grid menampilkan pola berbentuk titik—titik (dots) di layar gambar Jarak antara grid dapat ditentukan sesuat dengan yang kita inginkan. Pola grid ini ditampilkan hanya di daerah limits saja.

ü  Command: grid (enter)

 

 

  1. Snap grid (F9)

Cross-hairs di dayar dapat digerakkan atau digeser dengan hebas. Tetapi jika kita ingin menempatkan pada sualu titik/ tempal dengan tepat, terasa sulit sekali. Hal ini dapat diatasi dengan perintah snap, sedemikian rupa cross-hairs dapat digerakan secara tersentak-sentak pada jarak tertentu dan teratur dalam arah tegak maupun datar. Gerakan semacam ini disebut snap grid. Perintah Snap Grid adalah untuk gerakan-gerakan dan cross-hairs.

ü  Command: snap(enter)

  1. Perintah ortho (F8)

Bila kita ingin menggambar garis hanya mengarah datar dan tegak saja, gunakan perintah Ortho. Perintah ini berguna kalau kita menggambar bentuk-bentuk persegi, Pertemuan antara garis saling tegak lurus.

ü  Command:  ortho (enter)

  1. Tampilan gambar

Pengaturan tampilan layar dilakukan dengan perintah sebagai berikut.

  1. Zoom

Perintah zoom benfungsi seperti lensa sebuah kamera yang dapat membuat pandangan suatu obyek diperbesar atau diperkecil.

ü  Command : zoom (enter)

  1. Redraw

Perintah redraw adalah : untuk mernbersihkan layar gambar dari bintik-bintik berbentuk tanda silang kecil-kecil yang timbul di layar bila anda memilih entity dengan mouse.

Bentuk umum perintah redraw:

ü  Command: Redraw (enter)

  1. Regen

Perintah  regen adalah untuk memperbaharui gambar di layar gambar, jika hasil gambar yang ditampilkan oleh perintah redraw masih belum memuaskan, maka perinta regen memberikan hasil gambar yang lebih akurat di layar gambar.

ü  Command: regen (enter)

  1. Pan

Bila sebagian gambar berada di luar maka gunakan Pan untuk menggeser gambar tersebut agan masuk ke dalam layar gambar. Perintah ini dapat menggeser gambar ke arah kiri atau kanan layar, ke arah atas atau bawah layar dengan Menggunakan mouse.

ü  Command: Pan (enter)

  1. Perintah Line

Bagian utama dari sebuah gambar ialah terdiri dan garis. Perintah untuk menggambar garis ialah “line’’. Swbuah garis sebenarnya terbentuk antara dua titik yang saling dihubungkan. Berarti kalau ada serangkaian garis tentunya ada beberapa titik yang saling dihubung-hubungkan.

ü  Command: Line

  1. Perintah Circle

Perintah circle digunakan untuk menggambar lingkaran. Masing-masing pilihan selalu memberikan prompt mengenai penempatan lingkaran, yaitu lewat titik pusat atau titik-titik lainnya yang terletak di lingkarannya sendiri.

  • Lingkaran dengan option radius

ü  Command: circle (enter)

 

 

  1. Arc (membuat busur)

Perintah Arc digunakan untuk menggambar busur. Busur merupakan bagian dari sebuah lingkaran dan banyak cara untuk membuatnya. Di sini hanya beberapa cara saja yang digunakan untuk menggambar busur. Penggambaran busur dapat juga dilakukan dan Pull Down Menu.

ü  Pull-down-menu: Draw – Arc

  • Busur dengna option 3-Point

ü  coimmand: arc (enter)

  1. Perintah Rectangle

Perintah Ractangle digunakatn untuk membuat bentuk persegi empat, yaitu dengan menempatkan suatu titik dan titik lainnya dalam arah diagonal.

ü  Command: rectangle (enter)

  1. Perintah Doughnut (Donut)

Perintah doughnut atau donut digunakan untuk membuat lingkaran dengan garis keliling lingkaran yang telah, atau membuat lingkaran yang solid.

ü  Command: donut (enter)

  1. Perintah Polygon

Pada umumnya bentuk polygon adalah bentuk geometrik yang tcrtutup yang terdiri dun beherapa sisi dan sudut yang santa. AutoCAD dapat membuat polygon minimum 3 sisi dun miksimum 1024 sisi. Seimakin banyak sisinya, polygon ini tampak seperti; lingkaran.

  • Membuat polygon berdasarkan letak titik pusat dan di dalam lingkaran (Inscribed).

ü  Command: polygon (enter)

  1. Perintah Ellipse

Sebuah lingkaran yang dipandang pada suatu keimiringan sudut tertentu akan tampak seperti bentuk ellipse. Ellipse mempunyai sumbu panjang (mayor) dan sumbu pendek (minor).

  • Membuat ellipse berdasarkan Center

ü  Command: ellipse (enter)

  1. Linetype

Perintah Linetype digunakan untuk menampilkan jenis-jenis garis. Jenis garis ini dapat digunakan sesuai dengan keperluan kita, misalnya jenis garis putus—putus, garis titik-titik, garis sumbu (center) dan lain-lain.

ü  Command: Linetype (muncul menu Linetype Manager)

  1. Perintah Osnap

Perintah Osnap alan Object SNAP ialah mrmilih dengan tepat ujung garis, tengah-tengah garis, membuat tegak lurus pada suatu garis, titik perpotongan dua garis dan titik terdekat dari suatu garis. Jika kita akan menyambung suatu garis di ujung garis yang sudah ada, hal ini terasa sulit untuk menjamin ketepatannya. Setelah perintah Osnap dimasukkan, di cursor terbentuk kotak, yang disebut aperture atau cursor box. Dengancursor box ini kita pilih ujung garis yang akan disambung sehingga ujung garis tadi berada di dalam cursor box. Maka perintah Osnap secara otomatis akan menyambung ke ujung garis yang sudah ada.

  1. Eraser

Perintah erase digunakan untuk menghapus sebagian atau seluruh objek gambar yang diinginkan.

ü  Command: erase (enter)

 

  1. Move

Perintah Move digunakan untuk memindahkan atau menggcser obyek dari satu posisi ke posisi yang diinginkan dengan cara memilih obyek yang hendak dipindahkan

ü  Command: move

  1. Copy

Perintah copy digunakan untuk memperbanyak obyek atau entity dan dapat ditempatkan dimana saja yang diinginkan,

ü  Command: copy

  1. Trim

Perintah trim digunakan unluk memotong hagian dan suatu garis, busur atau lingkaran. Bagian yang dipotong harus dibatasi oleh suatu pertemuan atau perpotongan dengan garis, husur-atau lingkaran lainnya

ü  Command: Trim

  1. Extend

Perintah Extend digunakan untuk memperpanjang garis, atau busur sampai pada batas yang ditentukan dan batas-batas ini dapat berupa guris, busur atau lingkaran: Perintah Extend  tidak bekerja pada lingkaran.

ü  Command: Extend

  1. Mirror

Perintah Mirror digunakan untuk mencerminkan obyek yang mana jarak benda ke cermin sama dengan  jarak bayangan ke cermin tetapi bentuknya berlawanan.

ü  Command: mirror

 

  1. Rotate

Perintah rotate digunakan untuk mengubah orientasi atau mernutar obyek atau gambar berdasarkan titik putar/ base point yang dipilih.

  • Command: Rotate

 

  1. Scale

Perintah scale digunakan untuk memperbesar atau memperkecil objek secara proporsional dalam lain arah X dan Y.

ü  Command: sca

  1. Arrays

Perintah array digunakan untuk membuat obyek dalam jumlah yang banyak, baik dalam bentuk baris dan kolom (rectangular) maupun dalam bentuk perputaran (polar).

ü   Command: array

  1. Offset 

Perintah Offset digunakan untuk membuat garis atau bidang yang sejajar dengan obyek yang pertama dan letaknya dapat ditentukan.

ü  Command: Offset

  1. Chamfer

Perintah Chamfer  digunakan untuk membuat persegi dari pertemuan dua garis. arc atau circle.

  1. Fillet

Perintah Fillet digunakan untuk membuat kelengkungan dari pertemuan dua garis, irc atau circle.

ü  Command: Fillet

  1. Insert

Perintah Insert digunakan untuk memindahkan suatu gambar yang disimpan di file lain ke file yang sedang bekerja/aktif.

ü  Command: insert (muncul kotak dialog insert)

 

http://teknikmesinerick.blogspot.co.id/2011/12/auto-cad-materi.html

http://www.ilmucad.com/2015/06/pengertian-autocad.html

 

SOLIDWORKS

SOLIDWORKS adalah salah satu CAD software yang dibuat oleh DASSAULT SYSTEMES digunakan untuk merancang part permesinan atau susunan part permesinan yang berupa assembling dengan tampilan 3D untuk merepresentasikan part sebelum real part nya dibuat atau tampilan 2D (drawing ) untuk gambar proses permesinan.

SolidWorks diperkenalkan pada tahun 1995 sebagai pesaing untuk program CAD seperti Pro / ENGINEER, NX Siemens, I-Deas, Unigraphics, Autodesk Inventor, Autodeks AutoCAD dan CATIA. dengan harga yang lebih murah. SolidWorks Corporation didirikan pada tahun 1993 oleh Jon Hirschtick, dengan merekrut tim insinyur untuk membangun sebuah perusahaan yang mengembangkan perangkat lunak CAD 3D, dengan kantor pusatnya di Concord, Massachusetts, dan merilis produk pertama, SolidWorks 95, pada tahun 1995.

Pada tahun 1997 Dassault Systèmes, yang terkenal dengan CATIA CAD software, mengakuisisi perusahaan dan sekarang ini memiliki 100% dari saham SoliWorks. SolidWorks dipimpin oleh John McEleney dari tahun 2001 hingga Juli 2007, dan sekarang dipimpin oleh Jeff Ray. Saat ini banyak industri manufaktur yang sudah memakai software ini, menurut informasi WIKI , SolidWorks saat ini digunakan oleh lebih dari 3 / 4 juta insinyur dan desainer di lebih dari 80.000 perusahaan di seluruh dunia. kalau dulu orang familiar dengan AUTOCAD untuk desain perancangan gambar teknik seperti yang penulis alami tapi sekarang dengan mengenal SOLIDWORKS maka AUTOCAD sudah jarang saya pakai. Tapi itu tentunya tergantung kebutuhan masing-masing.

Untuk permodelan pada industri pengecoran logam dalam hal pembuatan pattern nya, program program 3D seperti ini sangat membantu sebab akan memudahkan operator pattern untuk menterjemahkan gambar menjadi pattern /model casting pengecoran logam dan tentunya akan mengurangi kesalahan pembacaan gambar yang bisa mengakibatkan salah bentuk. Untuk industri permesinan selain dihasilkan gambar kerja untuk pengerjaan mesin manual juga hasil geometri dari SolidWorks ini bisa langsung diproses lagi dengan CAM program semisal MASTERCAM,SOLIDCAM,VISUALMILL dll. Untuk membuat G Code yang dipakai untuk menjalankan proses permesinan automatic dengan CNC.

SolidWorks 2012 membuat 3D modeling sangat mudah dan sebagian besar perusahaan terkenal dari berbagai sektor (Otomotif, Aerospace, konstruksi, manufaktur dll) menggunakan sebagai tool modeling utama. Ini adalah tutorial SolidWorks 2012 yang menunjukkan bagaimana menggunakan SoildWorks Revolved Boss / Basis fitur dengan contoh langkah-langkah dalam bentuk gambar.

Revolve Boss / Base adalah salah satu fitur utama seperti Extrude boss/base, yang membantu untuk menambah bahan dengan cara revolving. Fungsi ini membantu untuk membuat model bulat simetris, satu-satunya hal adalah bahwa pertama sketsa setengah bagian simetris Anda ingin berputar dan juga menarik sumbu itu. Keluar dari sketsa dan klik pada fitur tab dan pilih Revolve Boss / Base. Tentukan sumbu dan bagian yang akan berputar dan klik tombol OK.

Klik pada :

New -> Select plane and sketch -> gambar setengah bagian simetris dan tentukan dimensi -> Exit sketch -> Click on Features -> Revolve Boss/Base -> Tentukan sumbu dan pengaturan lain sebagai kebutuhan Anda -> Ok

 

 

 

 

 

 

Membuat Cylinder berongga

Step-1

 

Pertama buka “SolidWorks 2012” dan klik pada new dan pilih “Part” dan klik “OK”. Maka kita mendapatkan bagian jendela baru. Dari itu, pertama-tama pilih plane (Front/Right/Top plane). Di sini kita pilih “Front Plane” dan klik “Normal To” untuk memutar pesawat menuju viewer untuk memudahkan menggambar sketsa.

File -> New -> Part -> Ok.

Select Plane -> Front Plane -> To rotate “Normal To”.

 

Step-2

Pergi ke Sketch, pilih “Line” dan tarik garis dengan mengklik area gambar. Pertama, hanya menggambar garis vertikal. We bisa menjadikan sebagai sumbu untuk fitur revolved boss. Jadi, tidak perlu dimensi untuk itu.

Sketch -> Line -> Draw axis line -> Draw Cylinder line parallel to axis.

Tarik juga garis paralel baru untuk sumbu. Garis ini merupakan lingkar luar dan tinggi silinder. Atur tinggi silinder dengan menggunakan “Smart Dimension”, yang ditunjukkan pada gambar di atas.

Smart Dimensions -> Atur tinggi cylinder menjadi 154 mm.

 

Step-3

Anda harus mengatur jarak antara dua garis sejajar seperti yang ditunjukkan pada gambar dengan menggunakan “Smart Dimension”. Ini menentukan radius luar silinder. Kemudian keluar dari “Sketch”.

Smart Dimension -> Select two parallel lines -> Enter dimensions on small window -> Ok.

 

Step-4

 

Pilih “Sktech-1” dari menu disamping.

Penting: sebelum memilih opsi fitur, Anda harus memilih sketsa yang diinginkan untuk menerapkan fitur.

Klik “Revolve Boss / Base”. Dari menu revolved boss disamping, pilih contour box dan klik pada garis luar. Kemudian Pilih kotak “axis of revolution” dan klik pada garis sumbu.

Revolve Boss / Base -> Pilih Contours box side menu -> klik pada baris luar -> Pilih kotak “Axis of Revolution” -> klik pada garis sumbu.

Jika Anda ingin menyesuaikan ukuran lubang atau jari-jari dalam silinder berongga, pilih “Thin Feature” dan masukkan nilai yang kurang dari jari-jari luar.

Thin Feature -> Set ketebalan silinder berongga -> ok, lihat pada gambar di atas.

Anda juga dapat mengatur tingkat rotasi, dengan memasukkan “Ditrction-1” Box dan mengatur derajat menjadi 360 derajat untuk membuat silinder.

 

Final Model -Hollow Cylinder

 

– See more at: http://www.applicadindonesia.com/news/solidworks-2012-tutorial-cara-menggunakan-solidworks-revolved-boss-fitur#sthash.EsZWENPe.dpuf

 

 

http://www.applicadindonesia.com/news/solidworks-2012-tutorial-cara-menggunakan-solidworks-revolved-boss-fitur

https://youzoef.wordpress.com/2011/12/02/solidworks-2012/

 

KODE ETIK KEPOLISIAN

Etika Kepolisian

Tugas pokok kepolisian merupakan tugas tugas yang harus dikerjakan atau dijalankan oleh lembaga kepolisian, dengan demikian tugas lembaga yang dijalankan oleh anggota kepolisian dapat dimaknai sebagai bentuk atau jenis dari pekerjaan khusus. Jenis pekerjaan tersebut menjadi tugas dan wewenang kepolisian yang harus dijalankan dengan pengetahuan ( intelektual), keahlian atau kemahiran yang diperoleh melalui pendidikan atau training, dijalankan secara bertanggung jawab dengan keahlianya, dan berlandaskan moral dan etika.

Organisasi Kepolisian, sebagaimana organisasi pada umumnya, memiliki “ Etika” yang menunjukkan perlunya bertingkah laku sesuai dengan peraturan-peraturan dan harapan yang memerlukan “ kedisiplinan” dalam melaksanakan tugasnya sesuai misi yang diembanya selalu mempunyai aturan intern dalam rangka meningkatkan kinerja, profesionalisme, budaya organisasi serta untuk menjamin terpeliharanya tata tertib dan pelaksanaan tugas sesuai tujuan, peranan, fungsi, wewenang dan tanggung jawab dimana mereka bertugas dan semua itu demi untuk masyarkat. Persoalan-persoalan etika adalah persoalan-persoalan kehidupan manusia.

Tidak bertingkah laku semata-mata menurut naluri atau dorongan hati, tetapi bertujuan dan bercita –cita dalam satu komunitas.  Apakah yang dimaksud dengan Etika ? Etika berasal dari bahasa  latin disebut ethos atau ethikos. Kata ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan dalam bentuk jamak adalah ta etha istilah ini juga kadang kadang disebut juga dengan mores, mos yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik sehingga dari istilah ini lahir penyebutan moralitas atau moral . Menurut W.J.S Poerwadarminta pengertian Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas asas akhlak (moral). Etika menurut I Gede A.B.Wiranata,SH.,M.H merupakan filsafat moral, yaitu pemikiran yang dilandasi oleh rasional, kritis, mendasar, sistematis, dan normative. Dalam konteks profesionalisme, etika memberikan jawaban dan sekaligus pertanggungjawaban tentang ajaran moral, yaitu bagaimana seseorang yang berprofesi harus bersikap, berprilaku dan bertanggung jawab perbuatanya

Etika Kepolisian menurut Kunarto ( 1997;91) adalah serangkaian aturan dan peraturan yang ditetapkan untuk membimbing petugas dalam menetukan, apakah tingkah laku pribadi benar atau tidak. Rangkuman Etika Polri yang dimaksud telah dituangkan dalam UU Nomor 2 tahun 2002 pasal 34 dan pasal 35. Pasal –pasal tersebut mengamanatkan agar setiap anggota Polri dalam melaksanakan  tugas dan wewenangnya harus dapat mencerminkan kepribadian bhayangkara Negara seutuhnya. Mengabdikan dirinya sebagai alat Negara  penegak hukum, yang tugas dan wewenangnya bersangkut paut dengan hak dan kewajiban warga Negara secara langsung, diperlukan kesadaran dan kecakapan teknis yang tinggi, oleh karena itu setiap anggota Polri harus menghayati dan menjiwai etika profesi kepolisian dalam sikap dan perilakunya.

 

ETIKA KEPOLISIAN DI BIDANG PENEGAK HUKUM

Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari  sudut subjeknya, penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek dalam arti yang terbatas atau sempit. Dalam arti luas, proses  penegakan hukum itu melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum.

Dalam arti sempit, dari segi subjeknya itu, penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Dalam memastikan tegaknya hukum itu, apabila diperlukan, aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. Polisi sebagai garda terdepan dalam penegakan hukum memiliki tanggung jawab yang cukup besar untuk mensinergikan tugas dan wewenangnya.

Polri Sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 13 undang – undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yaitu bahwa Polri memiliki tugas :

  1. Memelihara Keamanan dan ketertiban masyarakat
  2. Menegakan hukum
  3. Memberikan Perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat

Dalam melaksanakan tugas dan wewenang tersebut Polisi harus senantiasa melihat kepentingan masyarakat. Hal yang merupakan salah satu tugas Polisi yang sering mendapat sorotan masyarakat adalah penegakan hukum. Pada prakteknya penegakan hukum yang dilakukan oleh polisi senantiasa mengandung 2 pilihan. Pilihan pertama adalah penegakan hukum sebagaimana yang disyaratkan oleh undang-undang pada umumnya, dimana ada upaya paksa yang dilakukan polisi untuk menegakkan hukum sesuai dengan hukum acara yang diatur dalam undang undang No. 8  tahun 1981 tentang KUHAP. Sedangkan pilihan kedua adalah tindakan yang lebih mengedepankan keyakinan yang ditekankan pada moral pribadi dan kewajiban hukum untuk memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat.

 

Polisi yang berwatak sipil

Paradigma kepolisian sipil berkaitan erat dengan paradigma penegakan hukum. Paradigma penegakan hukum masa lalu diwarnai oleh paradigma yang represif yang ditandai dengan penggunaan kekuatan maksimal, satuan resere yang galak yang menerapkan investigasi reaktif dengan segala cara demi pembuktian. Paradigma baru Polri adalah kedekatan Polisi dan masyarakat dalam mengeliminir akar akar kejahatan dan ketidaktertiban, menampilkan gaya perpolisian yang lebih responsive- persuasif. Polisi abdi rakyat bukan abdi penguasa yang oleh satjipto rahardjo disebut sebagai Polisi yang Protagonist. Polisi sipil memiliki 3 kriteria yaitu cepat tanggap, keterbukaan dan akuntabilitas. Di bidang operasional kepolisian sipil melakukan pengayoman dan perlindungan kepada warga sehingga kegiatan warga di bidang ekonomi, social, politik, budaya dan sebagainya dapat terselenggara dan tidak memperoleh hambatan ketidaktertiban dan ketidakamanan. Karena itu kepolisian sipil senantiasa  berikhtiar melakukan upaya upaya pencegahan dan penangkalan baik secara sendiri maupun dengan melibatkan masyarakat.

Perpolisian Komunitas (community policing) dijadikan program dasar dan meluas bagi warga kelurahan dan desa desa. Binamitra dan inteligen melakukan rekayasa ( engineering ) terhadap potensi warga di dalam mencegah kejahatan dan ketidaktertiban. Patroli sabhara dan lantas berfungsi sebagai simbol kehadiran aparat penegak hukum di tengah-tengah masyarakat yang melakukan penjagaan, pengaturan pengawalan dan atau patroli. Petugas-petugas ini hendaknya menampilkan kesabaran, kearifan dan kepiawaian komunikasi sosial yang baik karena mereka berhadapan dengan warga masyarakat yang pada umumnya orang baik-baik. Perlakuan yang arif terhadap warga seperti itu akan lebih menimbulkan rasa hormat dan rasa ikut bertanggung jawab di kemudian hari.

 

Polisi dalam penggunaan kekuatan

Polri adalah sebagai aparatur Negara dan birokrasi pemerintahan. Fungsi polisi secara universal adalah membasmi kejahatan (fighting crime), memelihara ketertiban (maintaining law and order) dan melindungi warga dari bahaya (protecting people). Karenanya Polisi lazim dirumuskan sebagai badan penegakan hukum (law enforcement agency) sebagai pemelihara ketertiban (order maintenance) sebagai juru damai  (peace keeping official) dan pelayanan public (public servant). Meskipun berperan sebagai penegak hukum, namun visi dan tujuan badan Kepolisian di Negara yang totaliter jelas jelas mengabdi kepada penguasa. Polisi digunakan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan sehingga tampilan polisi menjadi antagonitis. Polisi oleh hukum diberikan wewenang penggunan kekerasan jika terpaksa dengan tujuan untuk penyelamatan dan penertiban masyarakat. Wewenang ini hanya dioperasionalkan  secara terbatas (bukan penggunaan kekerasan kekerasan total seperti yang dimiliki oleh TNI/militer) karena itu Etika profesi kepolisian diharapkan dapat menghindarkan petugas polisi dari tindakan yang emosi , semangat kesukuan, keagamaan dan atau semangat sectarian lainya.

Dalam konteks masyarakat demokrasi, penegakan hukum hendaknya dipandang sebagai perlindungan atau pemulihan hak warga yang terlanggar karena fungsi hukum pada hakekatnya adalah melindungi hak. Penegakan hukum bukan sekedar drama kekerasan lawan kekerasan atau pembalasan dendam namum lebih merupakan sarana pemulihan keseimbangan  yang terganggu. Kepolisian mengemban 2 sosok yang berbeda bahkan sering bertolak belakang yakni sosok keras (stronghand of law and society) dan sosok lembut (softhand of law and society). Sosok ini harus ditampilkan dalam suatu ritme sesuai kondisi persoalan yang dihadapi, ketika menghadapi warga yang sabar, patuh dan bisa diajak komunikasi maka sosok lembut yang ditampilkan. Namun ketika berhadapan dengan warga yang membangkang, bersikap bermusuhan bahkan menyerang maka sosok keras terpaksa ditampilkan. Dalam menghadapi pembangkangan/serangan polisi diberi dispensasi tentang penggunaan cara paksaan, kekerasan dan bahkan penggunaan senjata api tetapi dalam batas batas yang diperbolehkan hukum. Dengan paradigma penegakan hukum yang lebih responsive-persuasif maka kekuatan fisik yang digunakan harus terukur dan seimbang dengan perlawanan.

Polisi dalam proses penyidikan

Pengambilan keputusan dalam proses penyidikan yang dilakukan oleh penyidik menunjukkan karakteristik yang menonjol dari penyidik. Satjipto rahardjo mengatakan bahwa dalam pertukaran ( interchange-interaction ) dengan  masyarakat atau lingkunganya ternyata polisi memperlihatkan suatu karakteristik yang menonjol dibandingkan dengan yang lain ( hakim, jaksa dan advokat ). Polisi adalah hukum yang hidup  atau ujung tombak dalam  penegakan hukum pidana. Dalam melakukan penangkapan dan penahanan misalnya polisi menghadapi atau mempunyai permasalahan  sendiri. Pada saat  memutuskan untuk melakukan penangkapan  dan penahanan polisi sudah menjalankan pekerjaan yang multifungsi yaitu tidak hanya sebagai polisi tetapi sebagai jaksa dan hakim sekaligus. Penyidikan tersebut sangat rawan dan potensial untuk terjadinya penyalahgunaan kekuasaan ( abuse of power ) atau penyimpangan polisi ( police deviation ) baik dalam bentuk police corruption maupun police brutality. Berbagai hasil penelitian menunjukkan  bahwa sebagian besar laporan atau pemberitaan menyangkut pencitraan Polri yang tidak baik adalah berkaitan dengan persoalan sikap dan perilaku petugas Polri di bidang penyidikan.

Berkaitan dengan menyediakan aparatur penegak hukum guna menunjang penegakan hukum yang berkeadilan, B. M. Taverne, seorang pakar hukum negeri Belanda, yang terkenal dengan kata-katanya yang berbunyi, “geef me goede rechter, goede rechter commissarissen, goede officieren van justitieen, goede politie ambtenaren, en ik zal met een slecht wetboek van strafprosesrecht het goede beruken” artinya “berikan aku hakim, jaksa, polisi dan advokat yang baik, maka aku akan berantas kejahatan meskipun tanpa secarik undang-undang pun”. Dengan perkataan lain, “berikan padaku hakim dan jaksa yang baik, maka dengan hukum yang buruk sekalipun saya bisa mendatangkan keadilan.  Artinya, bagaimana pun lengkapnya suatu rumusan undang-undang, tanpa didukung oleh aparatur penegak hukum yang baik, memiliki moralitas dan integritas yang tinggi, maka hasilnya akan buruk.

Etika Profesi Kepolisian sebagai pedoman hidup bagi anggota Polri

Etika profesi kepolisian merupakan kristalisasi nilai-nilai Tribrata yang dilandasi dan dijiwai oleh Pancasila serta mencerminkan jati diri setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam wujud komitmen moral selanjutnya disusun kedalam Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang meliputi pada Etika Kenegaraan, kelembagaan, kemasyarakatan dan kepribadian. Keempat aspek diatas saling berkaitan erat satu sama lain yang secara simultan harus ditumbuh kembangkan oleh setiap insan Polri sebagai aparat penegak hukum yang profesional yang dilandasi dengan nilai-nilai luhur dalam Tribrata, integritas moral, etika profesi dan berpegang teguh pada komitmen yang telah disepakati dalam pelaksanaan tugasnya. Nilai –nilai falsafah hidup yang dimiliki semua ketrampilan teknis yang dibutuhkan polisi dalam menghadapi tantangan social kekinian semua berujung pada upaya merebut kepercayaan publik ( public trust ). Untuk mendapatkan kepercayaan publik itu polisi setidaknya harus memiliki dua hal yaitu pertama, kejujuran baik  secara simbolik  (sesuai presepsi masyarakat) dan substansial, kedua, kapasitas yaitu kemampuan profesional polisi dalam menjalankan fungsi fungsi yang dijalankan sesuai  dengan harapan masyarakat. Oleh karena itu seorang  anggota polisi yang profesional diharapakan mematuhi standar etika yang tertuang dalam peraturan disiplin dan kode etik. Sebagian besar pelanggaran yang terjadi adalah karena faktor lingkungan dan kepribadian dari masing masing anggota kepolisian dalam menghadapi situasi yang mendorong untuk berbuat penyimpangan. Dengan adanya etika kepolisian mampu dijadikan barometer untuk menjadikan pedoman dalam mewujudkan pelaksanaan tugas yang baik bagi penegak hukum.

 

Etika profesi kepolisian merupakan kristalisasi nilai-nilai Tribrata yang dilandasi dan dijiwai oleh Pancasila serta mencerminkan jati diri setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam wujud komitmen moral yang meliputi pada pengabdian, kelembagaan dan keNegaraan,selanjutnya disusun kedalam Kode Etik Profesi Kepolsiian Negara Republik Indonesia.

Etika pengabdian merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap profesinya sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,penegak hukum serta pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

Etika kelembagaan merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap institusinya yang menjadi wadah pengabdian yang patut dijunjung tinggi sebagai ikatan lahir batin dari semua insan Bhayangkara dan segala martabat dan kehormatannya.

Etika keNegaraan merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dan institusinya untuk senantiasa bersikap netral, mandiri dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik, golongan dalam rangka menjaga tegaknya hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia mengikat secara moral, sikap dan perilaku setiap anggota Polri.

Pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Sidang Komisi Kode Etik Profesi Kepolsiian Negara Republik Indonesia guna pemuliaan profesi kepolisian.

Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat berlaku juga pada semua organisasi yang menjalankan fungsi Kepolisian di Indonesia.

 

KODE ETIK PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

  1. UMUM.

Pembinaan kemampuan profesi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam mengemban tugas pokoknya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 dilaksanakan melalui pembinaan etika profesi dan pengembangan pengetahuan serta pengalaman penugasan secara berjenjang, berlanjut dan terpadu. Selanjutnya setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 diwajibkan untuk menghayati dan menjiwai etika profesi Kepolisian yang tercermin dalam sikap dan perilakunya dalam kedinasan maupun kehidupannya sehari-hari.

Etika profesi Kepolisian memuat 3 (tiga) substansi etika yaitu Etika Pengabdian, Kelembagaan dan KeNegaraan yang dirumuskan dan disepakati oleh seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sehingga menjadi kesepakatan bersama sebagai Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang memuat komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai kristalisasi nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Tribrata dan dilandasi oleh nilai-nilai luhur Pancasila.

Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan pedoman perilaku dan sekaligus pedoman moral bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai upaya pemuliaan trhadap profesi kepolisian, yang berfungsi sebagai pembimbing pengabdian, sekaligus menjadi pengawas hati nurani setiap anggota agar terhindar dari perbuatan tercela dan penyalahgunaan wewenang. Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republi Indonesia untuk petama kali ditetapkan oleh Kapolri dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol : Skep/213/VII/1985 tanggal 1 Juli 1985 yang selanjutnya naskah dimaksud terkenal dengan Naskah Ikrar Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia beserta pedoman pengalamannya.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 tahun 1997 dimana pada pasal 23 mempersyaratkan adanya Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka pada tanggal 7 Maret 2001 diterbitkan buku Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan Keputusan Kapolri No. Pol : Kep/05/III/2001 serta buku Petunjuk Administrasi Komisi Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan Keputusan KaPolri No. Pol : Kep/04/III/2001 tanggal 7 Maret 2001.

Perkembangan selanjutnya berdasarkan Ketetapan MPR-RI Nomor : VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia,Ketetapan MPR-RI Nomor VII/MPR/2000 tentang peran Tentara Nasional Indonesia dan peran Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana tersebut dalam pasal 31 sampai dengan pasal 35, maka diperlukan perumusan kembali Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang lebih konkrit agar pelaksanaan tugas Kepolisian lebih terarah dan sesuai dengan harapan masyarakat yang mendambakan terciptanya supremasi hukum dan terwujudnya rasa keadilan.

Selanjutnya perumusan Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia memuat norma perilaku dan moral yang disepakati bersama serta dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas dan wewenang bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sehingga dapat menjadi pendorong semangat dan rambu-rambu nurani setiap anggota untuk pemuliaan profesi Kepolisian guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan organisasi pembina profesi Kepolisian yang berwenang membentuk Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia di semua tingkat organisasi, selanjutnya berfungsi untuk menilai dan memeriksa pelanggaran yang dilakukan oleh anggota terhadap ketentuan Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

BAB I

ETIKA PENGABDIAN

Pasal 1

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menunjukkan sikap pengabdiannya berperilaku :

  1. Menjunjung tinggi sumpah sebagai anggota Polri dari dalam hati nuraninya kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. Menjalankan tugas keNegaraan dan kemasyarakatan dengan niat murni karea kehendak Yang Maha Kuasa sebagai wujud nyata amal ibadahnya;
  3. Menghormati acara keagamaan dan bentuk-bentuk ibadah yang diselenggarakan masyarakat dengan menjaga keamanan dan kekhidmatan pelaksanaannya.

Pasal 2

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia berbakti kepada nusa dan bangsa sebagai wujud pengabdian tertinggi dengan :

  1. Mendahulukan kehormatan bangsa Indonesia dalam kehidupannya;
  2. Menjunjung tinggi lambang-lambang kehormatan bangsa Indonesia;
  3. Menampilkan jati diri bangsa Indonesia yang terpuji dalam semua keadaan dan seluruh waktu;
  4. Rela berkorban jiwa dan raga untuk bangsa Indonesia.

Pasal 3

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas memlihara keamanan dan ketertiban umum selalu menunjukkan sikap perilaku dengan :

  1. Meletakkan kepentingan Negara, bangsa, masyarakat dan kemanusiaan diatas kepentingan pribadinya;
  2. Tidak menuntut perlakuan yang lebih tinggi dibandingkan degan perlakuan terhadap semua warga Negara dan masyarakat;
  3. Menjaga keselamatan fasilitas umum dan hak milik perorangan serta menjauhkan sekuat tenaga dari kerusakan dan penurunan nilai guna atas tindakan yang diambil dalam pelaksanaan tugas.

Pasal 4

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas menegakan hukum wajib memelihara perilaku terpercaya dengan :

  1. Menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah;
  2. Tidak memihak;
  3. Tidak melakukan pertemuan di luar ruang pemeriksaan dengan pihak-pihak yang terkait dengan perkara;
  4. Tidak mempublikasikan nama terang tersangka dan saksi;
  5. Tidak mempublikasikan tatacara, taktik dan teknik penyidikan;
  6. Tidak menimbulkan penderitaan akibat penyalahgunaan wewenang dan sengaja menimbulkan rasa kecemasan, kebimbangan dan ketergantungan pada pihak-pihak yang terkait dengan perkara;
  7. Menunjukkan penghargaan terhadap semua benda-benda yang berada dalam penguasaannya karena terkait dengan penyelesaian perkara;
  8. Menunjukkan penghargaan dan kerja sama dengan sesama pejabat Negara dalam sistem peradilan pidana;
  9. Dengan sikap ikhlas dan ramah menjawab pertanyaan tentang perkembangan penanganan perkara yang ditanganinya kepada semua pihak yang terkait dengan perkara pidana yang dimaksud, sehingga diperoleh kejelasan tentang penyelesaiannya.

Pasal 5

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat senantiasa :

  1. Memberikan pelayanan terbaik;
  2. Menyelamatkan jiwa seseorang pada kesempatan pertama;
  3. Mengutamakan kemuahan dan tidak mempersulit;
  4. Bersikap hormat kepada siapapun dan tidak menunjukkan sikap congkak/arogan karena kekuasaan;
  5. Tidak membeda-bedakan cara pelayanan kepada semua orang;
  6. Tidak mengenal waktu istirahat selama 24 jam, atau tidak mengenal hari libur;
  7. Tidak membebani biaya, kecuali diatur dalam peraturan perundang-undangan;
  8. Tidak boleh menolak permintaan pertolongan bantuan dari masyarakat dengan alasan bukan wilayah hukumnya atau karena kekurangan alat dan orang;
  9. Tidak mengeluarkan kata-kata atau melakukan gerakan-gerakan anggota tubuhnya yang mengisyaratkan meminta imbalan atas batuan Polisi yang telah diberikan kepada masyarakat.

Pasal 6

(1)  Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menggunakan kewenangannya senantiasa berdasarkan pada Norma hukum dan mengindahkan norma agama,kesopanan, kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan.

(2)   Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa memegang teguh rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah kedinasan perlu dirahasiakan.

Pasal 7

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela yang dapat merusak kehormatan profesi dan organisasinya, dengan tidak melakukan tindakan-tindakan berupa :

  1. Bertutur kata kasar dan bernada kemarahan;
  2. Menyalahi dan atau menyimpang dari prosedur tugas;
  3. Bersikap mencari-cari kesalahan masyarakat;
  4. Mempersulit masyarakat yang membutuhkan bantuan/pertolongan;
  5. Menyebarkan berita yang dapat meresahkan masyarakat;
  6. Melakukan perbuatan yang dirasakan merendahkan martabat perempuan;
  7. Melakukan tindakan yang dirasakan sebagai perbuatan menelantarkan anak-anak dibawah umum;
  8. Merendahkan harkat dan martabat manusia.

 

BAB II

ETIKA KELEMBAGAAN

Pasal 8

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menjunjung tinggi institusinya dengan menempatkan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadi.

Pasal 9

(1) Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia memegang teguh garis komando,mematuhi jenjang kewenangan, dan bertindak disiplin berdasarkan aturan dan tata cara yang berlaku.

(2) Setiap atasan tidak dibenarkan memberikan perintah yang bertentangan dengan norma hukum yang berlaku dan wajib bertanggung jawab atas pelaksanaan perintah yang diberikan kepada anggota bawahannya.

(3) Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dibenarkan menolak perintah atasan yang melanggar norma hukum dan untuk itu anggota tersebut mendapatkan perlinungan hukum.

(4) Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan perintah kedinasan tidak dibenarkan melampaui batas kewenangannya dan wajib menyampaikan pertanggungjawaban tugasnya kepada atasan langsunnya.

(5) Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya tidak boleh terpengaruh oleh istri, anak dan orang-orang lain yang masih terkait hubungan keluarga atau pihak lain yang tidak ada hubungannya dengan kedinasan.

Pasal 10

(1) Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menampilkan sikap kepemimpinan melalui keteladanan, keadilan, ketulusan dan kewibawaan serta melaksanakan keputusan pimpinan yang dibangun melalui tata cara yang berlaku guna tercapainya tujuan organisasi.

(2) Dalam proses pengambilan keputusan boleh berbeda pendapat sebelum diputuskan pimpinan dan setelah diputuskan semua anggota harus tundak pada keputusan tersebut.

(3) Keputusan pimpinan diambil setelah mendengar semua pendapat dari unsur-unsur yang terkait, bawahan dan teman sejawat sederajat, kecuali dalam situasi yang mendesak.

Pasal 11

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa menjaga kehormatan melalui penampilan seragam dan atau atribut, tanda, pangkat jabatan dan tanda kewenangan Polri sebagai lambang kewibawaan hukum, yang mencerminkan tanggung jawab serta kewajibannya kepada institusi dan masyarakat.

Pasal 12

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa menampilkan rasa setiakawan dengan sesama anggota sebagai ikatan batin yang tulus atas dasar kesadaran bersama akan tanggug jawabnya sebagai salah satu … keutuhan bangsa Indonesia, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kehormatan sebagai berikut :

  1. Menyadari sepenuhnya sebagi perbuatan tercela apabila meninggalkan kawan yang terluka atau meninggal dunia dalam tugas sedangkan keadaan memungkinkan untuk memberi pertolongan;
  2. Merupakan ketelaanan bagi seorang atasan untuk membantu kesulitan bawahannya;
  3. Merupakan kewajiban moral bagi seorang bawahan untuk menunjukkan rasa hormat dengan tulus kepada atasannya;
  4. Menyadari sepenuhnya bahwa seorang atasan akan lebih terhormat apabila menunjukkan sikap menghargai yang sepada kepada bawahannya;
  5. Merupakan sikap terhomat bagi anggota Polri baik yang masih dalam dinas aktif maupun purnawirawan untuk menghadiri pemaaman jenazah anggota Polri lainnya yang meninggal karena gugur dalam tugas ataupun meninggal karena sebab apapun, dimana kehadiran dalam pemakaman tersebut dengan menggunakan atribut kehormatan dan tataran penghormatan yang setinggi-tingginya;
  6. Selalu terpanggil untuk memberikan bantuan kepada anggota Polri dan purnawirawan Polri yang menghadapi suatu kesulitan dimana dia berada saat itu, serta bantuan dan perhatian yang sama sedapat mungkin juga diberikan kepada keluarga anggota Polri yang mengalami kesulitan serupa dengan memperhatikan batas kemampuan yang dimilikinya;
  7. Merupakan sikap terhormat apabila mampu menahan diri untuk tidak menyampaikan dan menyebarkan rahasia pribadi, kejelekan teman atau keadaan didalam lingkungan Polri kepada orang lain yang bukan anggota Polri.

BAB III

ETIKA KENEGARAAN

Pasal 13

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia siap sedia menjaga keutuhan wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasaran Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, memelihara persatuan dan kesatuan kebhinekaan bangsa dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat.

Pasal 14

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menjaga jarak yang sama dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik taktis, serta tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik golongan tertentu.

Pasal 15

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa berpegang teguh pada konstitusi dalam menyikapi perkembangan situasi yang membahayakan keselamatan bangsa dan Negara.

Pasal 16

Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menjaga keamanan Presiden Republik Indonesia dan menghormati serta menjalankan segala kebijakannya sesuai dengan jiwa konstitusi maupun hukum yang berlaku demi keselamatan Negara dan keutuhan bangsa.

BAB IV

PENEGAKAN KODE ETIK PROFESI

Pasal 17

Setiap pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dikenakan sanksi moral, berupa :

  1. Perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela;
  2. Kewajiban pelanggar untuk menyatakan penyesalan atau meminta maaf secara terbatas ataupun secara terbuka;
  3. Kewajiban pelanggar untuk mengikuti pembinaan ulang profesi;
  4. Pelanggar dinyatakan tidak layak lagi untuk menjalankan profesi Kepolisian.

Pasal 18

Pemeriksaan atas pelanggaran Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dilakukan oleh Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pasal 19

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan 18, diatur lebih lanjut dengan Tata Cara Sidang Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

BAB V

PENUTUP

Pasal 20

Merupakan kehormatan yang tertinggi bagi setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menghayati, menaati dan mengamalkan Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya maupun dalam kehidupan sehari-hari demi pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan Negara.

 

BAB DAN PASAL-PASALNYA.

Setiap Kode Etik Profesi pada umumnya memuat materi pokok yaitu nilai-nilai/ide yang bersifat mendasar (Statement of ideas) dan prinsip-prinsip pelaksanaan tugas sehari-hari (Statement of guidelines/principles in the simply duties). Oleh karena itu pada naskah Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia memuat ; Bab I berisi nilai-nilai dasar tentang jatidiri anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menggambarkan nilai-nilai pengabdian sebagaimana terumus dalam filosofi Tribrata, berisi norma moral dalam etika kedinasan yang menggambarkan tingkat profesionalisme anggota, Bab II berisi komitmen moral setiap individu anggota dan institusinya yang berhubungan dengna institusi lainnya dalam kehidupan bernegara, dan Bab IV berisi ketentuan penegakan Kode Etik Profesi Polri yang mengatur ketentuan sanksi moral dan Tata Cara Sidang Komisi.
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia itu tunduk pada kekuasaan peradilan umum seperti halnya warga sipil pada umumnya. Demikian yang disebut dalamPasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (“UU Kepolisian”). Hal ini menunjukkan bahwa anggota Kepolisian RI (“Polri”) merupakan warga sipil dan bukan termasuk subjek hukum militer.

Namun, karena profesinya, anggota Polri juga tunduk pada Peraturan Disiplin dan Kode Etik Profesi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (“PP 2/2003”). Sedangkan, kode etik kepolisian diatur dalamPerkapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia(“Perkapolri 14/2011”).

Pada dasarnya, Polri harus menjunjung tinggi kehormatan dan martabat Negara, Pemerintah, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Pasal 3 huruf c PP 2/2003) dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang berhubungan dengan tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum (Pasal 3 huruf g PP 2/2003). Dengan melakukan tindak pidana, ini berarti Polri melanggar peraturan disiplin.

Pelanggaran Peraturan Disiplin adalah ucapan, tulisan, atau perbuatan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang melanggar peraturan disiplin (Pasal 1 angka 4 PP 2/2003). Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang ternyata melakukan pelanggaran Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dijatuhi sanksi berupa tindakan disiplin dan/atau hukuman disiplin (Pasal 7 PP 2/2003).

Tindakan disiplin berupa teguran lisan dan/atau tindakan fisik (Pasal 8 ayat (1) PP 2/2003). Tindakan disiplin tersebut tidak menghapus kewenangan Atasan yang berhak menghukum (“Ankum”) untuk menjatuhkan Hukuman Disiplin.

 

Adapun hukuman disiplin tersebut berupa [Pasal 9 PP 2/2003]:

  1. teguran tertulis;
  2. penundaan mengikuti pendidikan paling lama 1 (satu) tahun;
  3. penundaan kenaikan gaji berkala;
  4. penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1 (satu) tahun;
  5. mutasi yang bersifat demosi;
  6. pembebasan dari jabatan;
  7. penempatan dalam tempat khusus paling lama 21 (dua puluh satu) hari.

 

Untuk pelanggaran disiplin Polri, penjatuhan hukuman disiplin diputuskan dalam sidang disiplin [lihat Pasal 14 ayat (2) PP 2/2003].

Jadi, jika polisi melakukan tindak pidana misalkan pemerkosaan, penganiyaan, dan pembunuhan (penembakan) terhadap warga sipil seperti yang Anda sebut, maka polisi tersebut tidak hanya telah melakukan tindak pidana, tetapi juga telah melanggar disiplin dan kode etik profesi polisi.

Sebagaimana yang pernah dijelaskan dalam artikel Proses Hukum Oknum Polisi yang Melakukan Tindak Pidana, pelanggaran terhadap aturan disiplin dan kode etik akan diperiksa dan bila terbukti akan dijatuhi sanksi. Penjatuhan sanksi disiplin serta sanksi atas pelanggaran kode etik tidak menghapus tuntutan pidana terhadap anggota polisi yang bersangkutan [lihat Pasal 12 ayat (1) PP 2/2003 jo. Pasal 28 ayat (2) Perkapolri 14/2011]. Oleh karena itu, polisi yang melakukan tindak pidana tersebut tetap akan diproses secara pidana walaupun telah menjalani sanksi disiplin dan sanksi pelanggaran kode etik.

 

Sumber :

http://krisnaptik.com/polri-4/hukum-kepolisian/etika-kepolisian-dalam-profesi-kepolisian-di-bidang-penegakan-hukum/

http://www.metro.polri.go.id/kode-etik-kepol

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5508eb055201c/polisi-melakukan-tindak-pidana,-sidang-etik-atau-peradilan-umum-dulu

STANDAR TEKNIK DAN MANAJEMEN

  1. STANDAR TEKNIK
    • Pengertian Standar Teknik

Standard Teknik adalah serangkaian eksplisit persyaratan yang harus dipenuhi oleh bahan, produk, atau layanan. Jika bahan, produk atau jasa gagal memenuhi satu atau lebih dari spesifikasi yang berlaku, mungkin akan disebut sebagai berada di luar spesifikasi. Sebuah standard teknik dapat dikembangkan secara pribadi, misalnya oleh suatu perusahaan, badan pengawas, militer, dll: ini biasanya di bawah payung suatu sistem manajemen mutu. Mereka juga dapat dikembangkan dengan standar organisasi yang sering memiliki lebih beragam input dan biasanya mengembangkan sukarela standar : ini bisa menjadi wajib jika diadopsi oleh suatu pemerintahan, kontrak bisnis, dll. Istilah standard teknik yang digunakan sehubungan dengan lembar data (atau lembar spec). Sebuah lembar data biasanya digunakan untuk komunikasi teknis untuk menggambarkan karakteristik teknis dari suatu item atau produk. Hal ini dapat diterbitkan oleh produsen untuk membantu orang memilih produk atau untuk membantu menggunakan produk.

  • Penggunaan Standard Teknik

Dalam rekayasa, manufaktur, dan bisnis, sangat penting bagi pemasok, pembeli, dan pengguna bahan, produk, atau layanan untuk memahami dan menyetujui semua persyaratan. Standard teknik adalah jenis sebuah standar yang sering dirujuk oleh suatu kontrak atau dokumen pengadaan. Ini menyediakan rincian yang diperlukan tentang persyaratan khusus. Standard teknik dapat ditulis oleh instansi pemerintah, organisasi standar (ASTM, ISO, CEN, dll), asosiasi perdagangan, perusahaan, dan lain-lain.

Dalam kemampuan proses pertimbangan sebuah standard teknik yang baik, dengan sendirinya, tidak selalu berarti bahwa semua produk yang dijual dengan standard teknik yang benar-benar memenuhi target yang terdaftar dan toleransi. Realisasi produksi dari berbagai bahan, produk, atau layanan yang melekat dengan melibatkan variasi output. Dengan distribusi normal, proses produksi dapat meluas melewati plus dan minus tiga standar deviasi dari rata-rata proses. Kemampuan proses bahan dan produk harus kompatibel dengan toleransi teknik tertentu. Adanya proses kontrol dan sistem manajemen mutu efektif, seperti Total Quality Management, kebutuhan untuk menjaga produksi aktual dalam toleransi yang diinginkan.

  • Macam Macam Standar Teknik

1. ASME (American Society of Mechanical Engineers)

ASME, didirikan sebagai American Society of Mechanical Engineers, adalah asosiasi profesional yang, dalam kata-kata sendiri, “mempromosikan seni, ilmu pengetahuan, dan praktik rekayasa multidisiplin ilmu dan sekutu di seluruh dunia.”Ia menyelesaikan promosi melalui “terus, kode pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesional dan standar, penelitian, konferensi dan publikasi, hubungan dengan pemerintah, dan bentuk lain dari jangkauan.”  ASME demikian masyarakat teknik, organisasi standar, penelitian dan pengembangan organisasi, sebuah organisasi lobi, penyedia pelatihan dan pendidikan, dan organisasi nirlaba. Didirikan sebagai masyarakat rekayasa berfokus pada teknik mesin di Amerika Utara,

ASME adalah hari ini multidisiplin dan global. Visi organisasi lain adalah menjadi organisasi utama untuk mempromosikan seni, ilmu pengetahuan dan praktek teknik mesin dan multidisiplin ilmu dan sekutu bagi masyarakat yang beragam di seluruh dunia.  Misinya adalah untuk mempromosikan dan meningkatkan kompetensi teknis dan profesional kesejahteraan anggotanya, dan melalui program kualitas dan kegiatan di teknik mesin, lebih memungkinkan praktisi untuk memberikan kontribusi pada kesejahteraan umat manusia.  ASME memiliki lebih 120.000 anggota di lebih dari 150 negara di seluruh dunia.

ASME didirikan pada 1880 oleh Alexander Lyman Holley, Henry Rossiter Worthington, John Edison Sweet and Matthias N. Forney dalam menanggapi berbagai kegagalan uap boiler tekanan pembuluh. Organisasi ini dikenal untuk menetapkan kode dan standar untuk perangkat mekanis. ASME melakukan salah satu operasi terbesar di dunia penerbitan teknis melalui nya ASME Press,  menyelenggarakan konferensi teknis banyak dan ratusan kursus pengembangan profesional setiap tahun, dan mensponsori penjangkauan banyak dan program pendidikan.

Nilai-nilai inti meliputi:

  1. Merangkul  integritas dan perilaku etis
  2. Merangkul keragaman dan menghormati martabat dan budaya dari semua orang
  3. Memelihara dan menghargai lingkungan dan sumber daya alam kita dan buatan manusia
  4. Memfasilitasi pengembangan, penyebaran dan penerapan pengetahuan teknik
  5. Mempromosikan manfaat dari pendidikan berkelanjutan dan pendidikan teknik
  6. Menghormati dan dokumen sejarah rekayasa sementara terus merangkul perubahan
  7. Meningkatkan kontribusi teknis dan sosial dari insinyur

2. ANSI (American National Standards Institute)

American National Standards Institute (ANSI) adalah sebuah lembaga nirlaba swasta yang mengawasi pengembangan standar konsensus sukarela untuk produk, jasa, proses, sistem, dan personil di Amerika Serikat. Lembaga tersebut mengawasi pembuatan, diberlakukannya, dan penggunaan ribuan norma dan pedoman yang secara langsung berdampak bisnis di hampir setiap sektor.

Lembaga tersebut juga mengkoordinasikan standar Amerika Serikat dengan standar internasional sehingga produk-produk Amerika Serikat dapat digunakan di seluruh dunia. Lembaga tersebut memberi akreditasi untuk standar yang yang dikembangkan oleh perwakilan dari lembaga pengembang standar, instansi pemerintah, kelompok konsumen, perusahaan, dan lain-lain. Standar tersebut memastikan agar karakteristik dan kinerja produk yang konsisten sehingga masyarakat menggunakan definisi dan istilah yang sama, dan produk diuji dengan cara yang sama. ANSI juga memberi akreditasi bagi organisasi yang melaksanakan sertifikasi produk atau personel sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar internasional.

American National Standards Institute didirikan pada tanggal 19 Oktober 1918 dengan misi untuk meningkatkan daya saing global bagi bisnis dan kualitas hidup Amerika Serikat dengan mempromosikan serta memfasilitasi standar konsensus sukarela dan sistem penilaian kesesuaian.

3. ASTM (American Standard Testing and Material)

ASTM Internasional merupakan organisasi internasional sukarela yang mengembangkan standardisasi teknik untuk material, produk, sistem dan jasa. ASTM Internasional yang berpusat di Amerika Serikat. ASTM merupakan singkatan dari  American Society for Testing and Material, dibentuk pertama kali pada tahun 1898 oleh sekelompokinsinyur dan ilmuwan untuk mengatasi bahan baku besi pada rel kereta api yang selalu bermasalah. Sekarang ini, ASTM mempunyai lebih dari 12.000 buah standar. Standar ASTM banyak digunakan pada negara-negara maju maupun berkembang dalam penelitian akademisi maupun industri.

Standar yang dihasilkan oleh ASTM International jatuh ke dalam enam kategori :

  • Standar Spesifikasi, yang mendefinisikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh subjek standar.
  • Metode Uji Standar , yang mendefinisikan cara tes dilakukan dan ketepatan hasil. Hasil tes dapat digunakan untuk menilai kepatuhan dengan standar Spesifikasi.
  • Praktek Standard, yang mendefinisikan urutan operasi yang, tidak seperti Metode Uji Standar, tidak menghasilkan hasil.
  • Standar Panduan, yang menyediakan sebuah koleksi terorganisir dari informasi atau serangkaian pilihan yang tidak merekomendasikan aksi tertentu.
  • Klasifikasi Baku , yang menyediakan pengaturan atau pembagian bahan, produk, sistem, atau layanan ke dalam kelompok berdasarkan karakteristik yang sama seperti asal, komposisi, sifat, atau penggunaan.
  • Standar Terminologi, yang menyediakan definisi istilah yang digunakan dalam standar lain yang disepakati.

4. TEMA (The Tubular Exchanger Manufacturers Association)

The Tubular Exchanger Manufacturers Association, Inc (TEMA) adalah asosiasi perdagangan dari produsen terkemuka shell dan penukar panas tabung, yang telah merintis penelitian dan pengembangan penukar panas selama lebih dari enam puluh tahun. Standar TEMA dan perangkat lunak telah mencapai penerimaan di seluruh dunia sebagai otoritas pada desain shell dan tube penukar panas mekanik.
TEMA adalah organisasi progresif dengan mata ke masa depan. Anggota pasar sadar dan secara aktif terlibat, pertemuan beberapa kali setahun untuk mendiskusikan tren terkini dalam desain dan manufaktur. Organisasi internal meliputi berbagai subdivisi berkomitmen untuk memecahkan masalah teknis dan meningkatkan kinerja peralatan. Upaya teknis koperasi menciptakan jaringan yang luas untuk pemecahan masalah, menambah nilai dari desain untuk fabrikasi.

Apakah memiliki penukar panas yang dirancang, dibuat atau diperbaiki, Anda dapat mengandalkan pada anggota TEMA untuk memberikan desain, terbaru efisien dan solusi manufaktur. TEMA adalah cara berpikir – anggota tidak hanya meneliti teknologi terbaru, mereka menciptakan itu. Selama lebih dari setengah abad tujuan utama kami adalah untuk terus mencari inovasi pendekatan untuk aplikasi penukar panas. Akibatnya, anggota TEMA memiliki kemampuan yang unik untuk memahami dan mengantisipasi kebutuhan teknis dan praktis pasar saat ini.

5. API (American Petroleum Institute)

API atau American Petroleum Institute adalah suatu “Main US trade association ” untuk Industry Oil and Gas yang mewakili sekitar 400 Perusahaan yang tersebar di Production, Refinement and Distribution, serta industry lainnya, kadang juga disebut sebagai AOI atau American Oil Industry. Sejak tahun 1924, API sudah membuat standard untuk keperluan Industry Minyak dan Gas Alam dunia.

Fungsi utama asosiasi atas nama industri termasuk advokasi dan negosiasi dengan lembaga-lembaga pemerintah, hukum, dan peraturan; penelitian dampak ekonomi, toksikologi, dan lingkungan; pembentukan dan sertifikasi standar industri; dan penjangkauan pendidikan API baik dana dan. melakukan penelitian yang berkaitan dengan banyak aspek dari industri minyak bumi The CEO saat ini adalah Jack Gerard.

PI mendistribusikan lebih dari 200.000 eksemplar publikasi setiap tahun. Publikasi, standar teknis, dan produk elektronik dan online yang dirancang, menurut API sendiri, untuk membantu pengguna meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya operasi mereka, sesuai dengan persyaratan legislatif dan peraturan, dan menjaga kesehatan, menjamin keamanan, dan melindungi lingkungan hidup. Setiap publikasi diawasi oleh komite profesional industri, sebagian besar insinyur perusahaan anggota.

Saat ini API memantain sekitar 550 Standard yang meliputi seluruh aspek didalam Industry Minyak dan Gas Alam. API juga ikut terlibat secara aktif didalam pembuatan dan pengembangan ISO atau International Standard Organization yang juga sesuai untuk digunakan di dunia industry secara umum. Setiap tahunnya lebih dari 100,000 publications disebar keseluruh penjuru dunia oleh API.

 

6.  JIS  (JAPANESE INDUSTRIAL STANDARD)

Standar Industri Jepang (JIS) menentukan standar yang digunakan untuk kegiatan industri di Jepang. Proses standarisasi dikoordinasikan oleh Jepang Komite Standar Industri dan dipublikasikan melalui Asosiasi Standar Jepang. Di era Meiji, perusahaan swasta bertanggung jawab untuk membuat standar meskipun pemerintah Jepang tidak memiliki standar dan dokumen spesifikasiuntuk tujuan pengadaan untuk artikel tertentu, seperti amunisi. Ini diringkas untuk membentuk standar resmi (JES lama) pada tahun 1921. Selama Perang Dunia II, standar disederhanakan didirikan untuk meningkatkan produksi materiil.

Organisasi  Jepang ini Standards Association didirikan setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II pada 1945. Para Industri Jepang Komite Standar peraturan yang diundangkan pada tahun 1946, standar Jepang  (JES baru) dibentuk.   Hukum Standardisasi Industri disahkan pada 1949, yang membentuk landasan hukum bagi Standar hadir Industri Jepang (JIS). Hukum Standardisasi Industri direvisi pada tahun 2004 dan “JIS tanda”  (produk sistem sertifikasi) diubah sejak 1 Oktober 2005, baru JIS tanda telah diterapkan pada sertifikasi ulang.  Penggunaan tanda tua diizinkan selama masa transisi tiga tahun (sampai 30 September 2008), dan setiap produsen mendapatkansertifikasi baru atau memperbaharui bawah persetujuan otoritas telah mampu untuk menggunakan merek JIS baru. Oleh karena itu semua JIS-bersertifikat produk Jepang telah memiliki JIS tanda baru sejak 1 Oktober 2008.

 

7.  DIN (Deutsches Institut für Normung )

Deutsches Institut für Normung ( DIN , dalam bahasa Inggris, the German Institute for Standardization ) adalah organisasi nasional Jerman untuk standardisasi dan anggota ISO negara itu . DIN adalah Asosiasi Jerman yang sudah Terdaftar dan berkantor pusat di Berlin . Saat ini ada sekitar tiga puluh ribu Standar DIN , meliputi hampir setiap bidang teknologi .

DIN Didirikan pada tahun 1917 sebagai Normenausschuß der Deutschen Industrie ( NADI , ” Komite Standardisasi Industri Jerman ” ) , NADI ini berganti nama Deutscher Normenausschuß ( DNA , ” Komite Standarisasi German ” ) pada tahun 1926 untuk mencerminkan bahwa organisasi sekarang berurusan dengan isu-isu standardisasi di banyak bidang ; yaitu , tidak hanya untuk produk industri . Pada tahun 1975 itu diubah namanya lagi untuk Deutsches Institut für Normung , atau ‘ DIN ‘ dan diakui oleh pemerintah Jerman sebagai badan nasional standar resmi , yang mewakili kepentingan Jerman di tingkat internasional dan Eropa.

Akronim , ‘ DIN , ‘ sering salah diperluas sebagai Deutsche Industrienorm ( ” Standar Industri Jerman ” ) . Hal ini sebagian besar disebabkan oleh asal bersejarah DIN sebagai ” NADI ” . NADI memang diterbitkan standar mereka sebagai DI – Norm ( Deutsche Industrienorm ) . Sebagai contoh, standar pertama kali diterbitkan adalah ‘ DI – Norm 1 ‘ (tentang pin peruncing ) pada tahun 1918. Banyak orang masih mengasosiasikan DIN keliru dengan yang lama DI – Norm konvensi penamaan. Salah satu yang paling awal , dan mungkin yang paling terkenal , adalah DIN 476 – standar yang memperkenalkan ukuran kertas A -series tahun 1922 – yang diadopsi pada tahun 1975 sebagai Standar Internasional ISO 216. Contoh umum dalam teknologi modern termasuk DIN dan mini – DIN konektor . Penunjukan standar DIN menunjukkan asal-usulnya ( # menunjukkan angka ) :

  • DIN # digunakan untuk standar Jerman dengan signifikansi terutama domestik atau dirancang sebagai langkah pertama menuju status internasional .
  • E DIN # adalah rancangan standar dan DIN V # adalah standar awal .
  • DIN EN # dipakai untuk edisi Jerman standar Eropa .
  • DIN ISO # digunakan untuk edisi Jerman standar ISO .
  • ISO DIN ID # digunakan jika standar ini juga telah -adopted sebagai standar Eropa .

Contoh standar DIN

  • DIN 476 : ukuran kertas internasional (sekarang ISO 216 atau DIN EN ISO 216 )
  • DIN 946 : Penentuan koefisien gesekan rakitan baut / mur dalam kondisi tertentu .
  • DIN 1451 : jenis huruf yang digunakan oleh kereta api Jerman dan pada rambu lalu lintas
  • DIN 4512 : Definisi kecepatan film , sekarang digantikan oleh ISO 5800 : 1987 , ISO 6 : 1993 dan ISO 2240 : . 2003
  • DIN 31635 : transliterasi dari bahasa Arab
  • DIN 72552 : nomor terminal listrik di mobil

8. BSI

BSI Standar adalah Inggris Badan Standar Nasional (NSB) dan merupakan pertama di dunia. Ia mewakili kepentingan Inggris ekonomi dan sosial di semua organisasi standar Eropa dan internasional dan melalui pengembangan solusi informasi bisnis untuk organisasi Inggris dari semua ukuran dan sektor. BSI Standar bekerja dengan industri manufaktur dan jasa, bisnis, pemerintah dan konsumen untuk memfasilitasi produksi standar Inggris, Eropa dan internasional.Bagian dari BSI Group, BSI Standar memiliki hubungan kerja yang erat dengan pemerintah Inggris, terutama melalui Departemen Inggris untuk Bisnis, Inovasi dan Keterampilan (BIS). BSI Standar adalah nirlaba mendistribusikan organisasi, yang berarti bahwa setiap keuntungan yang diinvestasikan kembali ke dalam layanan yang disediakan.

9.  SNI  (Standar Nasional Indoesia)

Salah satu contoh standart teknik adalah SNI ( Standart Nasional Indonesia ). SNI adalah satu – satunya standart yang berlaku secara nasional di Indonesia, dimana semua produk atau tata tertib pekerjaan harus memenuhi standart SNI ini. Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:

  1. Openess :Terbuka agar semua stakeholder dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
  2. Transparency:agar stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya.
  3. Consensus and impartiality :agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
  4. Effectiveness and relevance:memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  5. Coherence:Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional.
  6. Development dimension (berdimensi pembangunan):agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.

 

SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh BSN yaitu untuk membina, mengembangkan serta mengkoordinasikan kegiatan di bidang standardisasi secara nasional menjadi tanggung jawab Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Contoh Standart Nasional Indonesia yang telah diterapkan di Indonesia salah satunya adalah tentang penggunaan Informasi dan Dokumentasi – Internasional Standard Serial Number (ISSN). SNI ini merupakan adopsi identic dari ISO 3297:2007, ini dirumuskan oleh Panitia Teknis 01-03, Informasi dan Dokumentasi, dan telah dibahas dirapat konsensus pada 21 November 2007 di Jakarta. Rapat dihadiri oleh wakil dari produsen, kelompok pakar, himpunan profesi, dan instansi terkait lainnya.

Kebutuhan kode pengenal ringkas dan unik sudah menjadi kebutuhan bagi semua pihak, pertukaran informasi yang baik diantara perpustakaan, produsen abstrak, dan pengguna data, maupun diantara pemasok, distributor dan perantara lainnya menyebabkan terciptanya kode standart. Standart nasional ini menjelaskan dan memasyarakatkan penggunaan kode stansart (ISSN) sebagai identifikasi unik untuk terbitan berseri dan sumber daya berlanjut lainnya.

ISSN adalah nomor denan 8 digit, termasuk digit cek, dan diketahui oleh ISSN yang diberikan kepada sumberdaya berlanjut oleh jaringan ISSN.

Susunan ISSN :

  • ISSN terdiri atas delapan digit berupa angka 0 sampai 9, kecuali digit terakhir (posisi paling kanan) yang dapat juga berupa huruf besar X. digit terakhir dapat menjadi digit cek.
  • Digit cek dihitung berdasarkan modulus 11 dengan bobot 8 sampai 2 dan X harus digunakan sebagai digit cek bila digit cek adalah 10.
  • ISSN harus didahului dengan singkatan ISSN dan satu spasi, serta ditampilkan dalam dua kelompok yang masing – masing terdiri atas empat digit yang dipisahkan oleh tanda hugung. Contoh : ISSN 0251 – 1479.

Pemberian ISSN

  • ISSN hanya diberikan oleh pusat dalam jaringan ISSN. Jaringan ISSN adalah lembaga kolektifyang terdiri atas Pusat Internasional ISSN serta pusat nasional dan regional yang menjalankan administrasi pemberian ISSN.
  • Metadata untuk sumber daya berlanjut yang mendapatkan ISSN harus dikumpulkan dan diserahkan pada waktu yang ditentukan oleh Pusat Internasional ISSN ke Register ISSN oleh pusat dalam jaringan ISSN yang mendaftar sumber daya berlanjut.
  • Untuk setiap sumber daya berlanjut dalam media tertentu sebagaimana ditentukan dalam ISSN Manual hanya diberikan satu ISSN.
  • Setiap ISSN terkait selamanya dengan judul kunci yang ditetapkan oleh jaringan ISSN pada saat pendaftaran.
  • Bila suatu sumber daya berlanjut diterbitkan dalam media yang berbeda dengan judul yang sama atau berbeda, ISSN dan judul kunci yang berlainan harus diberikan untuk setiap edisi.
  • Bila sumber daya berlanjut mengalami perubahan berarti dalam judul atau perubahan besar lain seperti yang disebut dalam ISSN Manual, ISSN baru harus diberikan dan judul kunci baru harus dibuat.
  • ISSN yang telah diberikan untuk sumber daya berlanjut tidak dapat diubah, diganti atau digunakan lagi untuk terbitan lain.
  • Judul kunci ditetapkan atau disahkan oleh pusat ISSN yang bertanggung jawab atas pendaftaran sumber daya berlanjut, sesuai dengan peraturan yang terdapat dalam ISSN Manual.
  • Pemberian ISSN kepada sumber daya berlanjut tidak dapat diartikan atau dianggap sebagai bukti hokum kepemilikan hak cipta atas suatu terbitan atau isinya

 

  1. STANDAR MANAJEMEN

2.1       Pengertian Standar Manajemen Mutu

Standar manajemen adalah struktur tugas, prosedur kerja, sistem manajemen dan standar kerja dalam bidang kelembagaan, usaha serta keuangan. Namun pengertian standar manajemen akan lebih spesifik jika menjadi standar manajemen mutu, untuk mendukung standarisasi pada setiap mutu produk yang di hasilkan perusahan maka hadirlah Organisasi Internasional untuk Standarisasi yaitu Internasional Organization for Standardization (ISO) berperan sebagai badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil badan standarisasi nasional setiap negara

ISO didirikan pada 23 februari 1947, ISO menetapkan standar-standar industrial dan komersial dunia, ISO adalah jaringan institusi standar nasional dari 148 negara, pada dasarnya satu anggota pernegara, ISO bukan organisasi pemerintah ISO menempati posisi spesial diantara pemerintah dan swasta. Oleh karena itu, ISO mampu bertindak sebagai organisasi yang menjembatani dimana konsensus dapat diperoleh pada pemecahan masalah yang mempertemukan kebutuhan bisnis dan kebutuhan masyarakat.

Proses sertifikasi untuk persyaratan Standar Sistem Manajemen Mutu, misalnya ISO 9001:2000, adalah diakui sebagai suatu upaya dan cara uji dari peningkatan kinerja dan produktifitas perusahaan dan juga sebagai pembanding terhadap hasil kerja dan pencapaian keunggulan bisnis. Yang dimaksud mutu disini adalah gambaran dan karakteristik konsumen atau pelanggan dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan konsumen sesuai dengan kebutuhan yang di tentukan.

Dari uraian di atas maka sangat penting sebagai mahasiswa teknik mesin untuk mengerti dan memahami standar manajemen mutu karena standar manajemen mutu sangat berperan penting terhadap kualitas produk atau output dari suatu perusahaan. Pemahaman standar manajemen mutu yang bertarap internasional juga tentunya akan berpengaruh pada pola berpikir dan cara bekerja mahasiswa di dunia industri, diharapkan mahasiswa akan memiliki kualitas yang setarap kualitas internasional tentu akan mampu bersaing dan menghasilkan output yang sangat berkualitas.

2.2       ISO 9000

ISO 9000 adalah kumpulan standar untuk sistem manajemen mutu (SMM). ISO 9000 yang dirumuskan oleh TC 176 ISO, yaitu organisasi internasional di bidang standardisasi. ISO 9000 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1987 olehInternational Organization for Standardization Technical Committee (ISO/TC) 176. ISO/TC inilah yang bertanggungjawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu. ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi. Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun 2000.

  1. adanya satu set prosedur yang mencakup semua proses penting dalam bisnis
  2. adanya pengawasan dalam proses pembuatan untuk memastikan bahwa sistem menghasilkan produk-produk berkualitas;
  3. tersimpannya data dan arsip penting dengan baik;
  4. adanya pemeriksaan barang-barang yang telah diproduksi untuk mencari unit-unit yang rusak, dengan disertai tindakan perbaikan yang benar apabila dibutuhkan.
  5. secara teratur meninjau keefektifan tiap-tiap proses dan sistem kualitas itu sendiri.

 

Sebuah perusahaan atau organisasi yang telah diaudit dan disertifikasi sebagai perusahaan yang memenuhi syarat-syarat dalam ISO 9001 berhak mencantumkan label “ISO 9001 Certified” atau “ISO 9001 Registered”.

Sertifikasi terhadap salah satu ISO 9000 standar tidak menjamin kualitas dari barang dan jasa yang dihasilkan. Sertifikasi hanya menyatakan bahwa bisnis proses yang berkualitas dan konsisten dilaksanakan di perusahaan atau organisasi tersebut. Walaupan standar-standar ini pada mulanya untuk pabrik-pabrik, saat ini mereka telah diaplikasikan ke berbagai perusahaan dan organisasi, termasuk perguruan tinggi dan universitas.

2.3       Kumpulan Standar ISO 9000

ISO 9000 mencakup standar-standar di bawah ini:

  1. ISO 9000 – Quality Management Systems – Fundamentals and Vocabulary: mencakup dasar-dasar sistem manajemen kualitas dan spesifikasi terminologidari Sistem Manajemen Mutu (SMM).
  2. ISO 9001 – Quality Management Systems – Requirements: ditujukan untuk digunakan di organisasi manapun yang merancang, membangun, memproduksi, memasang dan/atau melayani produk apapun atau memberikan bentuk jasa apapun. Standar ini memberikan daftar persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah organisasi apabila mereka hendak memperoleh kepuasanpelanggansebagai hasil dari barang dan jasa yang secara konsisten memenuhi permintaan pelanggan tersebut. Implementasi standar ini adalah satu-satunya yang bisa diberikan sertifikasi oleh pihak ketiga.
  3. ISO 9004 – Quality Management Systems – Guidelines for Performance Improvements: mencakup perihal perbaikan sistem yang terus-menerus. Bagian ini memberikan masukan tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan sistem yang telah terbentuk lama. Standar ini tidaklah ditujukan sebagai panduan untuk implementasi, hanya memberikan masukan saja.

Masih banyak lagi standar yang termasuk dalam kumpulan ISO 9000, dimana banyak juga diantaranya yang tidak menyebutkan nomor “ISO 9000” seperti di atas. Beberapa standar dalam area ISO 10000 masih dianggap sebagai bagian dari kumpulan ISO 9000. Sebagai contoh ISO 10007:1995 yang mendiskusikan Manajemen Konfigurasi dimana di kebanyakan organisasi adalah salah satu elemen dari suatu sistem manajemen.

ISO mencatat “Perhatian terhadap sertifikasi sering kali menutupi fakta bahwa terdapat banyak sekali bagian dalam kumpulan standar ISO 9000 . Suatu organisasi akan meraup keuntungan penuh ketika standar-standar baru diintegrasikan dengan standar-standar yang lain sehingga seluruh bagian ISO 9000 dapat diimplementasikan”. Sebagai catatan, ISO 9001, ISO 9002 dan ISO 9003 telah diintegrasikan menjadi ISO 9001. Kebanyakan, sebuah organisasi yang mengumumkan bahwa dirinya “ISO 9000 Registered” biasanya merujuk pada ISO 9001.

2.4        SYSTEM MANAJEMEN PRODUKSI TQM

Total Quality MANAGEMENT (TQM) mengacu pada penekanan kualitas yang meliputi organisasi keseluruhan, mulai dari pemasok hingga pelanggan. TQM menekankan komitmen manajemen untuk mendapatkan arahan perusahaan yang ingin terus meraih keunggulan dalam semua aspek produk dan jasa penting bagi pelanggan. Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas,  yaitu:

  1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
  2. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
  3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain).
  4. Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

Manfaat Program TQM                                              

TQM sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun bagi staf organisasi.

Manfaat TQM bagi pelanggan adalah:

  1. Sedikit atau bahkan tidak memiliki masalah dengan produk atau pelayanan.
  2. Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih diperhatikan.
  3. Kepuasan pelanggan terjamin.

Manfaat TQM bagi institusi adalah:

  1. Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan
  2. Staf lebih termotivasi
  3. Produktifitas meningkat
  4. Biaya turun
  5. Produk cacat berkurang
  6. Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.

Manfaat TQM bagi staf Organisasi adalah:

  1. Pemberdayaan
  2. Lebih terlatih dan berkemampuan
  3. Lebih dihargai dan diakui

Manfaat lain dari implementasi TQM yang mungkin dapat dirasakan oleh institusi di masa yang akan datang adalah:

  1. Membuat institusi sebagai pemimpin (leader) dan bukan hanya sekedar pengikut (follower)
  2. Membantu terciptanya tim work
  3. Membuat institusi lebih sensitif terhadap kebutuhan pelanggan
  4. Membuat institusi siap dan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan
  5. Hubungan antara staf departemen yang berbeda lebih mudah

Tujuh konsep program TQM yang efektif yaitu perbaikan berkesinambungan, Six Sigma, pemberdayaan pekerja, benchmarking, just-in-time (JIT), konsep Taguchi, dan pengetahuan perangkat TQM

2.5       STANDAR MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pengertian (Definisi) Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) secara umum merujuk pada 2 (dua) sumber, yaitu Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan pada Standar OHSAS 18001:2007 Occupational Health and Safety Management Systems.

Pengertian (Definisi) Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah bagian dari sistem secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung-jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengajian dan pemeliharaan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Sedangkan Pengertian (Definisi) Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut standar OHSAS 18001:2007 ialah bagian dari sebuah sistem manajemen organisasi (perusahaan) yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan Kebijakan K3 dan mengelola resiko K3 organisasi (perusahaan) tersebut.

Elemen-Elemen Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bisa beragam tergantung dari sumber (standar) dan aturan yang kita gunakan. Secara umum, Standar Sistem Manajemen Keselamatan Kerja yang sering (umum) dijadikan rujukan ialah Standar OHSAS 18001:2007, ILO-OSH:2001 dan Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

2.6       OHSAS 18000

Standar OHSAS 18000 merupakan spesifikasi dari sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja internasional untuk membantu organisasi mengendalikan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan pekerjanya. dalam perusahaan harus memiliki standar OHSAS 18000, hal ini penting bagi keselamatan kerja di perusahaan sehingga akan menghasilkan produksi yang berjalan lancar dan berdampak baik bagi karyawan untuk mencegah atau memperkecil tingkat kecelakaan.

Apabila perusahaan tersebut bergerak di bidang industri yang memproduksi suatu barang dengan menggunakan alat-alat berat yang paling diutamakan adalah kesehatan dan keselamatan karyawan dalam bertugas, sehingga perusahaan harus memperhatikan kebutuhan fisik terhadap karyawan, seperti memberi makan kepada karyawan pada waktu jam makan & istirahat yang cukup umtuk menjaga kesehatan karyawan. begitu juga dibutuhkan keselamatan kerja dalam bertugas, oleh karena itu perusahaan membuat aturan/prosedur untuk diterapkan pada karyawannya. bagi keselamatan karyawan harus lah menggunakan pakaian yang aman atau pelindung diri menurut aturan perusahaan sehingga memperkecil tingkat kecelakan. Dengan adanya OHSAS 18000 perusahaan pun akan berjalan dengan baik karena kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawan sangat diperhatikan dan menguntungkan bagi perusahaan dalam meningkatkan hasil produksi, dalam hal ini berdampak positif sehingga saling menguntungkan bagi perusahaan maupun karyawan.

2.7       STANDAR MANAJEMEN LINGKUNGAN

Standar Manajemen adalah serangkaian syarat-syarat dan sistem-sistem yang harus dipenuhi dalam mengatur permasalahan yang ada di dalam suatu bidang. Standar-standar manajemen terdiri dari ISO 14000, ISO 9000, OHSAS 18000 dan lain-lain.

ISO 14000

Standar manajemen lingkungan yang sifatnya sukarela tetapi konsumen menuntut produsen untuk melaksanakan program sertifikasi tersebut. Pelaksanaan program sertifikasi ISO 14000 dapat dikatakan sebagai tindakan proaktif dari produsen yang dapat mengangkat citra perusahaan dan memperoleh kepercayaan dari konsumen. Dengan demikian maka pelaksanaan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) berdasarkan Standar ISO Seri 14000 bukan merupakan beban tetapi justru merupakan kebutuhan bagi produsen (Kuhre, 1996).

ISO 9000

kumpulan standar untuk sistem manajemen mutu (SMM). ISO 9000 yang dirumuskan oleh TC 176 ISO, yaitu organisasi internasional di bidang standardisasi. ISO 9000 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1987 oleh International Organization for Standardization Technical Committee  (ISO/TC) 176. ISO/TC inilah yang bertanggungjawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu. ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to datedan relevan untuk organisasi. Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun 2000.

OHSAS 18000

Standar OHSAS 18000 merupakan spesifikasi dari system  kesehatan dan keselamatan kerja Internasional untuk membantu organisasi mengendalikan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan personilnya.

2.8       ISO 14000

Standar manajemen lingkungan yang sifatnya sukarela tetapi konsumen menuntut produsen untuk melaksanakan program sertifikasi tersebut. Pelaksanaan program sertifikasi ISO 14000 dapat dikatakan sebagai tindakan proaktif dari produsen yang dapat mengangkat citra perusahaan dan memperoleh kepercayaan dari konsumen. Dengan demikian maka pelaksanaan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) berdasarkan Standar ISO Seri 14000 bukan merupakan beban tetapi justru merupakan kebutuhan bagi produsen (Kuhre, 1996).

ISO 14000 adalah standar internasional tentang sistem manejemen lingkungan (Rothery, 1995) yang sangat penting untuk di ketahui dan di laksanakan oleh seluruh sektor industri. Mengapa di katakan sangat penting? Itu sangat jelas sekali bahwa segala aktivitas di semua sektor industri keci, besar akan berpemgaruh pada lingkungan yang akan sangat berpengaruh bagi makluk hidup di sekitarnya, bukan hanya kita sebagai mausia, tetapi hewan dan tumbuhan akan juga mendapatkan dampaknya.

Dalam mengelola lingkungan maka dibutuhkan standar yang jelas, yaitu ISO 14000. Sistem ISO 14000  adalah  standar sistem pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan pada bisnis apapun, terlepas dari ukuran, lokasi, atau pendapatan. Tujuan dari sitem ini adalah untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh bisnis dan untuk mengurangi polusi dan limbah yang dihasilkan oleh bisnis.

Manfaat dari ISO 14000 adalah :

  1. Pengelolaan lingkungan yang lebih efektif dan efisien dalam organisasi
  2. Untuk menyediakan tools yang berguna dan bermanfaat dan fleksibel sehingga mencerminkan organisasi yang baik.
  3. Dapat mengidanfikasi, memperkirakan dan mengatasi resiko lingkungan yang mungkin timbul.
  4. Dapat menekan biaya produksi dapat mengurangi kecelakan kerja, dapat memelihara hubungan baik dengan masyarakat, pemerintah dan pihak – pihak yang peduli terhadap lingkungan.
  5. Memberi jaminan kepada konsumen mengenai komitmen pihak manajemen puncak terhadap lingkungan.
  6. Dapat meningkat citra perusahaan,meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperbesar pangsa pasar.
  7. Menunjukan ketaatan perusahaan terhadap perundang – undangan yang berkaitan dengan lingkungan.
  8. Mempermudah memperoleh izin dan akses kredit bank.
  9. Dapat meningkatakan otivasi para pekerja.

ISO 14000 menawarkan guidance untuk memperkenalkan dan mengadopsi sistem manajemen lingkungan berdasarkan pada praktek – praktek terbaik, hampir sama di ISO 9000 pada sistem manajemen mutu yang sekarang diterapkan secara luas. ISO 14000 ada untuk membantu organisasi meminimalkan bagaimana operasi mereka berdampak negatif pada lingkungan. Sistem ini dapat diterapkan berdampingan dengan ISO 9000.

Sertifikasi ISO 14000

Agar suatu organisasi dianugerahi ISO 14000 mereka harus diaudit secara eksternal oleh badan audit yang telah terakreditasi. Badan sertifikasi harus diakreditasi oleh ANSI-ASQ, Badan Akreditasi Nasional di Amerika Serikat, atau Badan Akreditasi Nasional di Irlandia. 

Memahami konsep ISO 14000

Konsep utama yang merupakan kunci untuk menjalankan ISO 14000 adalah Manajemen dan Kebijakan Kinerja Lingkungan. Manajer puncak harus menetapakan kebijakan lingkungan organisasi dan menjamin bahwa kewajiban:

  1. Sesuai dengan sifat, skala dan dampak lingkungan kegiatan, produk atau jasa.
  2. Termasuk komitmen untuk peningkatan berkelanjutan dan pencegahan pencemaran.
  3. Termasuk komitmen untuk patuh terhadap peraturan lingkungan terikat dan persyaratan –  persyaratan lain terhadap perusahaan.
  4. Memberiakan kerangka kerja untuk membuat dan menkaji tujuan dan sasaran lingkung.
  5. Didokumentasikan, diterapkan dipelihara dan dikomunikasikan kepadasemua karyawan.
  6. Tersedia kepada masyarakat.

 

Sumber:

http://fajarisman31.blogspot.co.id/2015/01/pengertian-standar-teknik-proses.html

http://andriblogg99.blogspot.co.id/p/standar-standar-teknik.html

https://qolilwicaksono12.wordpress.com/2015/11/26/standar-teknik-dan-manajemen/

http://dame-dame0123.blogspot.co.id/2014/11/pengertian-din-standar-industri-jerman.html

http://mfebrianadhip.blogspot.co.id/2015/01/standar-teknik.html

PENGERTIAN ETIKA PROFESI serta PROFESIONALISME di BIDANG TEKNIK MESIN

  • Pengertian Etika

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika berkaitan erat dengan perkataan moral yang berarti juga dengan adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral memiliki pengertian yang hampir sama, namun dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

  • Pengertian Profesi

Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Biasanya sebutan “profesi” selalu dikaitkan dengan pekerjaan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang, akan tetapi tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut profesi karena profesi menuntut keahlian para pemangkunya. Hal ini mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, akan tetapi memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan yang dikembangkan khusus untuk profesi itu.

Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama.

PENGERTIAN ETIKA PROFESI

Menurut Kaiser dalam  ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 )   

Etika profesi merupakan sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.

Menurut (Anang Usman, SH., MSi.)

Etika profesi adalah sebagai sikap hidup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama,

Definisi Etika Profesi

Etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi serta mempelajari penerapan prinsip-prinsip moral dasar atau norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi) kehidupan manusia. Etika profesi Berkaitan dengan bidang pekerjaan yang telah dilakukan seseorang sehingga sangatlah perlu untuk menjaga profesi dikalangan masyarakat atau terhadap konsumen (klien atau objek). Etika profesi memiliki konsep etika yang ditetapkan atau disepakati pada tatanan profesi atau lingkup kerja tertentu, contoh : pers dan jurnalistik, engineering (rekayasa), science, medis/dokter, dan sebagainya.

Prinsip dasar di dalam etika profesi :

  1. Tanggung jawab
  • Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
  • Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
  1. Keadilan
  2. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
  3. Prinsip Kompetensi,melaksanakan pekerjaan sesuai jasa profesionalnya, kompetensi dan            ketekunan
  4. Prinsip Prilaku Profesional, berprilaku konsisten dengan reputasi profesi
  5. Prinsip Kerahasiaan, menghormati kerahasiaan informasi

Kode Etik Profesi

Kode etik profesi adalah sistem norma, nilai dan aturan professsional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi professional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik yaitu agar professional memberikan  jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Dengan adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak professional.

Fungsi Kode Etik Profesi :
Sumaryono (1995) mengemukakan 3 alasannya yaitu :

  1. Sebagai sarana kontrol sosial
    2. Sebagai pencegah campur tangan pihak lain
    3. Sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik

Kelemahan Kode Etik Profesi :

  1. Idealisme terkandung dalam kode etik profesi tidak sejalan dengan fakta yang terjadi di sekitar para profesional, sehingga harapan sangat jauh dari kenyataan. Hal ini cukup menggelitik para profesional untuk berpaling kepada nenyataan dan menabaikan idealisme kode etik profesi. Kode etik profesi tidak lebih dari pajangan tulisan berbingkai.
  2. Kode etik profesi merupakan himpunan norma moral yang tidak dilengkapi dengan sanksi keras karena keberlakuannya semata-mata berdasarkan kesadaran profesional. Rupanya kekurangan ini memberi peluang kepada profesional yang lemah iman untuk berbuat menyimpang dari kode etik profesinya.

Peran Etika dalam Perkembangan IPTEK

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berlangsung sangat cepat. Dengan perkembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup manusia untuk menjadi manusi secara utuh. Maka tidak cukup dengan mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, manusia juga harus menghayati secara mendalam kode etik ilmu, teknologi dan kehidupan.

Para pakar ilmu kognitif telah menemukan bahwa teknologi mengambil alih fungsi mental manusia, pada saat yang sama terjadi kerugian yang diakibatkan oleh hilangnya fungsi tersebut dari kerja mental manusia. Perubahan yang terjadi pada cara berfikir manusia sebagai akibat perkembangan teknologi sedikit banyak berpengaruh terhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika dan norma dalam kehidupannya.

Etika profesi merupakan bagian dari etika sosial yang menyangkut bagaimana mereka harus menjalankan profesinya secara profesional agar diterima oleh masyarakat. Dengan etika profesi diharapkan kaum profesional dapat bekerja sebaik mungkin, serta dapat mempertanggungjawabkan tugas yang dilakukan dari segi tuntutan pekerjaannya.

 

Pengertian Profesionalisme                

Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Alam bekerja, setiap manusia dituntut untuk bisa memiliki profesionalisme karena di dalam profesionalisme tersebut terkandung kepiawaian atau keahlian dalam mengoptimalkan ilmu pengetahuan, skill, waktu, tenaga, sember daya, serta sebuah strategi pencapaian yang bisa memuaskan semua bagian/elemen. Profesionalisme juga bisa merupakan perpaduan antara kompetensi dan karakter yang menunjukkan adanya tanggung jawab moral.

Etika Profesi di Bidang Teknik Mesin

Etika dalam bidang Teknik Mesin yaitu merupakan suatu prinsip-prinsip atau aturan prilaku di dalam bidang Teknik Mesin yang bertujuan untuk mencapai nilai dan norma moral yang terkandung di dalamnya. Sedangkan Profesi dalam bidang teknik Mesin dapat diartikan sebagai pekerjaan , namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Sebuah profesi akan dapat dipercaya dunia industri ketika  kesadaran diri kita yang kuat menjunjung tinggi nilai etika profesi kita di dunia industri maupun di sekitar kita. Jadi dapat di katakan  etika profesi yaitu batasan-batasan untuk mengatur atau membimbing prilaku kita sebagai manusia secara normatif. Kita harus mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Karena semuanya itu sangat berpengaruh bagi kita sebagai mahasiswa teknik mesin yang seharusnya mempunyai etika yang bermoral baik.

Sebagai insinyur untuk membantu pelaksana sebagai seseorang yang professional dibidang keteknikan supaya tidak dapat merusak etika profesi diperlukan sarana untuk mengatur profesi sebagai seorang professional dibidangnya berupa kode etik profesi. Ada tiga hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik profesi tersebut. Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Maksudnya bahwa dengan kode etik profesi, pelaksana profesi mampu mengetahui suatu hal yang boleh dia lakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan. Maksudnya bahwa etika profesi dapat memberikan suatu pengetahuan kepada masyarakat agar juga dapat memahami arti pentingnya suatu profesi, sehingga memungkinkan pengontrolan terhadap para pelaksana di lapangan kerja (kalanggan sosial).

Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Arti tersebut dapat dijelaskan bahwa para pelaksana profesi pada suatu instansi atau perusahaan yang lain tidak boleh mencampuri pelaksanaan profesi di lain instansi atau perusahaan.

Di Indonesia dalam hal kode etik telah diatur termasuk kode etik sebagai seorang insinyur yang disebut kode etik insinyur Indonesia dalam “catur karsa sapta dharma insinyur Indonesia. Dalam kode etik insinyur terdapat prinsip-prinsip dasar yaitu :

  • Mengutamakan keluhuran budi.
  • Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.
  • Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.

Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) sendiri secara spesifik memberikan persyaratan akreditasi yang menyatakan bahwa setiap mahasiswa teknik (engineering) harus mengerti betul karakteristik etika profesi keinsinyuran dan penerapannya. Dengan persyaratan ini, ABET menghendaki setiap mahasiswa teknik harus betul-betul memahami etika profesi, kode etik profesi dan permasalahan yang timbul diseputar profesi yang akan mereka tekuni nantinya, sebelum mereka nantinya terlanjur melakukan kesalahan ataupun melanggar etika profesi-nya. Langkah ini akan menempatkan etika profesi sebagai “preventive ethics” yang akan menghindarkan segala macam tindakan yang memiliki resiko dan konsekuensi yang serius dari penerapan keahlian profesional.

 

Sumber:

Brooks, Leonard J. 2007. Etika Bisnis & Profesi, Edisi 5. Penerbit Salemba Empat

http://alfianmuzaki.blogspot.com/2014/10/pengertian-etika-profesi-etika-profesi.html

http://rusman-buru.blogspot.com/2012/06/makalah-etika-profesi-seorang-insinyur.html

http://m-roiful.blogspot.com/2014/10/tugas-3-pengertian-etika-profesi.html

http://www.pendidikanku.net/2015/07/pengertian-etika-pengertian-profesi-pengertian-etika-profesi-pengertian-profesionalisme.html

KELISTRIKAN DAN KESELAMATAN LIFT

  1. PENDAHULUAN

Listrik adalah satu bentuk sumber daya atau energi potensialyang dapat memberikan banyak manfaat untuk menunjang aktifitas di berbagai sektor kegiatan.  Daya listrik dapat dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak mekanik, pemanas, pencahayaan dan lain sebagainya.  Disisi lain listrik dapat menimbulkan bahaya atau bahkan bencana yang merugikan, apabila perancangan, pemasangan, pemanfaatan system tenaga listrik tidak mengikuti kaidah-kaidah teknik kelistrikan  Setiap peralatan dan pesawat yang digerakkan dengan tenaga listrik, diperlukan pengamanan yang memadai guna melindungi Instalasinya atau peralatan itu sendiri dan pengamanan terhadap operatornya.  Petiratau halilintar adalah phenomena muatan listrik yang terjadi dari alamiah. Sampai saat sekarang, petir walaupun memiliki tegangan dan arus yang sangat besar belum dapat dimanfaatkan energinya.  Arus dan tegangan petir yang sangat besar itu sangat berbahaya.  Sehingga peran dari K3 dibidang listrik,meliputi pengamanan terhadap tiga aspek yaitu sumber listrik sampai kepemakaian termasuk kontrollift, dan instalasi penyalur petir, mulai dari tahapperancangan, pemasangan dan dalam pemanfaatannya sesuai dengan mekanisme dan ketentuan peraturan perundangan dan standar yang berlaku.

 

  1. Instalasi listrikadalah jaringan yang tersusun secara terkoordinasi mulai dari sumber pembangkit atau titik sambungan suplai daya listrik sampai titik beban akhir sesuai maksud dan tujuan penggunaannya.PLN yang ditunjuk oleh pemerintah selaku pemegang kuasa usahapenye-lenggara dan pemasuk tenaga listrik kepada masyarakat luas.  Gambar 1menunjukkan system jaringan tenaga listrik, mulai dari pembangkitan sampai pemakaian.

 

  1. Perlengkapan listrikadalah sarana yang diperlukan dalam rangkaian instalasi listrik, misalnya pengendali, fiting, sakelar dan sejenisnya.
  2. Peralatan listrikadalah semua jenis alat, pesawat, mesin dan sejenisnya yang digerakkan dengan tenaga listrik.  Contoh: lift, escalator, mesinlas, lemari es, seterika dan sejenisnya adalah termasuk peralatan listrik.
  3. Besaran listrikadalah besaran-besaran listrik yang harus dipahamiantara lain: Tegangan (Volt), arus (Ampere), frequensi (Hertz), daya (Watt), resistansi (Ohm).
  4. System klasifikasi tegangan :
  • Tegangan Ekstra Tinggi (TET)>
  • Tegangan tinggi (TT)    > 35 kV
  • Tegangan Menengah (TM)> 1 kV -35 kV
  • Tegangan Rendah (TR)          < 1000 Volt – 50 Volt
  • Tegangan ekstra rendah         < 50 Volt
  1. Tegangan domestikadalah tegangan suplai kepada pelanggan 220/380 Volt, yang artinya nilai tegangan antara phasadengan netral 220 Volt dan antara phasa dengan phasa 380 Volt.

R-S   = 380 V;                     R-T    = 380 V;         S-T    = 380 V

R-N   = 220 V,                     S-N   = 220 V;         T-N    = 220 V

GB 2

Gambar 1 Sistem jaringan 4 kawat dan 5 kawat

  1. Bahaya sentuhan listrikadalah sentuhan yang dapat membahayakan manusia.  Nilai tegangan dan arus listrik yang dapat mengakibatkan kematian adalah sebagai berikut :

 

t (detik)           1,0       0,8       0,6       0,4       0,3       0,2

E (Volt)           90        100     110     125     140     200

I (mA)              180     200     250     280     330     400

  1. Bahaya sentuh langsungadalah menyentuh pada bagian konduktif yang secara normal bertegangan
  2. Bahaya sentuh tidak langsungadalah menyentuh pada bagian konduktif yang secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan karena adanya kebocoran isolasi;

 

  1. DASAR HUKUM

Listrik, lift maupun petir adalah merupakan bentuk dari sumber bahaya yang perlu dikendalikan sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 1 th 1970

Ruang lingkup obyek pengawasan K3 listrik

  1. Ruang lingkup obyek pengawasan K3 listrik tersirat dalam Bab II Pasal 2 ayat (2) huruf q UU 1/70, yaitu tertulis: disetiap tempat dimana dibangkitkan, diubah, dikumpulkan disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik, gas, minyak atau air.

Dari ketentuan tersebut dapat digambarkan ruang lingkup K3 listrik, yaitu mulai dari pembangkitan, jaringan transmisi Tegangan Ekstra Tinggi (TET), Tegangan Tinggi (TT), Tegangan Menengah (TM) dan jaringan distribusi Tegangan Rendah (TR) sampai dengan setiap tempat pemanfaatannya, khususnya tempat kerja.

 

GB 3
gambar 2. Alur Jaringan Instalasi Listrik

  1. Memperhatikan Pasal 3 ayat (1) huruf q UU 1/70 tertulis : Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat K3 untuk mencegah terkena aliran listrik berbahaya.  Menurut ketentuan PUIL 2000 listrik yang berbahaya adalah listrik yang memiliki tegangan lebih dari 50 Volt ditempat yang normal.

 

  1. POTENSI BAHAYA LISTRIK

Arus listrik antara 15 – 30 mA sudah dapat mengakibatkan kematian, karena sudah tidak mungkin lagi untuk melepaskan pegangan yang teraliri arus listrik.  Pengaruh-pengaruh lain dari arus listrik yang mengalir melalui tubuh manusia ialah panas yang ditimbulkan dalam tubuh, dan pengaruh elektrokimia.  Tegangan yang dapat dianggap aman juga ada kaitannya dengan tahanan kulit manusia.  Untuk kulit yang kering tahanan ini berkisar antara 100 – 500 kilo Ohm.

Tetapi kulit yang basah, misalnya karena keringat dapat memiliki tahanan sampai serendah 1 Kohm.Juga luas permukaan kulit yang menyentuh ikut mempengaruhi.  Akibat sentuh langsung maupun sentuh tidak langsung dapat mengakibatkan kecelakaan serta kerugian.

Kecelakaan akibat listrik dapat mengakibatkan :

  1. Kecelakaan pada manusiabisamengakibatkan cedra atau kematian.

b.Kerusakan instalasi serta perlengkapannyadapat mengakibatkan kabel terbakar, panel terbakar, kerusakan isolasi dan kerusakan peralatan.

  1. Terjadinya kebakaran bangunan beserta isinya

SISTEM PROTEKSI BAHAYA LISTRIK

Pada dasarnya bahaya listrik yang dapat menimpa manusia disebabkan oleh :

  1. Bahaya Sentuh Langsung

Yang disebut dengan sentuh langsung adalah sentuh langsung pada bagian aktif perlengkapan atau instalasi listrik.  Bagian aktif perlengkapan atau instalasi listrik adalah bagian konduktif yang merupakan bagian dari sirkit listriknya yang dalam keadaan pelayanan normal, umumnya bertegangan dan atau dialiri arus listrik.

Bahaya sentuh langsung dapat diatasi dengan cara

  1. Proteksi dengan isolasi bagian aktif
  2. Proteksi dengan penghalang atau selungkup
  3. Proteksi dengan penempatan di luar jangkauan
  4. Proteksi tambahan dengan Gawai Pengaman Arus Sisa
  5. Bahaya Sentuh Tidak Langsung

Yang dimaksud dengan sentuh tidak langsung adalah sentuh pada BKT perlengkapan atau instalasi listrik yang menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi.  BKT perlengkapan atau instalsi listrik adalah bagian konduktif yang tidak merupakan bagian dari sirkit listriknya yang dalam pelayanan normal tidak bertegangan, tetapi dapat menjadi bertegangan.

Proteksi dari sentuh tidak langsung (dalam kondisi gangguan) dapat dengan cara :

  1. Proteksi dengan pemutusan suplai secara otomatis.
  2. Proteksi dengan penggunaan perlengkapan kelas II atau dengan isolasi ekivalen.
  3. Proteksi dengan lokasi tidak konduktif.
  4. Proteksi dengan ikatan penyama potensial local bebas bumi.
  5. Proteksi dengan separasi listrik.

Kerugian akibat kecelakaan listrik dapat berupa :

  1. Karugian materi (dalam rupiah) akibat rusaknya instalasi, bengunan beserta isinya.
  2. Terhentinya proses produksi.
  3. Mengurangi kenyamanan, misalnya lampu padam, AC mati, suplai air terganggu dan lain-lain.

 

POTENSI BAHAYA PETIR

Ruang lingkup obyek pengawasan system proteksi petir sesuai Permanaker No Per-02/Men/1989 adalah:  Dipasang disetiap tempat kerja, hanya untuk konvensional dan system elektro staticdapatdiatur.  Sambaran langsung seperti ilustrasi gambar 5 adalah pelepasan listrik dari awan kebumi melalui obyek yang tertinggi. Obyek yang dilalui arus petir tadi adalah tersambar petir secara langsung selanjutnya akan menyebar kebumi kesegala arah hingga netral. Obyek yang tersambar dan dialiri arus dan tegangan petir akan merasakan pengaruh secara langsung yaitu suhu yang sangat panas mencapai 30.000⁰ C, tegangan dan kuat arus yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan secara fisik.

Penyebaran arus dan tegangan petir didalam bumi akan menyebar ke berbagai penjuru. Kemungkinan dari itu dapat dirasakan oleh grounding instalasi listrik pada bangunan itu sehingga penghantar bumi bertegangan petir yang akibatnya terjadi beda potensial pada jaringan instalasi listrik R,S,T bertegangan 220 V sedangkan Penghantar pengaman dan penghantar Netral bertegangan petir.  Ini yang disebut dengan sambaran tidak langsung yang dapat merusak peralatan listrik dan peralatan elektronik yang ada di dalam bangunan itu. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No Per02/Men/1989 tidak mengatur syarat-syarat system proteksi sambaran petir tidak langsung.

Petir adalah pelepasan muatan listrik dari awan ke awan atau dari awan ke bumi,

GB 4

gambar 3.  Proses pelepasan muatan listrik alam

 

Sasaran sambaran petir adalah obyek yang paling tinggi. Obyek yang tersambar petir akan merasakan adanya arus petir sebesar 5.000 – 10.000 Ampere dan panas mencapai 30.000 °C.  Sehingga dampak yang terjadi pada obyek yang tersambar petir akan terjadi kerusakan mekanis, terbakar, atau kerusakan karena fluktuasi arus dan tegangan petir.

SISTEM PROTEKSI BAHAYA PETIR

System proteksi eksternal adalah system proteksi terhadap sambaran langsung dengan caramemasang konduktor dibagian atas obyek yang dilindungi disebut dengan instalasi penyalur petir. Instalasi Penyalur Petir Permenaker PER-02 MEN 1989

  1. Elektroda penerima harus dibuat runcing, dengan ketinggian dan jarak tertentu sehingga masing-masing elektroda penerima melindungi bangunan dengan sudut perlindungan 112⁰
  2. Hantaran penurunan dan elektroda pembumian minimal 2 buah pada setiap bangunan dan harus dipasang sejauh mungkin dari pintu bangunan.
  3. Resistans pembumian minimal 5 Ohm. Apabiladari hasil pengukuran resistan pembumian tidak memenuhi syarat akan dapat mengundang bahaya, yang disebut tegangan langkah seperti diuraikan di atas.

System instalasi proteksi petir dapat memanfaatkan kolom-kolom gedung bertingkat tinggi.Sedangkan pembumiannya menggunakan tiang pancang pada kolom-kolom tersebut. Tentu saja sambungan-sambungan antar kolom besi betonnya harus berhubungan secara elektrik.

 

b). Penanggulangan kebakaran akibat instalasi listrik dan petir

  • Buat instalasi listrik sesuai dengan peraturan yang berlaku antara lain PUIL-2000 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik-2000)
  • Gunakan sekering/MCB sesuai dengan ukuran yang diperlukan.
  • Gunakan kabel yang berstandar keamanan baik (LMK/SPLN)
  • Ganti kabel yang telah usang atau cacat pada instalasi atau peralatan listrik lainnya
  • Hindari percabangan sambungan antar rumah
  • Hindari penggunaan percabangan pada stop kontak
  • Lakukan pengukuran kontinuitas penghantar, tahanan isolasi, dan tahanan pentanahan secara berkala
  • Gunakan instalasi penyalur petir sesuai dengan standar

c). Penanggulangan Kecelakaan di dalam Lift

  • Pasang rambu-rambu & petunjuk yang mudah dibaca oleh pengguna jika terjadi keadaan darurat (listrik ter-putus atau padam, kebakaran, gempa).
  • Jangan memberi muatan lift melebihi kapasitas-nya
  • Jangan membawa sumber api terbuka di dalam lift
  • Jangan merokok dan membuang puntung rokok di dalam lift
  • Jika terjadi pemutusan aliran listrik, maka lift akan berhenti di lantai terdekat dan pintu lift segera terbuka sesaat setelah berhenti. Segera keluarlah dari lift dengan hati-hati.

 

POTENSI BAHAYA LIFT

Sistem pengawasan lift diatur dalam Permen 03/99 karena lift digunakan untuk mengangkut orang dan barang.  Lift adalah sarana transfortasi vertical, dengan tenaga penggerak motor  listrik dan dikendalikan secara otomatik melalui system control elektrik.  Sangkar lift menggantung pada tali baja, disisi sebelahnya menggantung bobot imbang (counter wight) agar motor (M) bekerja ringan. Sangkar dan bobot imbang bergerak naik- turun mengikuti rel Lift dilengkapi beberapa alat pengaman (safety device) yang bekerja otomatik.

GB 8

Gambar 4 Konstruksi Lift

 

Pengaturan system kerja lift antara lainPintu sangkar lift akan membuka atau menutup otomatik bersama pintu pada lantai pemberhentian.  Pintu hanya akan membuka setelah sangkar berhenti sempurna, dan sangkar akan mulai bergerak naik/turun setelah pintu menutup sempurna.  Apabila sangkar berjalan melampaui kecepatan tertentu, rem pengaman akan bekerja otomatik.

Jenis-jenis bahaya yang mungkin dapat terjadi antara lain:

  1. Apabila ada gangguan suplai daya listrik, lift akan berhenti dan penumpang lift tidak dapat keluar tanpa dibantu dari luar ;
  2. Apabila terjadi kegagalan pada system kontrolnya;
  3. Apabila tali baja putus dan rem tidak berfungsi; dll

 

 

  1. PENGENDALIAN K3 LIFT

Setelah pesawat lift selesai dipasang dan telah memiliki surat ijin pemakaian lewat serangkaian riksa uji, maka pesawat lift tersebut layak untuk digunakan. berikut ini hal-hal yang perlu dilaksanakan agar pengoperasian pesawat lift dapat berjalan dengan baik dan aman (setiap saat).

  • Pengoperasian dikelola dan diawasi oleh teknisi yang kompeten dan memiliki SIO sebagai penyelia pengawas operasi lift.
  • Dipergunakan dan dioperasikan dengan benar
  • Dirawat dan diperbaiki secara benar oleh teknisi yang kompeten dan memiliki SIO perawatan dan perbaikan
  • Memiliki manajemen kondisi darurat

GB 9

Dasar Pertimbangan teknis penetapan Peraturan K3 Lift (Menteri Tenaga Kerja No Per 03/Men/1999) adalah bahwa Pesawat Lift dinilai mempunyai potensi bahaya tinggi.  Pasal 25.  Pengurus yang membuat, memasang, memakai pesawat lift dan perubahan teknis maupun administrasi harus mendapat ijin dari Menteri atau pejabat yang ditunjuknya.

Pasal 24 Ayat (1).  Pembuatan dan atau pemasangan lift harus sesuai dengan gambar rencana yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk.  Pasal 24 Ayat (2).  Dokumen perencanaan:

  1. Gambar konstruksi lengkap
  2. Perhitungan kontruksi
  3. Spesifikasi dan sertifikasi material

Pasal 24 Ayat (3).  Proses pembuatannya harus memenuhi SNI atau Standar internasional yang diakui.Sedangkan pasal 24 Ayat (4).  Ijin pemasangan lift:

  1. Gambar rencana pemasangan lift terdiri :
  2. Denah ruang mesin dan peralatannya
  3. Konstruksi mesin dan penguatannya
  4. Diagram instalasi listrik
  5. Diagram pengendali
  6. Rem pengaman
  7. Bangunan ruang luncur dan pintu-pintunya
  8. Rel pemandu dan penguatannya
  9. Konstruksi kereta
  10. Governor dan peralatannya
  11. Kapasitas angkut, kecepatan, tinggi vertical
  12. Perhitungan tali baja

Pasal 30 Ayat (1).  Pemeriksaan dan Pengujian Lift, setiap lift sebelum dipakai harus diperiksa dan diuji sesuai standar uji yang ditentukan

 

Sumber: http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/menuutama/listrik-electro/1494-penerapan-keselamatan-dan-kesehatan-kerja-listrik-bagi-peserta-guru-guru-sekolah-menengah-kejuruan-di-vedc-malang

KESELAMATAN PESAWAT UAP DAN BEJANA DENGAN BAHAYA PELEDAKAN

A. Latar Belakang Pesawat Uap dan Bejana Tekan

Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure).

Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.

Objek pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
1. Pesawat Uap
– Ketel Uap
– Ketel Air Panas
– Ketel Vapour
– Pemanas Air
– Pengering Uap
– Penguap
– Bejana Uap
– Ketel Cairan Panas
2. Bejana Tekan
– Bejana Transport
– Bejana Penyimpan Gas
– Bejana Penimbun
– Pesawat/Instalasi Pendingin
– Botol Baja
– Pesawat Pembangkit Gas Asetilin
3. Instalasi Pipa
– Instalasi Pipa Gas
– Instalasi Pipa Uap
– Instalasi Pipa Air
– Instalasi Pipa Cairan
4. Operator Pesawat Uap, Juru Las dan Perusahaan Jasa Teknik

B. Dasar Hukum Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan

  1. Yang menjadi dasar hokum pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan, adalah;
    1. Undang-Undang Uap Tahun 1930
    2. Peraturan Uap Tahun 1930
    3. Undang-Undang No.1 Tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja.
    4. Permen No. 01/Men/1982 tentang Bejana Tekan
    5. Permen No.01/Men/1982 Tentang Klasifikasi Juru Las
    6. Permen No.01/Men/1988 tentang Klasifikasi dan Syarat-syarat Operator Pesawat Uap.
  2. Ruang Lingkup Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
    Meliputi kegiatan perencanaan, pembuatan, pemasangan atau perakitan, modifikasi atau reparasi dan pemeliharaan.
    Lingkup pengawasan meliputi;
    1. Pertimbangan-Pertimbangan Desain, mencakup prinsip-prinsip desain termasuk gambar konstruksi, data ukuran-ukuran, gambar teknik, pelaksanaan pembuatan dan pengujian
    2. Spesifikasi Bahan, yaitu bahan yang digunakan harus memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku serta standard penggunaan bahan serta mempunyai sertifikat bahan.
    3. Metode Konstruksi, yaitu pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan metode pengelasan dan pengelingan.
    4. Penempatan Ketel Uap,yaitu; bahwa ketel uap harus ditempatkan dalam suatu ruangan atau bangunan tersendiri yang terpisah dari ruangan kerja . Jarak ruangan operator ketel uap harus aman sesuai ketentuan.
    Penggolongan Ketel Uap;
    1. Menurut tempat penggunaannya;
    – Ketel uap darat tetap
    – Ketel uap darat berpindah
    – Ketel uap kapal
    2. Menurut bangunan letak sumbu silinder ketel
    – Ketel uap tegak
    – Ketel uap datar
    3. Menurut tipe dan bentuk konstruksi serta aliran panas
    – Ketel uap tangki
    – Ketel uap pakai boiler
    – Ketel uap dengan lorong api
    Penggolongan bejana uap;
    1. Menurut fungsinya
    – Bejana uap
    – Pengering uap
    – Penguap
    – Pemanas air
    2. Menurut Operasinya
    – Bejana tertutup, misal; Autoclaves, Digester, Distilling apparatus
    – Bejana terbuka, misal; Open Steam Jacketed kettles, Open evaporating pans.
    Perbedaan antara ketel uap dan bejana uap adalah pada fungsi dari pada operasinya, ketel uap adalah sebagai pengahil uap sedangkan bejana uap adalah penampung uap yang dihasilkan.
    Perawatan Ketel Uap, adalah merupakan suatu usaha untuk mempertahankan kinerja ketel uap sesuai dengan peruntukkanya. Kita menyadari bahwa ketel uap dapat menimbulkan peledakan, korban manusia dan harta benda yang tidak kita inginkan. Usaha-usaha yang perlu dilakukan adalah;
    1. Melakukan pembersihan sisi luar
    2. Melakukan pembersihan sisi dalam
    3. Pengolahan air pengisi ketel uap;
    – Pengolahan diluar ketel
    – Pengolahan didalam ketel
    4. Reparasi Ketel Uap, yaitu melakukan penggantian spare part/bagian untuk mempertahankan kinerja ketel.
    Sedangkan dalam hal pengoperasian pesawat uap, harus dilakukan pendidikan dan pelatihan terhadap operator dan pendidikan lainnya yang terkait.

C. Alat pengaman Pesawat Uap dan Bejana Tekan

  1. Mencakup beberapa hal, yaitu;
    1. Peralatan-peralatan Bantu Ketel Uap
    a. Tingkap pengaman
    b. Pedoman tekanan
    c. Gelas pedoman air
    d. Alat tanda bahaya
    e. Kran penutup uap induk
    f. Kran penutup air pengisi
    g. Kran penguras
    h. Pelat nama
    2. Fungsi
    a. Alat pengaman pesawat uap ialah setiap alat yang dipasang pada pesawat dan berfunsi agar pesawat dapat dipakai secara aman.
    b. Tingkap pengaman berfungsi untuk melepaskan tekanan dan tingkap pengaman harus mudah digerakkan bibir-bibir pengantar klepnya dengan tangan, jenisnya yaitu antara lain;
    – Tingkap pengaman dengan pegas
    – Tingkap pengaman dengan beban
    c. Pedoman tekanan (Manometer) adalah suatu alat pengukur tekanan dari suatu medium berbeda dalam satu ruangan.
    d. Gelas pedoman air berfungsi untuk mengetahui tinggi kolom air yang ada dalam ketel uap.
    e. Alat pengontrol otomatis berfungsi untuk mengetahui kondisi air dalam ketel uap
    f. Tanda batas air terendah berfungsi untuk mengetahui ketinggian air dalam ketel
    g. Kerangan atau katup berfungsi untuk memasukkan atau mengeluarkan air pada ketel uap
    h. Lubang pemeriksaan berfungsi untuk akses pemeriksaan dalam ketel uap
    i. Pelat nama dipasang pada ketel uap dan berisi, antara lain; identitas nama, pabrik pembuat, atau spesifikasi teknis lainnya.
    Pada tingkap pengamanan, syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah;
    a. Pada saat bekerja dengan kecepatan maksimum saat tekanan tertinggi tekanan kerja, tidak akan meningkat lebih 10 % dari tekanan kerja yang diperbolehkan
    b. Harus mudah digerakkan dan dicapai oleh tangan terkait dengan pengoperasinnya.
    Secara umum, pada pesawat uap dan bejana tekan terdapat pedoman tekanan, yaitu;
    a. Harus mempunyai harga tekana yang sesuai dengan tekanan kerja pesawatnya. Batas terendah tidak kurang dari ¼ tekanan kerja dan tidak lebih dari 2X tekana kerjanya
    b. Harus mempunyai angka-angka yang jelas dan mudah dibaca dengan tanda maximum yang diperbolehkan.

    D. Pemeriksaan dan Pengujian Pesawat Uap dan Bejana Tekan
    1. Jenis pemeriksaan dan pengujian berdasarkan peraturan perundang-undangan.
    2. Pemeriksaan dan pengujian dalam proses pembuatan
    – Pemeriksaan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pembuatan
    – Pemeriksaan bahan baku/material yang akan digunakan untuk pembuatan unit atau komponen (pemeriksaan awal)
    – Pemeriksaan pada saat dan atau pada akhir pekerjaan pembuatan unit atau komponen
    – Pengujian
    – Pembuatan data teknik pembuatan dan laporan pengawasan pembuatan unit atau komponen.
    3. Pemeriksaan dan pengujian pertama
    – Pemeriksaan dokumen teknik yang disyaratkan untuk pemasangan dana atau pemeriksaan
    – Pemeriksaan unit atau komponen
    – Pemeriksaan teknis menyeluruh saat perakitan dan akhir perakitan
    – Pengujian-pengujian
    – Pencatatan pada Buku Akte Ijin Pemakaian
    4. Pemeriksaan dan pengujian berkala
    – Pengecekan dokumen teknik terkait syarat pemakaian
    – Pemeriksaan kondisi fisik serta perlengkapannya
    – Pembuatan laporan pemeriksaan dan atau pengujian berkala atau pemeriksaan khusus
    – Pencacatan pada buku Akte Ijin Pemakaian
    5. Pemeriksaan khusus (modifikasi/reparasi)
    a. Pemeriksaan kondisi fisik pesawat uap yang akan dilakukan reparasi/modifikasi
    b. Pemeriksaan dokumen teknik terkait dengan syarat pekerjaan
    c. Pemeriksaan pada saat dan akhir pekerjaan
    d. Pengujian seperlunya
    e. Pembuatan laporan pemeriksaan dan pengujian
    f. Pencatatan pada buku akte
    Selain itu terdapat pula pemeriksaan dan pengujian pada saat terjadi pekerjaan relokasi/rekondisi pesawat uap. Dan seluruh tahapan kegiatan pekerjaan yang terkait dengan pesawat uap harus mendapatkan ijin dan pengesahan dari pihak yang terkait, misal; ijin pemakaian (baru) dan Mutasi ijin pemakaian karena penjualan atau jenis pesawat uap berpindah.
    Seluruh kegiatan terkait dengan pemeriksaan dan pengujian kemudian diatur dalam suatu prosedur standar mulai dari tahap awal hingga akhir, yaitu;
    a. Prosedur pemeriksaan dan pengujian pada tahap pembuatan
    b. Prosedur pemeriksaan dan pengujian pada tahap perakitan atau pemasangan
    c. Prosedur pada tahapan pemakaian (pemeriksaan berkala atau khusus)
    d. Prosedur pemeriksaan dan pengujian berkaitan dengan reparasi dan modifikasi
    e. Prosedur pemeriksaan dan pengujian berkaitan dengan perakitan pemasangan karena pemindah pesawat uap

    E. Prosedur penerbitan ijin pemakaian pesawat uap baik baru atau mutasi
    Kegiatan pemeriksaan dan pengujian mencakup beberapa tahap, yaitu;
    a. Pemeriksaan data
    b. Pemeriksaan visual dengan menggunakan checklist terhadap seluruh komponen dan dimention check / ketebalan
    c. Pemeriksaan tidak merusak terhadap sambungan las
    d. Hydrostatis test dan steam test
    1. Persyaratan Keselamatan Kerja dan Ketentuan Teknis Pelaksana Kegiatan Pemeriksaan dan Pengujian serta Penerbitan Ijin Pemakaian Pesawat Uap
    a. Persyaratan keselamatan Kerja terkait dengan pesawat uap harus mematuhi perundang-undangan, yaitu; Undang-undang No.1 Tahun 1970, Undang-undang Uap 1930, Peraturan Uap 1930, Peraturan Menteri No.02/Men/1982/1982 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta standar teknis pendukungnya.
    b. Ketentuan-ketentuan tersebut, meliputi;
    – Kualitas konstruksi, pemipaan, sarana penunjang
    – Kualitas dan kuantitas alat perlengkapan/alat pengaman
    – Kualifikasi perusahaan pembuat, perakit/pemasang, reparator, perawatan, dan operator pesawat uap
    – Ketentuan pemeriksaan dan pengujian
    – Ketentuan teknis pesawat uap yang tidak perlu ijin
    – Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis pesawat uap, pemipaan, sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan perijinan
    2. Persyaratan Keselamatan Kerja dan Ketentuan Teknis Pelaksana Kegiatan Pemeriksaan dan Pengujian serta Penerbitan Ijin Pemakaian Bejana Tekan
    a. Persyaratan Keselamatan Kerja terkait dengan bejana tekan, harus mematuhi peraturan, yaitu; Undang-undang No.1 Tahun 1970, Peraturan Menteri No. Per.01/Menn/1982 dan peraturan-peraturan pelaksanaannya serta standar teknis pendukungnya.
    b. Ketentuan-ketentuan yang dimaksud tersebut diatas, meliputi;
    – Ketentuan tentang kualitas konstruksi bejana tekan, pemipaan dan sarana penunjangnya
    – Ketentuan tentang kualitas dan kuantitas alat perlengkapan / alat pengaman
    – Ketentuan tentang kualifikasi perusahaan pembuat, perakit, pemasang, reparator, perawatan dan operator bejana tekan
    – Ketentuan teknis pemeriksaan dan pengujian
    – Ketentuan teknis bejana tekan yang tidak perlu pengesahan pemakaian
    – Ketentuan teknis yang berkaitan dokumen teknis bejana tekan, pemipaan, sarana penunjang dan dokumen teknik pemeriksaan dan pengesahan pemakaian.

    F. Pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan
    Pesawat Uap atau juga disebut Ketel Uap adalah suatu pesawat yang dibuat untuk mengubah air didalamnya, sebagian menjadi uap dengan jalan pemanasan menggunakan pembakaran dari bahan bakar. Ketel uap dalam keadaan bekerja, adalah sebagai bejana yang tertutup dan tidak berhubungan dengan udara luar karena selama pemanasan, maka air akan mendidih selanjutnya berubah menjadi uap panas dan bertekanan, sehingga berpotensi terjadinya ledakan jika terjadi kelebihan tekanan (over pressure).
    Bejana tekan adalah suatu wadah untuk menampung energi baik berupa cair atau gas yang bertekanan atau bejana tekan adalah selain pesawat uap yang mempunyai tekanan melebihi tekanan udara luar (atmosfer) dan mempunyai sumber bahaya antara lain; kebakaran, keracunan, gangguan pernafasan, peledakan, suhu ekstrem.
    Objek pengawasan K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
    1. Pesawat Uap
    – Ketel Uap
    – Ketel Air Panas
    – Ketel Vapour
    – Pemanas Air
    – Pengering Uap
    – Penguap
    – Bejana Uap
    – Ketel Cairan Panas
    2. Bejana Tekan
    – Bejana Transport
    – Bejana Penyimpan Gas
    – Bejana Penimbun
    – Pesawat/Instalasi Pendingin
    – Botol Baja
    – Pesawat Pembangkit Gas Asetilin
    3. Instalasi Pipa
    – Instalasi Pipa Gas
    – Instalasi Pipa Uap
    – Instalasi Pipa Air
    – Instalasi Pipa Cairan
    4. Operator Pesawat Uap, Juru Las dan Perusahaan Jasa Teknik

 

Pengawasan tidak hanya pada produk namun diawali dari proses produksi atau pembuatan pesawat uap dan bejana tekan yang banyak dilakukan proses pengelasan, pengujiaan produk hingga penerbitan ijin pemakaian pesawat uap dan bejana tekan.Suatu ketel harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Harus hemat dalam pemakaian bahan bakar. Hal ini dinyatakan dalam rendemen atau daya guna ketel.
  2. Berat ketel dan pemakaian ruangan pada suatu hasil uap tertentu harus kecil.
  3. Paling sedikit harus memenuhi syarat-syarat dari Direktorat Bina Norma Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.

Sumber bahaya pada pesawat uap terutama akibat dari pada :

  1. Bila manometer tidak berfungsi dengan baik, atau bila tidak dikalibrasi dapat menimbulkan peledakan karena si operator tidak mengetahui tekanan yang sebenarnya dalam boiler dan alat lain tidak berfungsi.
  2. Bila safety valve tidak berfungsi dengan baik karena karat atau sifat pegasnya menurun.
  3. Bila gelas duga tidak berfungsi dengan baik yang mana nosel-noselnya atau pipa-pipanya tersumbat oleh karat sehingga jumlah air tidak dapat terkontrol lagi.
  4. Bila air pengisi ketel tidak memenuhi syarat
  5. Bila boiler tidak dilakukan blow down dapat menimbulkan scall atau tidak sering dikunci.
  6. Terjadi pemanasan lebih karena kebutuhan produksi uap
  7. Tidak berfungsinya pompa air pengisi ketel
  8. Karena perubahan tak sempurna atau rouster, nozel fuel tidal berfungsi dengan baik.
  9. Karena umur boiler sudah tua sehingga material telah mengalami degradasi kualitas.

Dalam proses pembuatannya perlu dilakukan pemilihan material yang tahan korosi bila terlalu mahal atau tidak ada di pasaran maka dapat dipilih material dengan laju korosi yang paling lambat namun perlu dilakukan inspeksi secara berkala untuk menghindari terjadinya kebocoran atau ledakan.

SUMBER :

http://ilhamnurfajar13.blogspot.com/2015/06/keselamatan-pesawat-uap-dan-bejana.html

http://hseindonesia.info/2014/11/26/pengawasan-k3-pesawat-uap-dan-bejana-tekan/

 

 

 

 

SEJARAH DAN UNDANG-UNDANG KESEHATAN KESELAMATAN KERJA

 

  1. Definisi K3LH

Pengeritian dibagi menjadi 2 pengertian, yaitu

  1. Secara Filosofis

Suatu pemikiran atau upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani, tenaga kerja pada khususnya dan masyarakat pada umumnya terhadap hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adl dan makmur.

  1. Secara Keilmuan

Ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Pengertian K3LH adalah pengertian tentang Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup pada suatu perusahaan atau nstansi lain yang memiliki banyak pekerja atau karyawan. Pengertian K3LH Secara umum dan tujuannya dapat kamu baca lalu pahami di artikel ini. K3LH adalah singkatan dari Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup” yaitu mengenai program kesehatan dan Keselamatan kerja dan lingkungan hidup pada suatu perusahaan atau pada suatu instansi lain yang memempunyai banyak tenaga kerja/karyawan. Atau definisi k3LH yang lainnya adalah suatu upaya perlindungan agar karyawan/tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaannya di tempat kerja termasuk juga orang lain yang memasuki tempat kerja maupun proses produk dapat secara aman dalam produksinya.

 

  1. Sejarah K3LH

 

Sejarah perkembangan K3
Bahaya ditempat kerja telah mulai diidentifikasi oleh para ahli ilmu kedokteran tahun 1800-an Ramuzzini (1633 – 1714) dikenal sebagai Bapak Pengobatan Kerja (Occupational Medicine). Kematian dan cacat akibat kerja saat itu memang dianggap biasa, terutama dibidang pertambangan dan pertanian. Ramuzzini adalah orang yang merekomendasikan penyelidikan kedalam sejarah kesehatan pasien.

Dengan kemajuan revolusi industri, permesinan, alat mekanikal, dan listrik telah menjadi bagian yang integraldari kehidupan kita. Mekanisasi memberikan banyak keuntungan, tetapi diiringi pula dengan meningkatnya resiko, penyakit dan cedera pada orang yang terpapar padanya. Penggunaan bahan kimia juga tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahn pembersih, cat, perekat, bahan campuran hanyalah sedikit dari benda yang kita gunakan sehari-hari. Tetapi pembuatan dan pemakaian dari bahan-bahan ini bisa membahayakan tubuh kita, atau bisa menimbulkan resiko kebakaran. Dengan adanya hal-hal yang merugikan diatas maka timbullah program pencegahan bahaya-bahaya yang muncul ditempat kerja tersebut dalam bentuk Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Seiring dengan laju pertumbuhan manajemen modern, maka muncul apa yang disebut Manajemen Keselamatan Kerja.

Untuk dapat menuju suatu harapan yang lebih baik (selamat dan sehat) baik bersama keluarga tercinta, sahabat, tetangga, rekan kerja atau terhadap orang lain, seyogyanya kita berperilaku /tindakan yang aman seperti sopan santun, hormat menghormati dan mentaati norma-norma agama maupun norma keselamatan dan kesehatan. Sebelum kita berperilaku seperti tersebut diatas mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui efek yang dihasilkan dari/jika kita tidak berperilaku seperti tersebut diatas. Banyak kita dengar dan telah tertulis dikoran-koran atau media massa lainnya ada kecelakaan yang menimpa si A karena jatuh dari tangga yang tidak layak pakai lagi. Ada nona si Cantik ditemukan tewas tanpa busana disemak-semak, loh kok bisa. Gadis anak pak A hamil akibat hubungan gelap dengan sorang pemuda di kampungnya. Kemarin bus parawisata nyemplung ke sungai karena ingin menyalip kendaran didepannya 4 penumpangnya tewas ditempat dan lainnya luka parah. Seorang mekanik putus jari tangannya karena terjepit diantara besi penyangga. Banyak tamu terserang penyakit perut disalah satu pesta pernikahan. Dua dump truck bertabrakan di area penambangan mengakibatkan sopirnya luka parah. Seorang pekerja jatuh dan tewas dari atas scaffolding. Karena kecerobohan seorang electrical tidak mengisolasi kabel yang terbentang dijalan, maka seorang pekerja terkena sengatan arus listrik.
Kenapa semua contoh kecelakaan tersebut diatas harus terjadi ? tidak bisakah kita meniadakan atau minimal mengurangi dampak yang terjadi? Adakah usaha untuk itu ?. Prinsip keselamatan dan kesehatan adalah salah satu solusinya. Dengan menjalankan prinsip tersebut semua bahaya dan penyakit dapat dicegah. Semua, berarti tidak ada yang tidak bisa kita lakukan tuk meniadakan suatu kecelakaan. Dari tulisan ini dibuat untuk dapat menjadi bahan perenungan dan sebagai bahan pembelajaran tuk dapat mengenali dan mengendalikan segala macam bahaya yang dapat mengancam kita semua dari kecelakaan yang tidak diinginkan.

Undang Undang dibidang K3 sudah ada sejal tahun 1970 yaitu UU no. 1 tahun 1970 yang mulai diundangkan tanggal 12 Januari 1970 yang juga dijadikan hari lahirnya K3. Namun, hingga tahun 2000anlah K3 baru mulai banyak dikenal. Kemana saja selama ini regulasi K3 tersebut diatas? Ya, mati surilah kalau boleh dikatakan begitu. Kenapa mati suri? Karena belum ada kesadaran baik dari pihak pengusaha, pekerja bahkan dari pihak Depnakertrans sendiri sebagai pengawas. Kenapa belum ada kesadaran? Karena belum tertimpa insiden kecelakaan kerja. jadi, istilahnya menunggu bola, kalau dapat bola baru bergerak. Ini pola klasik, pola pecundang. Ini sebabnya negara kita tidak maju maju, karena masih dilandasi oleh pola berpikir yang tidak efektif tersebut. Kalau saja Depnakertrans bertindak tegas, bergerak cepat, tentu kemajuan implementasi K3, sudah lebih maju daripada yang ada sekarang ini.

Lalu bagaimana caranya mengimplementasikan K3? Jika anda perusahaan besar dengan jumlah karyawan 100 orang atau lebih atau sifat kerja organisasi anda yang mengandung bahaya atau resiko yang tinggi, maka wajib mengimplementasi SMK3 (Sistem Manajemen Keselamtan dan Kesehatan Kerja). Jika anda perusahaan kecil dan sifat kerjanya tidak mengandung bahaya atau resiko tinggi, maka anda hanya pekerjakan seorang safety officer atau ahli K3 umum. Karena, semua tempat kerja memiliki resiko atau bahaya. Itulah definisi tempat kerja menurut UU no.1 tahun 1970. Jadi, anda harus tetap waspada dengan bahaya laten ditempat kerja. Jika bukan baha fisik instan, tentu ancaman penyakit yang mungkin saja terjadi bertahun tahun kemudian.

Jadi, sudah saatnya pengusaha dan pekerja serta pihak depnakertrans sendiri sadar untuk lebih meningkatkan performa K3 di semua organisasi di Indonesia, karena angka kecelakaan kerja di Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara2 lainnya di Asia tenggara, bahkan di Asia. Angka yang dilaporkan pemerintahpun belum tentu angka konkrit. Masih banyak perusahaan2 yang tidak melaporkan insiden2 kecelakaan kerja yang terjadi ditempat kerjanya. Bahkan penghargaan zero accidentpun patut dipertanyakan metode penilaiannya.

 

  1. Peraturan Undang-undang tentang K3LH

K3LH telah wajib ditetapkan oleh pemerintah harus dilakasankan di setiap perusahaan untuk meminimalisir kecelakaan didalam lingkungan kerja. Adapun undanga-undang yang dibuat oleh pemerinah antara lain:

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 1 TAHUN 1970

TENTANG

KESELAMATAN KERJA

 

BAB II

RUANG LINGKUP

Pasal 2

  1. Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

 

  1. Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana:
  2. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan atau peledakan;
  3. dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau disimpan atau bahan yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi;
  4. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan perairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan.
  5. dilakukan usaha: pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan, pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan;
  6. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan : emas, perak, logam atau bijih logam lainnya, batu-batuan, gas, minyak atau minieral lainnya, baik di permukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan;
  7. dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di darat, melalui terowongan, dipermukaan air, dalam air maupun di udara;
  8. dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga, dok, stasiun atau gudang;
  9. dilakukan penyelamatan, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air;
  10. dilakukan pekerjaan dalam ketinggian diatas permukaan tanah atau perairan;
  11. dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah;
  12. dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan, terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting;
  13. dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur atau lobang;
  14. terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, suhu, kotoran, api, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran;
  15. dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah;
  16. dilakukan pemancaran, penyinaran atau penerimaan radio, radar, televisi, atau telepon;
  17. dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset (penelitian) yang menggunakan alat teknis;
  18. dibangkitkan, dirobah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik, gas, minyak atau air;
  19.  diputar film, pertunjukan sandiwara atau diselenggarakan reaksi lainnya yang memakai peralatan, instalasi listrik atau mekanik.

 

  1. Dengan peraturan perundangan dapat ditunjuk sebagai tempat kerja, ruangan-ruangan atau lapangan-lapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja atau yang berada di ruangan atau lapangan itu dan dapat dirubah perincian tersebut dalam ayat (2).

BAB III

SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA

Pasal 3

  1. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:
  2. mencegah dan mengurangi kecelakaan;
  3. mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
  4. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
  5. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
  6. memberi pertolongan pada kecelakaan;
  7. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
  8. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar radiasi, suara dan getaran;
  9. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan.
  10. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
  11. menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;
  12. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
  13. memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
  14. memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya;
  15. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang;
  16. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
  17. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang;
  18. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
  19. menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

 

  1. Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi serta pendapatan-pendapatan baru di kemudian hari.

Pasal 4

  1. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang, produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
  2. Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi, bahan, pengolahan dan pembuatan, perlengkapan alat-alat perlindungan, pengujian dan pengesyahan, pengepakan atau pembungkusan, pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan, barang, produk teknis dan aparat produk guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri, keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum.

 

  1. Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut dalam ayat (1) dan (2); dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan mentaati syarat-syarat keselamatan tersebut.

sumber :

https://roysarimilda.wordpress.com/tag/sejarah-k3/

http://bibimnugroho.blogspot.com/

http://mgunturborneo.blogspot.com/2014/01/pengertian-tujuan-dan-undang-undang.html

 

DEFINISI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

menurut ILO.

Suatu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesejahtaraan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang diadaptasikan dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi; dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada jabatannya.

Menurut Mangkunegara (2002, p.163) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur. Menurut Suma’mur (2001, p.104), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Mangkunegara (2002, p.170), bahwa indikator penyebab keselamatan kerja adalah:
a) Keadaan tempat lingkungan kerja, yang meliputi:
1. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya yang kurang diperhitungkan keamanannya.
2. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak
3. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
b) Pemakaian peralatan kerja, yang meliputi:
1. Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
2. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik Pengaturan penerangan.

Tujuan Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja :

Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja, atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau mengadakan pengawasan yang ketat. (Silalahi, 1995).

Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak. Menurut Mangkunegara (2002, p.165) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

  1. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
    b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif mungkin.
    c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
    d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
    e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
    f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.
    g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI TENAGA KESEHATAN

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Tenaga kesehatan yang perlu kita perhatikan yaitu semua tenaga kesehatan yang merupakan suatu institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan yang cukup besar. Kegiatan tenaga atau petugas kesehatan mempunyai risiko berasal dari faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kesehatan dan keselamatan kerja. Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi sarana dan prasarana, maka risiko yang dihadapi petugas tenaga kesehatan semakin meningkat. Petugas atau tenaga kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan terhadap masalah kesehatan yang merupakan kendala yang dihadapi untuk setipa tahunnya. Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat – alat kesehatan, berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase yang mematikan, dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukan ke jaringan hewan percobaan. Oleh karena itu penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor / Aspek Kesehatan.

 

MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA 
Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.

  1. Kapasitas Kerja

Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30– 40% masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja.

  1. Beban Kerja

Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 – 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres.

  1. Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases).

IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI TENAGA KESEHATAN DAN PENCEGAHANNYA

  1. Kecelakaan Kerja.

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Biasanya kecelakaan menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat. Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :

  • Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban pasien
  • Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu sendiri.

 

Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:

  • Peralatan / Media Elektronik, Bahan dan lain-lain
  • Lingkungan kerja
  • Proses kerja
  • Sifat pekerjaan
  • Cara kerja
  1. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia, yang dapat terjadi antara lain karena:
  • Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
  • Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect)
  • Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
  • Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik

Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di Tempat Kerja Kesehatan :
1. Terpeleset , biasanya karena lantai licin.

Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di Tempat Kerja Kesehatan.

  1. Mengangkat beban

Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat, terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi.

 

Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di Tempat Kerja Kesehatan

Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO).
Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja, Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. Menurut Komite Ahli WHO (1973), Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah “penyakit dengan penyebab multifaktorial, dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat, mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit.

Penyakit akibat kerja di Tempat Kerja Kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien); faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada kulit, zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati; faktor ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat pasien salah); faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi, radiasi dll.); faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien, gawat darurat, karantina dll.)
1) Faktor Biologis.

Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman pyogenic, colli, bacilli dan staphylococci, yang bersumber dari pasien, benda-benda yang terkontaminasi dan udara. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan, misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar, sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen, debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi.

Pencegahan :

  • Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan, epidemilogi dan desinfeksi.
  • Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat badani, punya cukup kekebalan alami untuk bekerja dengan bahan infeksius, dan dilakukan imunisasi.
  • Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar.
  • Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat, peralatan, sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar
  • Pengelolaan limbah infeksius dengan benar
  • Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai.
  • Kebersihan diri dari petugas.

2) Faktor Kimia.

Petugas di tempat kerja kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika, demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik, desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik ( trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan kematian. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar.
Pencegahan :

  • ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas untuk petugas atau tenaga kesehatan laboratorium.
  • Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol untuk petugas / tenaga kesehatan laboratorium.
  • Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan, celemek, jas laboratorium) dengan benar.
  • Hindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata dan lensa.
  • Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.

 

3) Faktor Ergonomi.

Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job
Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah, bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tenaga operator peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain).

 

4) Faktor Fisik
Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:

  • Kebisingan, getaran akibat alat / media elektronik dapat menyebabkan stress dan ketulian
  • Pencahayaan yang kurang di ruang kerja, laboratorium, ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja.
  • Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja
  • Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar.Terkena radiasi
  • Khusus untuk radiasi, dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan, penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani.

Pencegahan :

  • Pengendalian cahaya di ruang kerja khususnya ruang laboratorium.
  • Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai.
  • Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi
  • Pengaturan jadwal kerja yang sesuai.
  • Pelindung mata untuk sinar laser
  • Filter untuk mikroskop untuk pemeriksa demam berdarah
  1. Faktor Psikososial.

Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress :

  • Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang. Untuk itu pekerja di tempat kerja kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan
  • Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton.
  • Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman Bebanmental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal.

 

 

 

PENGENDALIAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DAN KECELAKAAN MELALUI PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

  1. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara lain :
  • UU No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non kesehatan
  • UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
  • UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
  • Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.
  • Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahayaPeraturan/persyaratan pembuangan limbah dll.
  1. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain :
  • Persyaratan penerimaan tenaga medis, para medis, dan tenaga non medis yang meliputi batas umur, jenis kelamin, syarat kesehatan
  • Pengaturan jam kerja, lembur dan shift
  • Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya
  • Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler, alat-alat radiology, dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan
  • Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya.

 

  1. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control) antara lain :
  • Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja
  • Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung)
  • Perbaikan sistim ventilasi, dan lain-lain

 

  1. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control)

Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Dengan deteksi dini, maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi:

 

  1. Pemeriksaan Awal

Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya.
Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi :

  • Anamnese umum
  • Anamnese pekerjaan
  • Penyakit yang pernah diderita
  • Alrergi
  • Imunisasi yang pernah didapat
  • Pemeriksaan badan
  • Pemeriksaan laboratorium rutin
  • Pemeriksaan tertentu:
  • Tuberkulin test
  • Psikotest
  1. Pemeriksaan Berkala

Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.

 

 

  1. Pemeriksaan Khusus

Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern di Tempat Kerja Kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan preventif. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja atau masyarakat disekitarnya, meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan sebagainya.

Kesehatan dan keselamatan kerja di Tempat Kerja Kesehatan bertujuan agar petugas, masyarakat dan lingkungan tenaga kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggung-jawab terhadap kesehatan masyarakat, memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja kesehatan serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3 tersebut.

 

Sumber :

https://arisetiabudiblog.wordpress.com/2013/06/20/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3-definisi-indikator-penyebab-dan-tujuan-penerapan-keselatan-dan-kesehatan-kerja/

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/10/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-k3.html

http://ppnisardjito.blogspot.com/2012/06/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-bagi.html